Ketik disini

Metropolis

Tanpa Listrik, Bahannya a�?Sehargaa�� Sampah

Bagikan

Alat yang mahal tidak selamanya sulit didapatkan. Meski harga mesinnya puluhan juta, ternyata tiruannya bisa dibuat dengan biaya murah-meriah.

***
PRIA itu terus bersembunyi ‘keong’ di bawah prototipe alatnya. Matanya jeli mengawasi perubahan angka di alat sebesar kepalan bayi, berwarna hijau. Itu, temperatur meter. Meski peluhnya bercucuran, bukannya menghindari panas, pria itu malah nekat menjemur alatnya di bawah terik matahari yang semakin menyala.

“Alat itu harus bekerja di bawah cahaya,” kata seorang rekannya yang justru hanya duduk manis di bawah pohon cemara. Adin namanya.

Kami, terdiam beberapa saat. Siang itu memang panas sekali. Sementara, pria yang dari tadi bersembunyi di bawah prototipe alatnya menyembulkan kepala, sekali-dua kali. Memastikan aliran dan debit air mengalir sesuai keinginannya.

Tapi tak lama, ia kembali ke kolong alatnya. Ribet juga melihatnya. Tapi pemuda kumisan dan berbehel itu, gigih. Tangannya terus memencet-mencet switcher atau saklar yang mengkombinasikan puluhan titik sensor, memantau perubahan panas air.

“Tunggu sesaat lagi, dia pasti selesai,” imbuh temannya itu, mencoba menghibur Saya.

Kami memang harus lebih sabar. Tidak boleh mengganggu juga. Sebab, pria itu tengah mengukur perubahan suhu secara priodik. Menganggu beberapa menit saja, sama artinya meminta dia melanjutkan penelitiannya esok hari. Ngeri!

Sampai akhirnya, pria bertopi itu berhenti. Ia mengusap keringat yang bercucuran di dahinya. Smartphone yang sedari tadi terus digunakan memfoto sejumlah perubahan suhu, diistirahatkan ke dalam kantong celana. Pria itu tengah merancang alat Water Heater atau pemanas air yang biasa digunakan di kamar mandi.

Bahannya juga tergolong sederhana. Limbah plastik, kayu dan pipa tembaga. Nama pria yang sibuk itu, Muchlis Pratama. Mahasiswa fakultas teknik, bidang keahlian konversi energi. Beberapa waktu terakhir ini, ia sibuk meneliti alat murah tapi berkualitas ‘mahal’ itu.

“Saya punya teman enginering di sebuah hotel. Ia kerap mengajak saya ikut bekerja lalu memperkenalkan alat pemanas air kamar mandi. Itulah saya mulai berniat pengen punya,” kisah Muchlis memulai cerita.

Namun, ketika ia mencoba mencari tahu harga alat itu, ia sempat berfikir harus mengubur dalam-dalam keinginannya. Pasalnya, harga mesin pemanas terbilang sangat mahal. Apalagi bagi kantong mahasiswa.

“Kalau yang untuk pribadi (rumah) itu harganya sekitar dua puluhan juta rupiah, tentu kalau untuk hotel, berlipat-lipat kali mungkin mahalnya. Belum lagi daya listrik yang dihabiskan,” imbuhnya.

Sampai akhirnya, seorang rekannya memberinya ide. Memanfaatkan panas matahari untuk ‘memanaskan’ molekul air. Jika diperhatikan, ide Muchlis terbilang sangat sederhana. Prinsipnya ia hanya butuh reflektor sinar matahari, agar partikel cahaya fokus ‘menembak’ pipa tembaga yang sensitif terhadap suhu.

Harga pipa tembaga atau ada juga yang menyebut Pipa AC ini permeternya cuma Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. “Bisa dibilang hanya ini (pipa tembaga) yang perlu dibeli, sementara lainnya bisa dibuat dari limbah kayu dan sampah,” ulasnya.

Untuk memaksimalkan partikel cahaya matahari ‘membakar’ (baca: memanasi) pipa tembaga, maka rancangan reflektornya dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai setengah tabung.

Dalam kasus ini, berlaku kondisi semakin luas reflektor dan panjang tabung, semakin besar partikel cahaya dan panas yang dihasilkan. Maka, proses pemanasan air bisa jadi lebih cepat dengan catatan reflektor dan panjang tabung dan pipa tembaga ditambah.

“Dengan panjang tabung dan pipa tembaga satu meter saja, perubahan suhu air meningkat mencapai 37 derajat celcius,” ujar dia dengan wajah optimis.

Ada peningkatan signifikan suhu air saat itu. Dari awalnya di kisaran 15 – 20 derajat celcius, naik sekitar 17 – 22 derajat celcius, setelah melewati pipa tembaga sepanjang satu meter. Uniknya lagi, dari tiga sampel limbah atau sampah yang digunakan, justru yang paling bagus merefleksikan cahaya matahari adalah plastik.

Sementara dua bahan lain sebagai pembanding, seperti CD bekas dan kaleng bekas (alumunium) ternyata bukan pemantul partikel cahaya.

“Kalau yang pakai limbah CD dan kaleng bekas, panas yang dihasilkan tidak terlalu bagus, justru limbah plastik yang paling bagus,” ulasnya.

Muchlis memahami, alat yang dikembangkannya memang masih butuh penyempurnaan. Terutama untuk mengetahui ordinat letak pipa, besar tabung sehingga didapat panas ideal.

“Kalau water heater itu kan panas air bisa di kasaran 70-80 derajat celcius, makanya alat ini harus dimodifikasi lagi biar capai panas ideal,” cetusnya.

Lalu baimana agar panas yang dihasilakn setelah melalui pipa tembaga tetap bertahan? “Buat saja penampung atau bak dari batu, karena batu adalah benda penahan panas yang baik,” jawab dia.

Selain bahan merupakan benda yang banyak didapat di sekitar, energi panas yang dihasilkan juga murni dari cahaya matahari. Sehingga alat ini nihil daya listrik. Sementara untuk mendapatkan panas air ideal, seperti yang ada di hotel, cukup menyediakan saluran (pipa) air yang khusus untuk air dengan suhu normal.

“Jadi tinggal gabungin saja, dengan mencampurkan air yang sudah dipanasi dengan cara alami dengan air dingin,” tandasnya.(Lalu Mohammad Zaenudin/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *