Ketik disini

Giri Menang Headline

Lobar Darurat Peredaran Miras

Bagikan

Peredaran minuman tradisional beralkohol di Lombok Barat cukup mengkhawatirkan. Selama pelaksanaan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) yang dilakukan Polres Lombok Barat, ditemukan 52 kasus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kasus judi dan prostitusi, yang berjumlah 13 dan satu kasus.

***

BELUM lama ini, Lombok Barat (Lobar) digemparkan peristiwa pesta minuman keras (miras). Mirisnya, pesta miras ini dilakukan sejumlah pelajar SMA sederajat yang masih duduk di kelas X dan XI.

Tak sampai di sana, Lobar seolah-olah dikepung dengan minuman tradisional beralkohol. Keberadaannya semakin marak.

Kepolisian pun tidak tinggal diam. Kapolres Lobar AKBP Wingky Adhityo Kusumo mengatakan, pihaknya terus berupaya memberantas penyakit yang ada di masyarakat. Salah satunya dengan menekan peredaran minuman tradisional beralkohol. a�?Kalau dibiarkan bisa meresahkan masyarakat lain,a�? kata Wingky beberapa waktu lalu.

Intruksi Kapolres Lobar untuk menekan peredaran miras terlihat di lapangan. Minggu (8/5) lalu, Polsek Kediri menyita 450 liter miras tradisional jenis tuak. Seluruh minuman ini dibawa enam orang dengan menggunakan 15 jerigen.

Selain itu, mereka menyita minuman beralkohol golongan A berbagai merk, sebanyak 55 botol dari sebuah kafe di Kuripan. Tentunya ini menyalahi Perda Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penjualan Minuman Beralkohol. Dimana dalam perda tersebut telah mengatur zonasi untuk penjualan minuman beralkohol.

Tuak yang diamankan petugas, kata Kapolsek Kediri AKP Nuraini, diambil dari Lingsar. Dari pengakuan pelaku, seluruh tuak hendak dijual kembali di wilayah Jagaraga dan Lombok Tengah. a�?Untuk dijual kembali ke Jagaraga dan wilayah Lombok Tengah,a�? kata Nuraini.

Beranjak ke wilayah Narmada. Di minggu kedua Mei, Polsek Narmada mengamankan ribuan liter minuman beralkohol tradisional. Selasa (10/5), petugas melakukan penggerebekan di rumah NR (inisial, Red), 50 tahun di Desa Suranadi.

Polisi menduga, rumah digunakan sebagai tempat produksi minuman beralkohol tradisional. Benar saja, dari dalam rumah NR, petugas melihat belasan drum yang berisi ribuan liter brem. a�?Ada sekitar 1.650 liter brem yang ditampung di dalam drum,a�? kata Widjatono, Senin (10/5).

Tak lama kemudian, petugas menyisir rumah lainnya. Masih di Desa Suranadi, petugas mendatangi rumah AS, 32 tahun. Sama dengan NR, rumah AS pun diduga sebagai tempat produksi miras tradisional.

Dari rumah AS ini, petugas mengamankan 450 liter brem yang siap edar. a�?Langsung kita angkut dan bawa ke mapolsek,a�? kata Kapolsek Narmada Kompol Setia Widjatono.

Selang dua hari, Kamis (12/5), petugas Polsek Narmada kembali menyasar rumah-rumah produksi minuman tradisional beralkohol. Sasaran petugas kali ini adalah GS (inisial, Red), 33 tahun.

Widjatono mengatakan, telah melakukan pemantauan terhadap aktivitas GS. Pemantauan ini pun berdasarkan informasi yang diberikan masyarakat.

Karena itu, sekitar pukul 14.20 Wita, Kamis (12/5), tim opsnal Polsek Narmada dibantu Sabhara Polres Mataram bergerak. Petugas mendatangi kediaman pelaku di Dusun Suranadi Selatan, Desa Suranadi.

Penggerebekan ini pun membuahkan hasil. Petugas menemukan enam gentong berisi brem. Masing-masing gentong berisi 150 liter, sehingga total terdapat 900 liter.

Perda seperti Macan Kertas

A�Maraknya peredaran minuman beralkohol tradisional rupanya meresahkan kalangan dewan. Padahal Pemkab Lobar telah mempunyai A�Perda Nomor 1 Tahun 2015. Regulasi yang mengatur peredaran minuman beralkohol.

Seperti di pasal 30 ayat 1 mengatakan pembuatan minuman beralkohol tradisional hanya diperbolehkan memproduksi 25 liter setiap harinya. Untuk peruntukannya sendiri telah diatur di ayat 2 yang berbunyi minuman beralkohol tradisional hanya untuk kepentingan upacara agama.

Wakil Ketua DPRD Lombok Barat Sulhan Muchlis Ibrahim melihat pemkab lalai dengan membiarkan masih maraknya peredaran minuman beralkohol. Tidak maksimal dalam menjalankan perda yang telah dibuat. a�?Padahal biaya untuk membuat perda itu kan tidak sedikit,a�? katanya.

Bila memang kekuatan perda belum cukup untuk mengatur pengawasan minuman beralkohol tradisional, maka sudah seharusnya Bupati mengeluarkan perbup. a�?Kalau ada hal teknis lain yang belum diatur dalam perda, buat perbup. Agar perda ini tidak jadi macan kertas,a�? kritiknya.

Sementara itu, belum lama ini, Indra Jaya Usman mengomentari khususnya larangan beredarnya miras tradiosional. Ia mengatakan, harus ada aturan yang jelas mengenai larangan ini. Jangan sampai, sambung dia, minuman beralkohol berlabel disamakan dengan minuman tradisional. a�?Usaha tuak ini melibatkan ribuan orang,a�? ujar Anggota Komisi II DPRD Lobar ini.

Usman mengatakan, pengendalian dan pengawasan minuman beralkoho ini sangat bagus. Eksekutif maupun legislatif memiliki sikap yang sama. Namun masalahnya, kesiapan pengawasan dan pengendalian terhadapA�mirasA�tradisional harus jadi ulasan lebih mendalam lagi. a�?Pasalnya ini menyangkut mata pencaharian dan penghasilan ribuan orang,a�? ungkapnya.

Anggota dewan Munawir Haris menyarankan agar pembinaan lebih dipentingkan bagi penjual minuman tradisional. Eksekutif harus mencari solusi supaya ini tidak melahirkan pertentangan dikalangan masyarakat. A�a�?Ada banyak masyarakat yang mencari nafkah dari produksi minuman pohon enau ini. Harus dilihat dan perhatikan nasib masyarakat. Jangan mematikan usaha mereka,a�? pinta munawir belum lama ini. (wahidi akbar sirinawa/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *