Ketik disini

Headline Metropolis

Pemprov Miskin Solusi

Bagikan

MATARAM – Harapan masyarakat agar segera ada solusi jangka pendek untuk meredam tingginya harga daging tampaknya belum akan mewujud. Pemerintah sendiri hingga saat ini belum menemukan solusi tersebut. Rapat terkait hal ini bahkan belum dilakukan.

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi yang dikonfirmasi koran ini terkait gejolak harga daging sepakat bahwa harus ada langkah nyata untuk menekan harga hingga Rp 80 ribu sesuai instruksi Presiden Joko Widodo. Itu sebabnya, pihaknya akan segera berkoordinasi ke pusat segera.

a�?Kita akan mencari tahu lebih dahulu langkah apa yang akan diambil pusat. Karena harus ada langkah nyata seperti apa,a�? kata Gubernur dikonfirmasi Lombok Post, usai menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Bank NTB Tahun Buku 2015 di Hotel Golden Tulip Lombok, kemarin (26/5).

Orang nomor satu di NTB Ini mengatakan, rencana pemerintah mengimpor daging, diakui belum diketahuinya. Namun, jika memang pasokan daging kurang menjadi penyebab harga melambung, Gubernur mengaku tak mempermasalahkan impor daging tersebut. a�?Saya akan cek dulu,a�? ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin yang dikonfirmasi terkait harga daging yang melambung tak bisa menyembunyikan rasa gusarnya.

Ia memberi warning kepada jajaran SKPD terkait untuk meningkatkan koordinasi demi memastikan kestabilan harga di pasar. a�?SKPD yang terkait perlu lebih sering berkoordinasi. Perlu ada strategi untuk pengendalian harga di pasar,a�? kata Wagub, kemarin(26/5).

SKPD terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) juga diingatkan untuk melakukan operasi pasar. Termasuk memastikan kelancaran proses distribusi dan jangan sampai ada spekulan di lapangan.

a�?Ya ini aneh juga ya. Kita ini bumi penghasil sapi tapi dagingnya malah mahal. Ini makanya perlu dikoordinasikan dan dicarikan strategi untuk menekan harganya, biar harganya terjangkau oleh masyarakat,a�? kata Wagub.

Wagug juga menegaskan, jika instruksi harga harus di Rp 80 ribu per kilogram, maka pemerintah daerah tak bisa lagi tinggal diam. Dia hanya menekankan agar jangan sampai ada peternak yang merasa dirugikan dengan harga yang terlalu rendah. Sementara konsumen juga masih tetap dapat menjangkau harganya.

Baru Rapat Pemprov NTB sendiri terlihat benar tak punya jalan keluar cepat mengantisipasi gejolak harga daging yang sudah menggunung. Saat harga sudah melambung setinggi langit seperti saat ini. Rapat khusus terkait gejolak harga bahkan belum dilakukan.

Asisten II Pemprov NTB Lalu Gita Ariadi kepada Lombok Post kemarin berjanji akan segera mengatur rapat khusus membahas seputar ancaman kenaikan harga jelang Ramadan. Khususnya menyangkut harga daging.

a�?Kita juga akan koordinasi dengan distributor. Kita survey pemantauan stok pengendalian pasar dan keterssediaan kebutuhan dasar di pasar,a�? katanya.

Kendati begitu kata dia, saat ini, lanjutnya, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB sudah melakukan konsolidasi ke Sumbawa dengan pelaku usaha peternakan Sumbawa.

Hal yang sama juga akan dilakukan di Lombok. a�?Kita akan atur treatment jangka pendek untuk menjaga kestabilan harga daging ini, terutama mengikuti instruksi Presiden,a�? katanya.

Hingga kemarin, daging sapi di pasar-pasar induk diperdagangkan pada level Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu perkilogram. Harga itu jauh melebihi kewajaran dan bahkan dinilai tak pantas. Mengingat posisi NTB sebagai daerah penghasil sapi. Bahkan, harga daging di NTB saat ini sudah lebih tinggi dari harga daging di Jakarta yang tak memiliki sapi sama sekali.

Gita mengatakan, lebih tingginya harga daging di NTB dibanding Jakarta sebetulnya tak lain disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah sendiri. Di Jakarta, lanjutnya, tidak menerapkan larangan impor daging sebagaimana diberlakukan di NTB.

a�?Karena di sana ada masuk daging impor, otomatis harganya mungkin lebih bersaing,a�? katanya. Sementara, lanjutnya, Pemprov NTB tetap dengan kebijakannya untuk tidak melakukan impor daging demi melindungi petani atau produsen sapi lokal.

Surplus Besar

Produksi daging sapi di NTB terbilang tinggi. Prediksi tahun ini saja, produksi daging sapi di NTB bisa mencapai 23.057 ton. Sementara, perkiraan kebutuhan hanya 8.839 ton. Sehingga, ada surplus daging sapi dalam setahun mencapai 12.119 ton. Surplus itulah yang kemudian digunakan oleh industri atau dikirim ke luar daerah.

Anehnya, sebagai daerah utama penghasil sapi, harga daging di Bumi Gora ini justru lebih tinggi dari daerah yang dipasok. Misalnya, NTB merupakan daerah pemasok daging sapi di Jakarta. Namun, harga daging sapi di Jakarta lebih murah dari NTB.

a�?Harga daging sapi di NTB paling tinggi dibandingkan DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan bahkan NTT,a�? beber Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB Hj Hartina.

Daging sapi di NTB bisa dipatok dengan harga Rp 106.979/ kg. Sementara, harga daging sapi di Jakarta bisa dipatok dengan harga hanya Rp 105.368/kg. Bahkan harga di Jawa Barat lebih rendah lagi yakni hanya 92.325/kg, di Bali hanya Rp 95.000/kg, dan di NTT hanya Rp 86.250/kg.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Budi Septiani mengakui koordinasi menjadi salah satu kuncu untuk menjaga kestabilan harga daging.

a�?Sebenarnya kan kita hanya punya kewenangan untuk memenuhi produksi sapi dan sejauh ini produksi kita surplus. Untuk masalah harga itu juga kaitannya dengan SKPD lain seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kita perlu duduk bersama,a�? katanya.

Dijelaskan, soal harga yang tinggi juga dipengaruhi oleh psikologis di pasar. Salah satu intervensi yang bisa dilakukan pemerintah yakni melalui pemberian subsidi, baik subsidi untuk pakan ternak maupun subsidi untuk proses pendistribusian. Ini bisa menekan ongkos yang pada akhirnya bisa menurunkan harga daging.

a�?Kalau ada subsidi seperti ini, otomatis harga daging bisa ditekan dan petani juga tidak rugi. Sebab, tingginya harga daging ini juga bisa disebabkan oleh masalah distribusi yang panjang. Subsidi adalah salah satu jalan untuk menstabilkan harga,a�? jelas Budi.

Tata Niaga Panjang

Sementara itu salah satu peternak sapi dari Lombok Timur Jaelan menuturkan, perlu pertimbangan lebih lanjut dan membutuhkan waktu jika pemerintah ingin harga daging Rp 80 ribu per kg. Pasalnya sebagai peternak tentu saja menginginkan harga jual tinggi Namun jika mempertimbangkan konsumen, mengharapkan harga yang terjangkau.

a�?Dilema juga, sisi lain ingin mahal untuk peroleh keuntungan tapi kasihan juga konsumen,a�? ucapnya

Jaelan melihat, jika pemerintah menginginkan harga daging tidak tinggi maka harus membenahi sistem perawatan ternak sapi. Selama ini peternak masih menggunakan cara tradisional sehingga memakan biaya pemeliharan cukup tinggi. Berbeda jika sistem yang dipakai sudah berteknologi.

Kedua, sambungnya, pemerintah harus dan segera memutus rantai pengiriman daging sapi dari tingkat peternak hingga di tangan konsumen. Pasalnya, ada sekitar delapan hingga mata rantai yang harus dilalui peternak.

Untuk sampai di jagal saja ada empat tangan, pindah tingkat kisaran harga sapi naik Rp 500 ribu per kg. setelah dari jagal ada empat tingkat lagi, harga bisa naik Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kg,a�? papar Jaelan. Sebagai peternak, ia melihat pemerintah daerah tidak bisa mengatasi rantai tata niaga tersebut. (uki/ewi/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *