Ketik disini

Bima - Dompu

Mahasiswa Tantang Kapolda NTB

Bagikan

MATARAM – Sekelompok mahasiswa dan pemuda asal Dompu menggelar aksi di Polda NTB. Mereka mendesak Polda NTB untuk mengusut eksploitasi galian C secara illegal di Raba Baka Kompleks (RBK).

PT Nindya Karya selaku pemenang tender proyek RBK dituding mengambil material di Sungai Desa Raba Baka secara illegal. Akibat dari aktivitas pertambangan itu, petani di sekitar kawasan proyek pembangunan RBK merasa dirugikan.

a�?Sekitar 300 masyarakat petani Dompu merasa dirugikan akibat aktivitas tambang illegal oleh perusahaan tersebut,a�? tuding koordinator lapangan (korlap) aksi Jujur Prakoso di depan Mapolda NTB, kemarin (25/5).

Menurut pendemo, aktivitas itu sudah berlangsung sembilan bulan yang lalu. Bahan material golongan C dan sejenisnya itu dikeruk dan digunakan untuk kepentingan proyek Dam RBK.

Jujur menduga, perusahaan sengaja mengeksploitasi lahan secara ilegal. Tepatnya di wilayah Sungai Sori Na’e dan Sori Milla, Desa Rababaka, Kecamatan Woja. Selain di kawasan itu, perusahaan tersebut diduga melakukan eksploitasi illegal di dalam kawasan hutan lindung Soromandi RTK 55.

a�?Bahan itu untuk keperluan pembangunan pabrik beton yang di bangun oleh PT Rangga Eka Pratama,a�? tudingnya.

Terkait persoalan aktivitas eksploitasi galian C, pendemo mendesak Polda NTB mengusutnya. Jika tidak, mereka mengancam akan memboikot proyek tersebut.

a�?Kami meminta Kapolda NTB untuk mengusut pelaksanaan proyeknya. Karena saat ini kami sudah tidak percaya lagi dengan aparat penegak hukum yang ada di Kabupaten Dompu,a�? tantang Jujur.

Kekecewaan mereka tidak terlepas dari lambannya penanganan dari Polres Dompu maupun Kejari Dompu. Untuk itu, mereka menantang Kapolda NTB agar menyelidiki aktivitas pertambangan secara illegal itu.

a�?Kami minta kapolda turun tangan langsung,a�? tegas dia.

Pembangunan Dam RBK ini dimulai tahun 2013. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 316 miliar. Namun pengerjaannya dilakukan secara bertahap. Tahun lalu, Dam RBK mendapat pula gelontoran dana dari APBN. Anggaran untuk rehabilitas jaringan irigasi diA�RabaA�BakaA�senilai Rp 13,9 miliar. Proyek itu dikerjakan PT Indopenta Bumi Permai.

Sedangkan, Bendungan Tanju dan Mila ini mulai dikerjakan tahun 2015. Anggaran yang dikuras untuk Bendungan Tanju Rp 330,26 miliar. Untuk pembangunan bendungan Mila anggaran yang dihabiskan Rp 198 miliar. Dua mata anggaran itu berasal dari kantong APBN. Sementara, pengerjaan bendungan Tanju dan Mila digarapA�joint operationA�PT Nindya Karya dengan PT Hutama Karya. (jlo/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *