Ketik disini

Feature

Manggung di Hajatan Anak Kapolres sampai Universitas

Bagikan

Jam terbang kelompok jaranan buto para pekerja migran Banyuwangi di Malaysia sudah tinggi meski belum genap dua tahun terbentuk. Telah dibentengi agar tak diklaim jadi milik negeri jiran tersebut.

***

BAMBANG dan Ndari tampak mulai ngos-ngosan. Beberapa kali mereka berhenti menari. Kakinya berdiri tegak. Menggamit jaranan kulit. Tepat di bawah selangkangan. Hanya tangannya yang tampak sibuk. Menyeka cucuran keringat sebiji-biji jagung di wajahnya.

Begitu napas kembali normal dan wajahnya bersih dari keringat, mereka kembali beraksi. Menarikan agedakan sabetan bersama Ahamd Azis dan Ipung.

Gerakan kaki dan tangannya tetap lincah. Mengikuti tetabuhan yang timpal-menimpal. Irama bonang, saron, gendang, trompet, ditambah drum dan sepasang gitar listrik terus mengalun ritmik. Mengiringi lagu Gerajagan dan Ancur Lebur.

Suara lengking sinden Rini Nurhayati makin membakar semangat Bambang dkk. Mereka terus memainkan beberapa formasi tarian. Formasi jaranan buto selesai disambung kucingan. Lalu diakhiri perang barongan. Di sela-sela kucingan dan perang barongan, tarian gandrung menyelingi.

A� Begitulah, setiap hari Minggu seluruh anggota sanggar kesenian tradisional jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� Malaysia giat berlatih di sekretariat mereka di Jalan H Abdul Latif, Kampung Bukit Kapar, Selangor.

Anggotanya beragram profesi. Mulai buruh konstruksi, buruh perkebunan kelapa sawit, tukang las, dan sebagainya. Bahkan, sindennya, Rini Nurhayati, 47, merupakan dukun bayi terkenal di Selangor.

A�Profesi mereka boleh beragam. Tapi, jiwanya tetap satu: seniman. Kecintaan pada seni itulah yang mendorong mereka menafikan jarak puluhan kilometer ke sekretariat yang berada tepat di bibir hutan kelapa sawit. Di sebuah bangunan kecil pemberian generasi kedua sesepuh Banyuwangi yang tinggal di negeri jiran tersebut.

A�Sanggar kesenian tradisional jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� dibentuk Mei 2014. Berawal dari sesepuh jaranan Banyuwangi di Malaysia, Mbah Paimun. Dia membuat sepasang gong dan bonang. Bahannya tong bekas yang dilas.

Meski bunyinya tidak sesempurna gong dan bonang yang asli, irama dua alat itu ditambah trompet jaranan dan gendang milik Paimun cukup ampuh membakar semangat berlatih para penari jaranan. Animo itu membuat ketua sanggar jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Aruma��a�� Ahmad Azis nekat pulang ke Banyuwangi. Membeli beberapa perangkat gamelan jaranan di daerah asalnya: Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Karena uangnya terbatas, dia akhirnya membeli gamelan jaranan bekas berumur 80 tahun. Terdiri atas sepasang gong, sepasang bonang, satu kendang, dan 10 pecut.

Perangkat jaranan itu dia bawa sendiri. Begitu mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur, dia diperiksa petugas imigrasi. a��a��Saya diurus lama sekali. Ditanya alat apa yang dibawa dan untuk apa,a��a�� kata Azis yang juga ketua Ikawangi (Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi) Malaysia.

Pembina Ikawangi Malaysia Irzal Maryanto Ashaby menambahkan, pemerintah Malaysia tahunya jaranan itu makan beling dan binatang hidup saat kesurupan. Jadi, sangat sensitif.

a��a��Saya yakinkan kepada aparat Malaysia bahwa jaranan buto Banyuwangi itu murni tarian. Tidak ada unsur-unsur mistisnya. Akhirnya, mereka paham dan bisa menerima,a��a�� ujar lare Oseng yang baru promosi menjadi general manager perusahaan kargo asal Malaysia, MS Cargo, tersebut.

A�Kerja keras trio Paimun, Azis, dan Kang Yanto itu membuahkan hasil. Tidak sampai dua tahun, jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� makin mendapat tempat di Malaysia. Tak cuma di hati rakyat, melainkan juga pejabatnya.

Misalnya, Sabtu (14/5) jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� tampil spesial. Diundang tampil dalam hajatan perkawinan anak Kepala Kepolisian (semacam Kapolres, Red) Teluk Panglima Garang, Selangor, Sub Inspektur (SI) Tuan Zulkifli.

A�Yang istimewa, Azis dkk dipercaya tampil dalam satu paket: mengarak mempelai dari gerbang kantor polisi menuju ke kediaman Kapolres yang menjadi lokasi hajatan. a��a��Sebelum sepasang pengantin naik ke singgasana pelaminan, jaranan buto Banyuwangi diberi kesempatan melakukan atraksi,a��a�� tutur Kang Yanto via WhatsApp.

Sebelumnya, jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� berkali-kali tampil dalam acara hajatan. Tapi, yang mengundang warga biasa.

A�Selain itu, mereka pernah diundang manggung oleh Limkokwing Universiti Kebangsaan Malaysia. Momen lain yang tidak bisa dilupakan anggota jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� adalah ketika tampil di Putrajaya International Hot Air Balloon Fiesta (PIHABF) pertengahan Maret lalu. Tentu saja mereka tampil mewakili Indonesia. Khususnya Kementerian Pariwisata.

A�Eksistensi dan kontribusi nyata jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� mendapat perhatian khusus dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Malaysia. Buktinya ada dua.

Pertama, kehadiran langsung Dubes RI untuk Malaysia Marsekal TNI (pur) Herman Prayitno dalam acara peresmian jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� pada 1 Desember 2014. Kedua, KBRI telah menghibahkan seperangkat gamelan bekas kepada sanggar jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� pada 7 Mei lalu.

A�Melihat antusiasme Malaysia, apakah tidak takut jaranan buto pada masa mendatang diklaim milik Malaysia seperti reog? Dengan diplomatis, Kang Yanto menegaskan, ketakutan itu tidak akan pernah terjadi.

Sebab, dia dan seluruh pengurus Ikawangi Malaysia sudah membentenginya. Caranya: selalu mencantumkan sekaligus mengumumkan nama jaranan buto Banyuwangi a��a��Sekar Wangia��a�� Malaysia ketika tampil. a��a��Memang ada nama Malaysianya. Tapi, kan di belakang nama Banyuwangi dan Sekar Wangi. Jadi, aman kan,a��a�� ujarnya berkelakar. (SAMSUDIN ADLAWI,/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *