Ketik disini

Headline Metropolis

Andalkan Tejo Lawan Sampah

Bagikan

Warga Kota Mataram bergantung pada TPA Kebon Kongok untuk mengatasi sampah. Padahal TPA ini tidak selamanya a�?maua�? menampung sampah. Jika TPA itu ditutup, sampah bakal menjadi monster yang mengerikan. Ironisnya tidak banyak a�?heroa�? yang dimiliki kota untuk mengatasi sampah.

***

JUMAT (5/6) pekan lalu, Komisi III DPRD Kota Mataram di bawah pimpinan Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi turun gunung. Para wakil rakyat ini ingin tahu kabar terakhir tungku sampah yang dikenal dengan sebutan Operasional Pengolahan Sampah terpadu (Osamtu).

Didi mengaku masih menyimpan optimisme tentang tungku itu. Meski meleset jauh dari target sebelumnya di mana bisa dibangun tahun 2016 ini. Ia masih berharap, teknologi tungku sampah bisa disempurnakan. Agar, ramah lingkungan. Bahkan di tahun mendatang, bisa dibuat lebih banyak lagi.

a�?Yang diselesaikan dari tungku ini soal asapnya saja,a�? kata Didi pada Lombok Post.

Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram, Ismul Hidayat penanganan sampah di Kota Mataram belum fokus. a�?Idenya banyak, Dinas Kebersihan, BLH, semua sumbang ide, tapi jadi tidak fokus. Hasilnya, tidak ada yang benar-benar bisa menuntaskan persoalan sampah. Padahal semua berbiaya mahal,a�? kritik Ismul.

Dia menilai, persoalan sampah ini harus segera diatasi. Apalagi Kota Mataram kini dibawah a�?terora�� MoU dengan TPA Kebon Kongoq yang kabarnya berakhir di tahun 2017. Sementara, waktu terus bergulir, persaratan warga yang meminta jalan mereka yang kerap dilalui truk sampah Dinas Kebersihan Kota Mataram diperbaiki, belum dipenuhi. Tentu, masih segar dalam ingatan dulu, bagaimana akhirnya warga di Kebon Kongoq beramai-ramai memblokir jalan dan menghadang truk sampah Dinas Kebersihan Kota Mataram yang masuk. Alhasil, dalam dua hari aksi berlangsung Kota Mataram dipenuhi tumpukan sampah.

a�?Itu jalan provinsi. Kita berharap, jalan itu segera diperbaiki oleh provinsi dan TPA-nya diubah menjadi TPA regional. Saya fikir, provinsi juga punya kepentingan untuk menjaga Kota Mataram tetap bersih,a�? tandas Ismul.

Aktivis Lingkungan Hidup, Dian Sandi mengaku sempat optimis penyelesaian a�?sengketaa�� akses TPA bisa tuntas dengan adanya hibah Rp 6 Miliar. Namun pembuangan sampah di TPA ini tetap saja tidak bisa menuntaskan persoalan sampah di Kota Mataram. Terus meningkatnya volume sampah tetap jadi persoalan utama.

a�?Harus ada solusi lain untuk mengatasi persoalan sampah ini,a�? tandasnya.

Dian melihat, ada ancaman serius akibat sampah ini ke depannya. Mulai dari persoalan wabah penyakit hingga imbas lainnya, seperti pariwisata dan sebagainya.

a�?Saya lihat minim trobosan yang konkrit dan efisien dari instansi yang mengelola sampah,a�? tudingnya.

Sejauh ini Kota Mataram dinilai hanya mengandalkan TPA Kebon Kongok untuk membuang sampah. Solusi tambahan, seperti membangun tungku pembakaran belum tuntas. Ironisnya, dalam beberapa waktu ke depan, tungku ini belum bisa siap untuk membantu mengurangi sampah.

Kepala Dinas Kebersihan Kota Mataram, Dedy Supriadi mengaku tidak ada anggaran untuk membangun tungku sampah, di APBD Perubahan. Itu artinya, proyek pembangunan tujuh tungku sampah, gagal total tahun ini. Tungku yang diyakini mampu melibas 3-4 ton sampah dalam satu jam itu, masih menyisakan persoalan, yaitu asap.

Kini, jawaban atas ersoalan sampah seolah berada di tangan Sri Tejo Wulan yang menciptakan Osamtu. Dia tinggal mencari solusi untuk menurunkan kadar emisi karbon dari asap pembangkaran tungku.

Tejo sendri membenarkan saat ini pihaknya terkendala alat pengurai asap. a�?Saat ini belum bisa dioperasikan sepenuhnya karena belum dipasangi alat pengurai asapnya,a�? kata Tejo.

Padahal, untuk tungku pembakaran diterangkannya sudah bisa beroperasi. Bahkan, tungku pembakaran dikatakan bekerja dengan sangat baik.A� a�?Kalau tungkunya tidak ada masalah, malah kerjanya rakus. Timbunan sampah 15 sampai 16 truk per hari, pasti habis dibakar,a�? katanya.

Apalagi, tungku pembakaran sampah ini dikatakan Tejo menghemat biaya yang besar. Masalah residu abu pun kini sudah clear, karena dimanfaatkan untuk pembuatan bahan material. Sehingga kini yang jadi permasalah tinggal pengurai asapnya.

a�?Saya sudah menemui pihak Dinas Kebersihan Kota Mataram dan Dewan. Saya sudah dijelaskan untuk membuat pengurainya disiapkan anggaran Rp 200 juta. Jadi kita akan buat pengurai sepanjang kapasitas anggaran tersebut,a�? jelasnya.

Idealnya, Osamtu yang ada di Kecamatan Sandubaya ini dibuatkan enam pengurai. Karena, saat ini ruang pembakaran tungku sampah terdiri dari tiga ruangan. Masing-masing ruang pembakaran dijelaskan idealnya memiliki dua pengurai asap. Karenanya, jika pengurai sudah siap nanti, maka asap yang ditimbulkan akibat sisa pembakaran dijelaskan bisa lebih steril lagi.

a�?Minggu depan akan saya sampaikan apa saja yang bisa dibuat dengan uang Rp 200 juta tersebut. Saya akan buatkan draftnya. Jika uangnya sudah cair, baru bisa kami mulai kerjakan (pengurai asap, Red), sebulan paling lambat pengurainya sudah bisa jadi,a�? jelas dosen Fakultas pertanian Unram tersebut.

Dijelaskan Tejo kalau semuanya lancar tidak lebih dari satu bulan untuk melengkapi tungku sampah dengan alat pengurainya. Sehingga akhir Juli atau Agustus nanti sudah mulai bisa dioperiasikan. Kalau nantinya sudah lengkap dengan pengurainya, baru kemudian bisa dilakukan uji emisi. (cr-zad/ton/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *