Ketik disini

Headline Metropolis

Kota Mataram Nomor Satu

Bagikan

MATARAM – Mungkin hidup di kawasan perkotaan tidaklah seindah yang dibayangkan banyak orang. Persaingan hidup yang ketat, gaya hidup mewah, dan tekanan pekerjaan A�tak jarang membuat orang mengalami depresi. Bahkan beberapa orang harus mengalami stres atau gangguan jiwa sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Dari data RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB tahun 2015, tercatat sebanyak 3.932 pasien yang dirujuk dari puskemas di Kota Mataram. Jumlah ini merupakan tertinggi. Kemudian diikuti Lombok Barat dengan jumlah 3.912 orang, Lombok Tengah 2.931 orang, dan Lombok Timur 1.034.

Sedangkan untuk 2016 sampai April berdasarkan data RSJ Mutiara Sukma, Mataram 46 orang, Lombok Timur 82 orang, Lombok Barat 50 orang, Lombok tengah 76 orang, dan Lombok UtaraA�A�A� 24 orang. “Dari tahun ke tahun, kunjungan (RSJ) selalu meningkat,” kata Direktur RSJ Mutiara Sukma NTB dr Elly Rosila Wijaya.

Dijelaskan, untuk penyebab pasti gangguan jiwa harus dilakukan penelitian. Tapi secara umum faktor penyebab gangguan jiwa di perkotaan maupun pedesaan sama, yakni masalah ekonomi.

Hanya saja, faktor penyebab gangguan di wilayah perkotaan lebih bervariasi. Mulai dari masalah ekonomi seperti pengangguran, persaingan hidup yang ketat dan gaya hidup mewah. Namun tidak didukung kemampuan finansial, konflik sosial kemasyarakatan hingga tekanan pekerjaan.

a�?Kalau di pedesaan lebih sederhana. Bisa saja karena faktor gagal panen, padahal biaya hidup tinggi untuk makan ataupun biaya sekolah anak di kota. Namun pada prinsipnya sebenarnya sama dengan di kota,a�? jelasnya.

Meski jumlah pasien penderita gangguan jiwa yang mengunjungi RSJ meningkat, Elly tidak berani menyatakan kalau setiap tahun penderita gangguan jiwa meningkat. Menurutnya, yang berhak mengeluarkan pernyataan tersebut adalah Kementerian Kesehatan. Pihak RSJ hanya bisa memberikan informasi terkait jumlah pasien yang berobat ke RSJ atau pengunjung yang meningkat tiap tahun.

Namun, semakin banyak jumlah pasien yang berobat ke RSJ, ini dinilai semakin bagus. Karena masyarakat semakin sadar kalau gangguan kejiwaan itu adalah penyakit. Bukan aib seperti yang selama ini banyak dianggap.

Elly mengatakan ada dua penyebab orang mengalami gangguan jiwa. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa disebabkan oleh genetis. Sedangkan faktor eksternal bisa disebabkan oleh lingkungan, pendidikan yang kurang, pengalaman hidup, kurang kuat mental hingga tingkat kematangan pribadi.

Oleh karena itu, semakin matang mental sesorang maka peluang untuk mengalami gangguan kejiwaan bisa terhindar. Selain itu, pendidikan yang tinggi, dan wawasan yang luas juga bisa menghindarkan seseorang dari masalah kejiwaan.

Untuk menekan kasus kejiwaan berat, Elly mengimbau keluarga atau lingkungan masyarakat untuk mengenali beberapa gejala-gejala atau tanda orang mulai mengalami gangguan kejiwaan.

Seperti, A�fungsi perannya terganggu, perawatan diri tidak terurus, hingga gangguan fungsi sosial. Untuk itu, keluarga harus cepat mengenali gejala ini agar bisa segera membawa yang bersangkutan ke Puskesmas atau RSJ. Karena jika dibiarkan terlalu lama, gejala ini akan terus memperparah kondisi kejiwaan seseorang. a�?Kalau dia frontal ngamuk-ngamuk kan mudah diketahui. Kalau dia diam mengurung diri pelan-pelan ini akan sulit ditangani. Penyembuhannya membutuhkan waktu yang lebih lama,a�? jelasnya. (ton/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *