Ketik disini

Headline Metropolis

Bank Dunia Pangkas Calo Remitansi

Bagikan

MATARAM – Provinsi NTB menjadi penyumbang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terbesar di Indonesia. Kabupaten Lombok Timur sebagai darah penyumbang jumlah TKI terbesar di NTB, yakni A�51 ribu orang lebih. Data ini diungkapkan Kepala Bank Indonesia NTB Prijono dalam acara Green Back 2.0 Lombok Timur di Hotel Golden Tulip, kemarin (25/5).

Dari jumlah itu, sebanyak Rp 702 miliar dihasilkan hasil para TKI per tahun. Jumlah ini dikirim ke NTB melalui beberapa Bank. Sayangnya pengiriman uang yang dilakukan para TKI ke penerima di negara asalnya (remitansi) ini menjadi momok yang menakutkan. Pasalnya, uang mereka banyak yang tak sampai tujuan hingga habis dipinjam si penerima atau pemilik rekening tujuan di NTB. a�?Banyak TKI yang mengirim uang untuk keluarganya dengan meminjam rekening orang lain. Nah, di sinilah terjadi pungutan liar. Kadang uang tersebut dipinjam namun tak pernah dikembalikan,a�? ungkap Prijono.

Akibatnya, ketika pulang dari rantauan, TKI banyak yang kecewa karena hasil mereka tak kunjung terlihat. Meski demikian, beberapa TKI masih memilih cara ini dikarenakan tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan. Keterbatasan sumber daya manusia di NTB membuatnya mengirim hasil bekerja melalui ‘perantara’.

Hartono, salah seorang TKI kepada Lombok Post mengaku biasa mengirimkan uang melalui rekening temannya. Dikarenakan, istri ataupun ibunya yang ada di Lombok tidal memahami cara menerima uang melalui rekening bank.

a�?Kadang saya kasih sekadar ongkos bensin ambil uang di bank Rp 200 ribu setiap kali mengirim,a�? tuturnya.

Biasanya, para TKI ini memilih mengirim hasil mereka kepada orang yang dipercayanya. Namun, tak jarang juga orang yang dipercaya malah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan.

Zakaria, salah seorang warga Lombok Barat mengaku sering diminta para TKI untuk menerima kiriman uang. Beberapa diantara TKI tersebut meminta sejumlah uang yang dikirimkan langsung diberikan kepada keluarga. Nantinya, Zakaria bakal diberikan ongkos atas jasa pengiriman uang melalui rekeningnya tersebut.

Namun, ia juga mengungkapkan ada beberapa TKI yang memilih menyimpan uang tetsebut padanya. Sementara mereka nantinya pulang dari negeri rantauan. a�?Ya kadang uang tersebut mereka titip, nanti diambil sebelum mereka pulang. Sementara itu, kadang saya gunakan untuk modal usaha,a�? akunya.

Meski demikian, Zakaria mengaku tetap mempertanggung jawabkan amanah yang diberikan kepadanya.A� Karena, jika tidak demikian kepercayaan beberapa orang TKI yang selalu mengirimkan uangnya melalui dirinya tentu akan hilang.

a�?Harus sih kita pertanggung jawabkan. Makanya beberapa hari sebelum mereka pulang, saya selalu siapkan uang yang dititip sudah ada,a�? terangnya.

Padahal, remitansi punya A�peran besar dalam ekonomi berbagai negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Untuk itulah, Bank Dunia, Pemprov NTB A�bersama BNP2TKI, BP3TKI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Negara Malaysia, Bank Indonesia, pimpinan beberapa bank, camat dan kades melaunching program Greenback 2.0 Lombok Timur. Program ini dihajatkan untuk memudahkan langkah para TKIA� maupun masyarakat NTB untuk mengirim dan menerima uang hasil mereka bekerja.

Sayangnya, saat launching kemarin, konsep Greenback 2.0 Lombok Timur ini masih dinilai belum jelas oleh anggota Dewan Komisi V DPRD NTB H MNS Kasdiono yang hadir saat launching. a�?Saya harap ini bukan hanya sekadar launching. Harus jelas konsep dan programnya seperti apa. Harus ada tindak lanjutnya,a�? kata Kasdiono.

Kasdiono juga meminta, BP3TKI dan Dinas Tenaga Kerja membekali para TKI dengan pemahaman tentang tata cara mengirim uang. a�?Itu harus dimasukkan dalam kurikulum dan silabus Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) di BP3TKI. Mereka harus bertanggung jawab terhadap remitansi nanti,a�? katanya.

Ia juga berharap Bank Dunia yang telah melaunching program Greenback 2.0 Lombok Timur ini bersama perbankan dan pemerintah gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Agar mereka sadar nantinya dan terhindar dari pungli saat mengirim hasil. Sehingga mereka bisa benar-benar menikmati hasilnya. a�?Kalau program Greenback 2.0 ini ada tindak lanjutnya saya mewakili lembaga akan dukung. Begitu sebaliknya. Pokoknya jangan hanya sekadar launching,a�? pintanya.

Ia berharap semua pihak memberikan perhatian terhadap remitansi ini. Karena kasus ini nyata dan telah lama terjadi di wilayah penyumbang TKI terbesar di Indonesia ini. (ton/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *