Ketik disini

Headline Metropolis

Jangan Berkilah Anggaran Terbatas!

Bagikan

BANTAENG – Keterbatasan anggaran selama ini, selalu dijadikan tameng yang membatasi inovasi sejumlah SKPD lingkup Pemprov NTB maupun kabupaten/kota. Padahal, inovasi menuntut kreatifitas bukan dana yang bejibun.

Ini dibuktikan oleh Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan dalam delapan tahun terakhir ini. Meski APBD minim, Bantaeng kini tercatat sebagai salah satu daerah yang paling progresif menekan angka kemiskinan. a�?APBD kita hanya 700 miliar,a�? beber Bupati Bantaeng Prof Dr HM Nurdin Abdullah dalam presentasinya di hadapan rombongan kunjungan kerja kabupaten/kota se-NTB di ruang rapat Bupati Bantaeng, kemarin (24/5).

Jumlah APBD itu jauh di bawah kabupaten/kota se-NTB yang kini memiliki dana triliunan per tahun. Bahkan, kabupaten termuda di NTB yakni Lombok Utara pun kini sudah mengelola APBD lebih dari Rp 800 miliar.

Bahkan, di awal kepemimpinan Nurdin pada tahun 2008, APBD Bantaeng hanya Rp 281 miliar. Namun, dana yang minim itu sukses dimaksimalkan untuk mendorong program yang benar-benar berorientasi pada penurunan kemiskinan.

Alhasil, pertumbuhan Bantaeng melesat dari 5,37 persen pada tahun 2008 menjadi 9,50 persen di tahun 2015. Begitu pula dengan angka kemiskinan yang mencapai 12 persen di tahun 2008, kini merosot jauh hingga 5,89 persen di tahun 2015. Bersamaan dengan itu, angka pengangguran di Bantaeng pun ikut menurun dari 12,21 persen tahun 2008, kini menjadi 2,30 di tahun 2015. IPM dari 68,90 meningkat menjadi 73,69 delapan tahun kemudian. a�?Kuncinya, fokus dalam mengelola fiskal. Tidak masalah APBD kita terbatas yang penting, fokus,a�? kata Nurdin.

Anggaran yang terbatas diprioritaskan untuk beberapa program seperti peningkatan infrastruktur dasar, termasuk perbaikan jalan membangun akses air ke semua wilayah. Bantaeng yang dulunya kerap dilanda kekeringan pun kini teraliri air sepanjang tahun. Ini langsung dirasakan dampaknya pada pertumbuhan di sektor pertanian yang menjadi andalan kabupaten tersebut.

Selain infrastruktur, fokus anggaran juga ditujukkan untuk peningkatan pelayanan publik. Terutama pelayanan kesehatan melalui program Brigade Siaga Bencana (BSB). Program ini menyediakan pengobatan keliling gratis bagi warga.

Di sektor pertanian, Bantaeng berinovasi dengan melakukan pengembangan teknologi untuk meningkatkan nilai jual hasil produksi. Di tengah keterbatasan lahan, Bantaeng memantapkan diri menjadi kabupaten mandiri benih.

Bagaimana melakukan inovasi tersebut di tanpa dukungan anggaran? Nurdin berbagi tips, kunci dari kesuksesan inovasi itu adalah perencanaan yang matang. Apa yang telah direncanakan harus dikawal hingga benar-benar terealisasi.

Pemangkasan anggaran belanja pegawai juga dimaksimalkan. Bantaeng mengurangi sebesar-besarnya jumlah honorer agar tidak membebani dana daerah. Tak kalah penting, lanjutnya, pembinaan dan penunjukan ASN yang berkualitas untuk menduduki jabatan.

Peran dari investor juga ikut membantu. Investasi didorong dengan menerapkan perizinan satu jam. Bantaeng juga berinovasi dengan mencari sumber anggaran diluar APBD, termasuk menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan terkemuka di Jepang.

Terpisah, Tim Pengentasan Kemiskinan NTB Prayitno Basuki memuji sinergitas dan koordinasi yang kuat antara SKPD di Bantaeng. Menurutnya, kabupaten/kota se-NTB harusnya bisa lebih sukses dari Bantaeng dalam menekan kemiskinan. Apalagi, mengingat potensi kabupaten/kota di NTB lebih besar.

a�?Selain itu, networking juga menjadi salah satu kelemahan kita. Bagaimana menjemput anggaran di luar dana daerah,a�? kata Prayitno yang juga ikut dalam rombongan kunker. Kunker ke Bantaeng tersebut juga diikuti oleh Wakil Bupati/Wali Kota se-NTB beserta jajarannya.

Sementara, Wagub NTB H Muhammad Amin mengatakan, dipilihnya Bantaeng ini karena kabupaten ini sangat progresif dalam memajukan daerah dari berbagai sektor. Dari kunker tersebut, kabupaten/kota se-NTB diminta bisa meniru langkah inovatif Bantaeng.

a�?Kabupaten/kota kita juga harus berani melakukan terobosan. Jangan lagi beralasan fiskal minim,a�? kata Amin.

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan yang fokus dan membangun jaringan untuk mendapat dukungan anggaran. a�?Memang kita tidak bisa kalau hanya andalkan APBD. Ini PR kita kedepannya, harus lebih kuat membangun jaringan,a�? pungkasnya. (uki/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *