Ketik disini

Giri Menang Headline

Dua Pekerja Hiburan Positif HIV

Bagikan

GIRI MENANG – Pekerja hiburan malam di wilayah Senggigi, Lombok Barat, diperiksa kesehatannya. Dari 300 pekerja yang diperiksa, dua diantaranya positif terkena HIV/AIDS. Ini semakin menambah panjang jumlah penderita HIV/AIDS di Lombok Barat.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lobar Djunaidi mengatakan, pemeriksaan kesehatan bertujuan untuk mencegah pekerja hiburan malam terkena penyakit HIV/AIDS. Sebabnya mereka sangat rentan terkena penyakit menular.

”Kita periksa 300 orang yang bekerja di 10 tempat hiburan malam di Senggigi,” kata dia.

Hasilnya, tiga pekerja hiburan malam terdeteksi terkena HIV/AIDS. Dimana dua diantaranya telah positif dan satu orang lainnya harus dilakukan tes ulang.

”Satu orang di tes ulang, untuk menghindari kesalahan. Sisanya yang lain itu negatif,” ungkapnya.

Djunaidi mengatakan, tes seperti ini rutin dilakukan KPA bersama Dinas Kesehatan Lobar. Tujuannya menanggulangi meluasnya penyebaran penyakit menular.

”Ini juga sebagai langkah melindungi pekerja hiburan malam,” kata dia.

Kenapa para pengusaha hiburan malam masih mempekerjakan penderita HIV/AIDS? Djunaidi mengatakan hal tersebut seharusnya tidak diperbolehkan.

Seharusnya, lanjut dia, setiap karyawan memiliki kartu sehat. Kartu ini menjadi pegangan setiap pekerja hiburan malam yang berisi riwayat kesehatan yang bersangkutan. Dan menjadi acuan bagi pengusaha dalam mempekerjakan mereka.

Hanya saja, intensitas perpindahan pekerja di tempat hiburan malam terjadi dengan cepat. Menyulitkan KPA maupun Dikes untuk melakukan kontrol dan pengawasan.

Karena itu, Djunaidi berharap perda pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS bisa segera dijalankan. Agar menjadi payung hukum mencegah pengusaha-pengusaha yang tidak cermat mengontrol pekerjanya.

Belum lama ini, Anggota DPRD Lobar Imam Kafali Azmi mengatakan, sejauh ini terdapat 19 warga Lobar yang meninggal dunia disebabkan HIV/AIDS.

Tak hanya itu, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Lobar, hingga Desember tahun lalu terdapat 79 kasus HIV/AIDS di Lobar. Jumlah tersebut membuat Lobar menempati peringkat ketiga di NTB.

”Perlu diperhatikan, adanya peningkatan penderita yang berasal dari ibu rumah tangga,” kata Imam beberapa waktu lalu.

Kader Partai Golkar ini mengatakan, pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sudah dilakukan berbagai pihak., termasuk pemerintah dan masyarakat. Tetapi hasilnya masih jauh dari harapan.

”Itu karena alokasi dana masih terbatas, belum ada pemafaatan anggaran yang terkoordinir untuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS,” katanya.

Bila dihubungkan dengan Perda Nomor 11 tahun 2008 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS milik Pemprov NTB, dikatakan bahwa NTB menjadi salah satu provinsi yang mendapat perhatian khusus. Ini dibuktikan dengan perkembangan penyebaran HIV/AIDS yang terus meningkat.

”Wilayah penularan semakin meluas, begitu pula dengan jumlah kasus yang terus meningkat,” tandasnya. (dit/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *