Ketik disini

Praya

Keterbatasan Ekonomi, Memilih Bersekolah di Ponpes

Bagikan

Semangat ingin bersekolah putri pasangan Rasadi dan Halimah warga desa Penujak, Praya Barat Lombok Tengah (Loteng), Khusnul Khotimah kandas ditengah jalan.

***
IRONIS, ditengah perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan di Gumi Tatas Tuhu Trasna, justru masih ada yang tidak menikmatinya dengan baik. Entah karena faktor kemiskinan, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak atau alasan anggaran.

Khusnul-panggilan akrabnya-merupakan satu dari sekian banyak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Loteng yang terpaksa tidak bersekolah karena lembaga pendidikan tempatnya mengais ilmu enggan mengantar jemput sang gadis yang sedang, semangat-semangatnya mencari ilmu.

Dulu, dia duduk di kelas empat di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Praya Barat. Keluarganya memutuskan untuk memindahkan Khusnul di sekolah lain, yang dekat dengan kediamannya. Tapi, bukan pada lembaga inklusi. Alasannya, karena faktor biaya yang tidak bisa dipenuhi oleh keluarga jika tetap di SLB.

Sejak Khusnul mengenyam pendidikan inklusi di sekolah itu, setiap harinya dia di jemput oleh salah satu gurunya, yang ditunjuk oleh pimpinan lembaga pendidikan bersangkutan. Pukul 07.30 Wita jemputannya pun datang, dan pada pukul 12.30 Wita, dia kembali diantar pulang. Program itu dilaluinya sejak Khusnul duduk di bangku kelas satu, hingga berakhir di kelas empat.

Belakangan, sekolah membuat kebijakan baru, agar Khusnul diantar jemput oleh tukang ojek. Biaya per bulannya disiapkan sebesar Rp 50 ribu. Dana itu pun diambil dari BOS. Sayangnya, tukang ojek yang diinginkan menolak permintaan sekolah. Dengan alasan, dana yang disiapkan terlalu kecil. Karena, jarak antara kediaman Khusnul, dengan sekolahnya sekitar dua kilometer.

Dalam perjanjian awal, sekolah menyanggupi antar jemput yang dimaksud, hingga tamat dari SLB. Namun, ditengan perjalanan tidak berjalan mulus. Gadis berambut lurus itu pun, hanya bisa berdiam diri di rumahnya, menunggu ketidakpastian dari sekolah.

Kini impian Khusnul tenggelam, teman-teman bermainnya di sekolah inklusi sudah tidak ada lagi. Kini, dia hanya bisa mengenang masa lalunya di SLBN 1 Praya Barat. Kendati demikian, dia berusaha tabah menerima nasibnya, berusaha pula menyembunyikan rasa kekecewaan, dan keharuan yang dialami.

Dia menaruh harapan, pemerintah memperhatikan dirinya. Dia tidak ingin, ilmu pengetahuan yang dicarinya, justru kandas ditengah jalan. Apalagi, dirinya ingin mengenyam pendidikan, hingga bangku perguruan tinggi.

Terkadang, dia menundukkan kepala dan berdoa, apakah dia mampu mewujudkan cita-citanya itu, apalagi ditengah keterbatasan hidup keluarga dan kondisi fisiknya yang tak sama dengan kawan sebayanya. Sembari berbicara terputus-putus, Khusnul ingin sekali menjadi orang yang pandai, berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.

a�?Saya ingin sekali bersekolah, ditempat semula,a�? ujar Khusnul sembari menunjukkan buku evaluasi sekolahnya.

Ditempat itu, dia banyak menerima ilmu pengetahuan. Di tempat itu pula, dia mendapat pengalaman dan teman.

a�?Walau pun kami orang miskin, dan kondisi fisik anak saya seperti ini. Tapi, mohon pemerintah, memperhatikan nasib anak kami ini,a�? sambung orang tua Khusnul, Rasadi.

Salah satu tetangga Khusnul yaitu, Hadirun Haris menyayangkan sikap SLB dan pemerintah. Padahal, anak yang dimaksud memiliki cita-cita mulai sebagai dokter.

a�?Sekarang dia (Khusnul-red) sekolah di ponpes, yang teman-temannya normal. Tentu, itu membuat dia terpukul secara psikis,a�? ujarnya.

Kini Khusnul, kata Haris akan naik kelas enam dan beberapa puluh bulan kedepan, dia akan melanjutkan pendidikan ke SMP.

Dia pun berharap, Khusnul disekolahkan di SMP khusus ABK. Bukan sebaliknya. a�?Pemerintah wajib berpihak kepada siapa pun. Tidak boleh pandang bulu,a�? ujar Haris yang juga keluarga terdekat Khusnul.(Dedi Shopan Shopian/Lombok Tengah/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *