Ketik disini

Giri Menang Headline

Kasihan, Tubuh Anak Ini Mengelupas!

Bagikan

GIRI MENANG – Kasus Gizi Buruk seakan menjadi momok Lombok Barat (Lobar). Terakhir tiga balita penderita gizi buruk dirawat di RSUD Tripat Gerung Lombok Barat.

Mereka adalah Nur Aisyah (10 bulan) asal Sigerongan, Ziyad Azizan Ibrahim (2 tahun) asal Menang, dan Ahmad Ali Akbar (3 tahun) asal Telagawaru. Ketiganya kini dalam penangan intensif dokter RSUD Tripat Gerung.

Balita tersebut menjalani perawatan sejak lima hari lalu. Selain gizi buruk, mereka juga mengidap penyakit lainnya. Aisyah menderita Pneumonia, Ziyad menderita TB danA� Ahmad menderita epilepsi.

Selain epilepsi, Ahmad juga menderita penyakit kulit. Kulit di seluruh bagian tubuhnya mengelupas.

a�?Penyakit bawaan ini diperkirakan menjadi penyebab timbulnya gizi buruk,a�? tutur dr Arief, Kepala TU RSUD Tripat Gerung.

Sementara Siti Rojiah, ibunda Ahmad Ali Akbar menuturkan, anaknya terdeteksi penyakit gizi buruk sejak dua bulan usai kelahiran. Sebelumnya, Ahmad terlebih dahulu terdeteksi mengidap penyakit epilepsi. Hal ini yang memicu timbulnya penyakit gizi buruk pada Ahmad.

a�?Sementara pengelupasan kulitnya baru tiga minggu yang lalu,a�? pungkasnya.

Siti tak berasal dari keluarga berada. Sehingga ia baru mampu membawa anaknya berobat ke rumah sakit. Pekerjaan suami sebagai tenaga honor tak mampu menambah biaya pengobatan.

Ahmad sempat dinyatakan sehat dari gzi buruk. Namun tiga minggu kemudian ia kembali jatuh sakit.

Terpisah, Dinas Kesehatan Lobar, Rahman membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, kasus gizi buruk disebabkan penyakit bawaan.A� Gizi buruk akibat kurangnya pengawalan keluarga. Mulai dari masa ibu hamil hingga anak lahir dan tumbuh.

Ia menjelaskan, tidak ada yang murni mengalami gizi buruk sejak lahir. Mereka lahir dengan berat normal. Keseluruhan kasus gizi buruk di Lombok Barat disebabkan faktor penyakit bawaan anak tersebut.

a�?Misalnya, ada yang menderita kelainan jantung, TBC, Pneumonia, kelainan ginjal, dan lainnya. Adanya penyakit bawaan tersebut diyakini akibat kurangnya pengawalan terhadap penderita sejak Aisyah,a�? kata Rahman.

Dikes Lobar telah berusaha melakukan berbagai hal sebagai antisipasi. Salah satunya, memprogramkan masa seribu hari untuk ibu.

Mereka dapat melakukanA� pemeriksaan terhadap kehamilannya. Ibu dapat memeriksakan kandungannya minimal empat kali. Selama pemeriksaan tersebut, ibu harus tetap dikawal hingga persalinan.

Selama hamil, ibu juga harus diberikan asupan gizi yang cukup dan tepat. Disamping program tersebut, Dikes juga membuka kelas khusus ibu. Di kelas tersebut diajarkan berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan diri dan janin. Seperti tanda-tanda kelahiran dan lainnya.

a�?Ibu juga dianjurkan untuk menyusui. Terutama pemberian ASI eksklusif,a�? ujarnya.

Ia menuturkan, penanganan gizi buruk bukan hanya tugas Dikes. Penanganan harus dimulai dari hulu ke hilirnya. Artinya, dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga atau orang tua. Kurangnya tanggung jawab orang tua banyak menjadi faktor kasus gizi buruk di Lobar.

Sebagai antisipasi, Dikes Lobar telah bekerjasama dengan Dikes Provinsi NTB untuk menangani masalah ibu hamil. Sebanyak 16.270 kehamilan, setengahnya ditangani oleh Dikes Provinsi NTB. Harapannya agar lahir generasi sehat.

Selain itu, Dikes Lobar juga merencanakan pendampingan ibu hamil oleh kader kesehatan. Satu kader akan mengawal lima hingga sepuluh ibu hamil.

a�?Penanganan gizi buruk memerlukan perhatian semua. Khususnya orang tua. Bukan hanya Dikes,a�? tandasnya. (fer/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys