Ketik disini

Headline Kriminal

Hukuman Kebiri Saja Dianggap Belum Cukup

Bagikan

Kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak seakan tak pernah usai. Di NTB korban terus berjatuhan. Para pelaku semakin tak pandang bulu. Bahkan para pelaku adalah orang-orangA� sekitar yang sejatinya akrab dengan korban. Kenapa bisa begini?

***

AkhirA� pekan kemarin setidaknya dua kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur mencuat. Di Kelurahan Prapen, Praya Lombok Tengah (Loteng) seorang bocah perempuan berusia sekitar lima tahun diduga menjadi korban pencabulan. Polisi menyebut terduga pelakunya tak lain adalah tetangganya sendiri yang sudah lanjut usia. Usianya sekitar 65 tahun. Kasus tersebut kini sedang ditangani Polsek Praya.

Kasus dengan korban lebih banyak lagi terjadi di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Disini bukan hanya korban saja yang masih di bawah umur. Terduga pelaku juga masih duduk di bangku SMP.A� Remaja 16 tahun ini diduga mencabuli empat bocah ingusan. YakniA� tiga pelajar sekolah dasar, GM, 9 tahun, RP, 8 tahun, dan SM, 9 tahun. Satu lagi berinisial Hi, berumur 5 tahun. Seluruh korban ini berasal dari Desa Sesaot.

Seperti kasus yang terjadi di Praya, pelaku dan korban saling mengenal dengan baik. Mereka bertetangga. NamunA� aksi pelajar SMP ini lebih memperihatinkan. Akses terhadap video porno telah merusak otaknya. Hal ini seperti diterangkan Kapolsek Narmada Kompol Setia Wijatono yang menyebut sebelum beraksi pelaku disebut mempertontonkan video porno kepada para korbannya.

Kasus ini belum termasuk aksi para pemangsa yang mengincar pelajar tingkat SMA untuk dibawa ke jurang hitam bisnis prostitusi. Hal ini terungkap dalam aksi penangkapan yang dilakukanA� Subdit IVA� Polda NTBA� Sabtu (7/5) lalu. Saat itu seorang perempuan asal Ampenan berinisial UM, 37 tahunA� kini diringkus atas tuduhan sebagai mucikari yang kerap menjual siswi SMA kepada lelaki hidung belang. UM diduga telah lama memangsa para pelajar. Industri pariwisata di NTB menjadi ladang subur bagi para mucikari seperti UM untuk a�?memasarkana�? gadis-gadis belia itu.

a�?Pelaku ini lebih melayani pemesanan anak SMA dari umur 17 tahun hingga 18 tahun,a�? Kasubdit IV Ditreskrimum Polda NTB AKBP I Putu Bagiartana.

Rentetan kasus ini seperti menambah panjang daftar kasus kekerasan seksual terhadap anak di NTB. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB menyebut selama tahun 2015 pihaknya menangani ratusan kasus seperti ini. Bahkan lima bulan terakhir tercatat ada 30 kasus masuk ke meja LPA. Ini kasus yang terdata. Bisa jadi masih banyak tumpukan kasus lain yang belum dilaporkan.

Karena itulah LPA mendorong pemerintah untuk lebih serius dan memikirkan solusi terbaik untuk menghadapi kasus pedofila yang semakin marak terjadi.

a�?Jujur, LPA sendiri sudah kewalahan menghadapi kasus pedofil di NTB yang semakin banyak,a�? ungkap Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi.

a�?Korban juga tidak pernah mendapatkan perhatian khusus,a�? terangnya.

Joko ingin sekali mengajak pemerintah untuk berpikir bersama dalam penanganannya. Baik itu secara represif maupun preventif.

a�?Kita harus mulai berpikir untuk membuat sistem untuk menekan terjadinya kasus pedofil. Dari hulu hingga hilir,a�? ungkapnya.

Saat ini pria berdarah jawa itu mencari solusi untuk memberikan pendampingan kepada para korban. Untuk melakukan itu lanjutnya, Ia telah bekerjasama dengan beberapa psikolog anak. A�Langkah itu untuk meringankan beban anak yang menjadi korban.

a�?Saat ini baru ada dua psikolog yang dengan sukarela bergabung membantu kami,a�? sambungnya.

Pengawasan Keluarga Penting

Di tempat terpisah, Sosiolog Dwi Chaniago menerangkan, kontrol sosial masyarakat saat ini masih lemah. Hal itu diyakini menjadi celah masuknya para predator seksual anak-anak.

A�a�?Biasanya, orang tua lebihA� merasa aman dan nyaman ketika anak bermain dengan orang yang dikenal. Tanpa mereka mengetahui latar belakang pendidikannya,a�? ungkapnya.

Hal seperti itu lanjutnya, bisa memberikan ruang gerak bagi predator untuk memuluskan aksinya. Selain itu, Faktor lingkungan sosial juga berpengaruh terhadap regenerasi perilaku pedofilia. Artinya,A� kondisi masyarakat yang memiliki kesadaran (awareness) yang lemah dan apatis menjadi pendorong para pelaku untuk menciptakan regenerasinya.

a�?Saya melihat pemahaman keluarga untuk membekali pengetahuan seksualitas secara proporsional kepada anak masih kurang,a�? ungkapnya.

Terlebih lagi kecenderungan keluarga korban menutupi kasus kejahatan seksual untuk menutupi aib keluarga. Bahkan mencari penyelesaian di luar hukum formal. Sehingga pada akhirnya takut melapor kepada kepolisian. Hal itu turut memberi andil terhadap berlanjutnya mata rantai predator anak.

Hukuman Kebiri Dirasa Kurang Efektif

Untuk memberikan efek jera bagi para predator, pemerintah rupanya sedang menyiapkan aturan Dikebiri bagi pelaku pedofil. Namun, hukuman itu masih menjadi perdebatan hangat di negara ini. Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi sendiri setuju dengan hukuman tersebut. Namun menurutnya, efektifitas untuk memberikan rasa jera bagi pelaku itu masih dipertanyakan.

Artinya, mampukah hukuman itu menjamin seseorang untuk tidak mengulang lagi perbuatannya itu atau tidak. Itu yang menjadi pertanyaan besar.

Joko berpendapat, khusus untuk kasus pedofila, efek jera bagi para pelaku itu kemungkinan besar tidak akan bisa tercapai. Pasalnya, A�tindakan yang diberikan kepada para predator bukan pada akibat hukumannya. Melainkan, bermasalah pada psikologinya.

a�?Yang menjadi tolok ukur efek jera itu terdapat pada dalam diri masing-masing orang,a�? jelasnya.

a�?Banyak juga pelaku yang tidak secara aktif menggunakan kelamin. Malah mereka menggunakan beberapa alat,a�? ungkapnya.

Artinya, selain memberikan hukuman, psikologis pelaku juga harus dibenahi. Sehingga para sadar dan tidak menjelma lagi menjadi seorang predator.

a�?Pendekatan psikologis ini sangat penting untuk memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada seluruh pelaku,a�? ungkapnya.

Terpisah, Sosiolog Dwi Chaniago menilai, kejahatan seksual terhadap anakl ini sudah termasuk dalam kejahatan luar biasa. Artinya, harus ada tindakan represif kepada pelaku sebagai pemberi efek jera.

a�?Hukuman Kebiri mungkin cocok bagi pelaku Pedofil,a�? imbuhnya.

Pemberlakuan hukum kebiri sebagai pendekatan represif harus disertai dengan pendekatan restitutif dimana peran serta masyarakat sebagai alat kontrol sosial dalam menteksi dini kondisi patologis seksual di lingkungannya.

a�?Hal harus dimulai pada level terendah dalam masyarakat, yakni keluarga,a�? ujarnya. (arl/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *