Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Dana Repatriasi Tax Amnesty Diarahkan ke Deposito

Bagikan

MATARAMA�– Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) diprediksi akan rampung dalam 2 sampai 3 minggu ke depan. Salah satu yang dibahas dalam RUU ini terkait keinginan pemerintah menempatkan dana hasil repatriasi ke dalam negeri. Deposito bank salah satu instrumen yang diajukan untuk penempatan dana di tahun pertama, sebelum masuk ke instrumen lain seperti Surat Berharga Negara (SBN), serta obligasi BUMN.

Anggota DPR RI Komisi XI H Willgo Zainar mengungkapkan Bank Indonesia (BI), sebelumnya memprediksi bahwa total dana yang berpotensi dibawa pulang dari luar negeri melalui fasilitas repatriasi, bisa mencapai Rp 560 triliun. Jika saja sesuai dengan prediksi BI, maka dana hasil repatriasi akan menambah likuiditas pasar keuangan dalam jumlah yang cukup signifikan.

Nilai tersebut, lebih besar daripada investasi asing secara langsung (foreigndirectinvestment/FDI) yang masuk ke Indonesia di tahun 2014 dan 2015 yakni sebesar Rp 492 triliun. Selain itu, Rp 560 triliun juga setara dengan 31 persen total dana deposito tercatat di bank saat ini, yakni sebesar Rp 1.824 triliun.

a�?Padahal, likuiditas bank saat ini masih dalam kondisi yang cukup melimpah,a�? katanya A�kemarin (24/5).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga (DPK) yang disimpan di bank pada bulan Maret tercatat naik 1 persen menjadi Rp4.468 triliun dibanding Desember 2015 Rp 4.413 triliun. Sementara kredit yang disalurkan bank, pada periode yang sama malah turun 2 persen menjadi Rp 4.029 triliun, dari Desember 2015 Rp 4.092 triliun. Rasio kredit terhadap simpanan (loanto deposit ratio/LDR) bank pada akhir kuartal I turun menjadi 89,60 persen dari Desember sebesar 92,1 persen.

a�?Likuiditas perbankan pasti akan bertambah. Dengan demikian diharapkan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman pasti akan cenderung menurun,a�? papar Willgo.

Dikatakan, jika saja dana deposito terus tumbuh tanpa diiringi dengan terjadinya pertumbuhan kredit, maka perbankan perlu melakukan penyesuaian. Pertumbuhan simpanan deposito akan meningkatkan biaya dana bank, sementara penyaluran kredit yang terhambat akan menekan pendapatan bank. Dengan demikian, bunga deposito perlu diturunkan untuk menjaga marjin bunga yang diperoleh bank.

a�?Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena nantinya dana tersebut akan dikelola oleh fundmanageruntuk ditempatkan di beberapa investasi di pasar modal yang salah satunya pada SBN,a�? terangnya.

Kecuali, jika upaya pemerintah dan otoritas perbankan berhasil mendorong pertumbuhan kredit. Di kuartal I 2016, pertumbuhan ekonomi kembali melambat ke 4,92 persen. Daya beli masyarakat juga belum pulih ditandai dengan inflasi yang masih landai di kisaran 3,3 hingga 4,5 persen dari tahun sebelumnya 6,25 hingga 7 persen. Perekonomian yang kurang bergairah di kuratal I menyebabkan pengusaha menahan diri untuk menarik pinjaman perbankan. Sementara strategi BI yang merubah suku bunga acuan bank baru berlaku efektif Agustus 2016 sehingga belum dirasa manfaatnya sekarang.

Sebagai gantinya, untuk menyerap likuiditas yang melimpah, bank di kuartal I lebih agresif untuk berinvestasi di instrumen utang seperti Obligasi dan SBN. Berdasarkan data OJK, investasi surat berharga yang dilakukan bank sudah meningkat sejak akhir tahun 2015. Di Desember investasi bank di surat berharga baru sebesar Rp 660 triliun, namun pada Maret 2016 jumlahnya sudah meningkat 22 persen menjadi Rp 808 triliun. Ini berbanding terbalik dengan kredit yang cenderung menurun di kuartal I. (ewi/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *