Ketik disini

Headline Kriminal

Mantan Menkop Bantah Bantah Ada Gratifikasi

Bagikan

MATARAM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB memangil saksi terkait kasus dugaan suap pembangunan Sistem Resi Gudang (SRG) di Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim) kemarin (19/5).

Yakni,A� mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Adi Sasono dan mantan Direktur iPasar Dean Novel. Keduanya diperiksa terpisah.

Adi Sasono dimintai keterangan di ruang jaksa Dwi Antoro. Sementara, Novel di ruang jaksa Elly Rahmawati.Pemeriksaan keduanya ini berkaitan dengan dugaan suap pembangunan SRG. Karena, ada indikasi gratifikasi kepada oknum pejabat Lotim.

Keduanya mulai diperiksa sejak pukul 09.00 Wita. Adi Sasono datang mengunakan kemeja putih dipadu celana hitam. Sementara, Novel baju batik dengan motif bunga.Usai diperiksa sekitar pukul 14.00 Wita Adi Sasono yangA� ditanya wartawan, terkait pemeriksaan tersebutA� hemat bicara.

a�?Kalian kan sudah tahu,a�? katanya sambil tersenyum, kemarin(19/5).

Disinggung terkait adanya dugaan suap, Adi Sasono menegaskan, tidak ada. Menurut dia, uang itu berstatus pinjaman dan sudah dikembalikan. Terkait keperluan pinjaman, ia tidak mengetahui. Sebab, saat itu dirinya menjabat sebagai komisaris, sehingga tidak tahu banyak tentang pinjaman tersebut.

a�?Untuk apa (pinjaman), tanya direksi, saya kan komisaris,a�? ujar dia.

Ia juga tidak mengetahui secara persis kepada siapa pinjaman itu diberikan. a�?Saya nggak tahu. Apakah ke oknum mantan bupati, saya nggak tahu,a�? tandasnya.

Sementara, mantan Direktur iPasar Dean Novel mengaku, agak bingung dengan kasus ini, apalagi dikaitkan dengan dugaan suap. Menurut dia, dalam kasus ini yang dipersoalkan mengenai dana pinjaman kepada mantan bupati saat itu.

a�?Dari sisi kami, yang dipermasalahkan itu justru pinjaman. Pinjaman itu sudah lunas dan selesai,a�? kata dia sambil menegaskan dirinya sudah resign dari iPasar, kemarin(19/5).

Terkait pinjaman menggunakan cek, Novel mengaku sudah dilunasi. Pengembalian terakhir itu sebelum dirinya keluar dari iPasar.

a�?Setahu saya sudah dikembalikan. Yang pertama 1,1 miliar. Buktinya semua ada di bank,a�? sebutnya.

Menurut itu, uang dengan status pinjaman itu diserahkan atas nama pribadi, bukan pemda. Kala itu, mantan bupati langsung mengembalikan.

a�?Beliau kembalikan pada tahun yang sama (saat pinjaman). Bukan dikembalikan setelah selesai pekerjaan SRG,a�? tegas dia.

Mengenai pinjaman RpA� 500 juta, Novel tidak menampiknya. Pinjaman itu memang untuk kepentingan instalasi listrik. Tapi, uang itu sudah dikembalikan. Status uang itu sesuai perjanjian, sambung dia, pinjaman pribadi. Salah satu dalam perjanjian itu disebutkan instalasi listrik.

a�?Memang ada yang dipakai untuk listrik. Tapi tidak keselurahan. Hanya bagian kecil saja,a�? tegas dia.

Apakah uang pinjaman berkaitan dengan perizinan, Novel membantahnya. Ia menegaskan, saat itu perizinan mendapat kemudahan. Semua berjalan wajar. Pemberian uang itu bukan untuk memulus perizinan.

a�?Kalau izin tidak macam-macam,a�? tegas dia.

Terkait proses kerjasama iPasar dengan SRG, ia tidak mengetaui berjalan atau tidak. Sebelum beroperasi, Novel mengaku sudah keluar akhir 2011. Lebih lanjut, ia mengaku, bingung dengan kasus ini. Ia sama sekali tidak mengetahui dan dibagian mana ada indikasi suap tersebut.

a�?Saya ditanyakan soal itu oleh jaksa,a�? terang dia.

Ketika ditanya jaksa soal pinjaman, Novel menegaskan, memang benar. Tapi, semuanya sudah dikembalikan oleh mantan bupati.

a�?Memang saya banyak jawab lupa tadi (kemarin), tertama masalah waktu, karena sudah lama saya tinggalkan iPasar,a�? akunya.

Ia menambahkan, sebelumnya pernah diperiksa Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Pemeriksaan itu berkaitan dengan kasus yang sama.

a�?Saya harus bantu mereka dalam kasus ini, makanya saya hadir,a�? kata dia sambil menjelaskan dirinya akan diperiksa lagi hingga sore.

Terpisah, Asspidsus Kejati NTB Suripto Irianto mengaku membenarkan pemeriksaan mantan Menteri Koperasi dan UKM, serta mantan Direktur iPasar.

a�?Benar, ada dua orang yang kami mintai keterangan hari ini (kemarin),a�? kata dia kepada wartawan, kemarin(19/5).

Ia menjelaskan, kasus ini limpahan dari KPK. Saat ini, pihaknya tengah meminta keterangan pihak terkait. Dalam penanganan kasus ini, kata dia, tidak ada yang spesial. Penanganan dilakukan seperti perkara lainnya.

a�?Tidak ada perkara yang sifatnya lebih khusus. Semua akan kita tangani berdasarkan procedural,a�? jelasnya.

Suripto menjelaskan, kasus ini sudah menjadi kewenangan penuh kejati. Kendati demikian, Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) tetap akan dilaporkan kepada KPK. Sebelum kasus ini dilimpahkan, lanjut dia, pihaknya melakukan ekspose di KPK. Ekspos itu dihadiri pihak dari Kejaksaan Agung.

a�?KamiA� tetap memeriksa kembali orang yang sudah diperiksa di KPK,a�? beber dia.

Menurut dia, pemeriksaan ulang ini untuk kepentingan penyelidikan. Ada beberapa saksi yang telah dimintai keterangan oleh tim penyelidikan kejati.

a�?KPK melimpahkan kasus itu ke Kejati NTB sebagai bentuk efisiensi. Pasalnya, locus delikti kasus itu berada di wilayah NTB,a�? tandas dia.

Diketahui, berdasarkan data LPSE Lotim, pembangunan gudang SRG di Desa Pringgabaya Utara, kecamatan Pringgabaya pagu anggarannya Rp 3,7 miliar. Proyek itu dikerjakan melalui Dinas ESDM, Perindustrian, dan Perdagangan Tahun AnggaranA� 2012.

Sementara, gudang SRG ini diresmikan Selasa 24 Desember 2013. Saat itu, hadir Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappbti) Kementerian Perdagangan Sutriono Edi. (arl/jlo/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *