Ketik disini

Giri Menang

Mata Buta, Kini Hanya Andalkan Pengobatan Alternatif

Bagikan

Sepuluh tahun bukanlah waktu sebentar. Lelaki ini hidup dalam kegelapan. Tak mampu melihat indahnya wajah dunia. Bahkan wajah orang-orang yang ia cintai. Tumor otak yang ia derita membuatnya tak bisa melihat.

***

SEORANG wanita tua terlihat sedang menampih beras saat media tiba dirumahnya.A� Menyambut hangat kehadiran kami.A� Senyum kecil terlihat menghiasi raut wajah keriput renta tersebut.

Ia pun melangkah menuju sebuah kamar kecil yang tak jauh dari ruang tamu. Tak lama kemudian, ia keluar sambil menuntun seorang lelaki yang masih muda. Tubuh lelaki tersebut masih terlihat bugar dan berisi. Namun ia tidak menyadari kehadiran tamu dihadapannya.

Ialah Munawir. Pria 32 tahun ini tak mampu melihat lagi. Semua disebabkan penyakit tumor otak dideritanya.

Meski bukan tumor ganas, namun mampu merebut penglihatannya. Ia tidak terlahir dengan tumor ini. Bahkan tak pernah terbayang ia akan menderita penyakit ini. Jika boleh memilih, ia ingin dijauhkan dari penyakit tersebut.

Semula bermula sejak pertengahan 2006 lalu. Ia mulai merasakan denyutan di kepala bagian kiri. Seperti ada sesuatu yang menjambak sel yang ada di otak kirinya tersebut. Ia pun memutuskan untuk memeriksakan hal tersebut di RSUD Kota Mataram. Pada saat itu RSUD Tripat Belum berdiri.

Ia pun mulai menjalani sejumlah pemeriksaan hingga hasilnya keluar. Bagai disambar petir di siang bolong saat ia mendengar penjelasan dokter mengenai hasil pemeriksaan tersebut.

Ia divonis menderita tumor otak. Meski bukan tumor ganas, namun ia tetap khawatir. Sebab, pengobatan dan perawatan akan membutuhkan biaya besar. Sementara ia tidak memiliki uang cukup untuk hal tersebut.

Selain itu, dokter yang menanganinya pun mengatakan agar ia harus berobat ke Bali. Kekhawatirannya pun bertambah.

Di dalam daerah saja sudah membutuhkan biaya banyak. Ditambah harus keluar daerah. Tentu dua kali lipat bahkan lebih.

Namun sang dokter juga memberikannya sedikit harapan. Semua biaya pengobatan akan lebih ringan jika ia memiliki kartu BPJS.

Ia hanya perlu mempersiapkan biaya akomodasi selama berada di Bali saja. Akhirnya ia pun berangkat. Selama tiga bulan ia menjalani operasi dan perawatan di rumah sakit Sanglah, Bali.

a�?Jadi selama tiga bulan itu kita pakai uang pribadi,a�? ujarnya.

Berobat ke Sanglah tak lantas membuat derita itu usai. Awal 2007 silam benjolan di pipi kirinya mulai muncul.

Efek benjolan tersebut kemudian merembet hingga mata kirinya. Secara perlahan ia mulai merasa penglihatan di mata kirinya memudar. Akhirnya mata kiri tersebut tak berfungsi total alias buta.

Ia kembali memeriksakan hal tersebut ke rumah sakit. Dokter kembali menyarankan ia berobat ke Bali. Namun kali ini ia benar-benar tidak memiliki biaya. Meski memiliki jamkesmas, ia tidak memiliki biaya akomodasi selama di Bali. Ia pun menunda pengobatan hingga saat ini.

Benjolan semakin membesar seukuran bola golf. Rasa sakit benjolan pun kini semakin merembet. Mata kanannya pun ikut terjangkit. Penglihata mata kanannya mulai memudar. Meski belum sepenuhnya hilang, namun ia tak mampu melihat dengan jelas. Semua hanya terlihat samar-samar.

a�?Bahkan wajah mbak pun saya tidak tahu seperti apa?a�? akunya.

Sementara pengobatan sehari-hari, ia juga menggunakan pengobatan alternatif. Namun hasilnya nihil. Tak ada perubahan yang ia rasakan. Sementara biaya semakin banyak ia keluarkan. Tabungan pun mulai terkuras. Ia hampir tak memiliki apapun lagi untuk berobat.

a�?Jadinya kita ngutang dulu,a�? katanya sedih.

Bertahun-tahun menderita penyakit tumor otak belum sekalipun ia menerima bantuan siapapun. Baik dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Bahkan ketua RT sekalipun tak pernah mengunjunginya. Semua dibiayai sendiri bersama keluarganya. (Ferial Ayu/ Giri Menang/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *