Ketik disini

Feature

Bangun Kekompakan dalam Perbedaan

Bagikan

Marhaban Ya Ramadan. Umat muslim tentunya bergembira menyambut 1 Ramadan 1437 H yang ditetapkan mulai jatuh pada hari ini. Puluhan ribu jamaah pun memantapkan langkah kaki menuju Masjid At Taqwa untuk melaksanakan Shalat Tarawih pertama, tadi malam.

***

CAHAYA dalam Masjid At Taqwa, Mataram menyambut kehadiran para jamaah, tadi malam. Sesaat setelah azan Isya berkumandang, masjid yang berlokasi di Jalan Langko itu terpantau kian ramai. Kendaraan berjejer, terparkir di sekitarnya.

Tua, muda, maupun anak-anak, berbondong-bondong menyusun shaf dari yang terdepan. Malam itu, Masjid At Taqwa memang tampak lebih a�?hidupa�? dari biasanya, lebih ramai oleh jamaah.

Sekitar delapan shaf terisi penuh, demikian pula dengan jamaah perempuan di lantai dua masjid yang tak kalah penuhnya.

Selepas ibadah salat Isya, tidak langsung dilanjutkan dengan salat tarawih. Pengurus masjid terlebih dahulu menunggu kepastian dari pemerintah mengenai penetapan 1 Ramadan.

a�?Alhamdulillah, 1 Ramadan sudah ditetapkan mulai 6 Juni. Artinya, malam ini bisa mulai dilaksanakan tarawih,a�? informasi itu menggema di dalam masjid, disambut ucapan syukur para jamaah yang puluhan menit sudah menanti.

Sebagian besar jamaah memancarkan raut wajah gembira sekaligus penuh haru karena kembali dipertemukan dengan bulan suci yang penuh kemuliaan.

Namun, ada yang berbeda dari pelaksanaan tarawih di Masjid At Taqwa tahun ini. Tarawih di hari pertama itu sekaligus mengakhiri kesan dualisme seperti yang terjadi pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Ini menyangkut perbedaan pandangan atau keyakinan prihal jumlah rakaat dalam salat tarawih.A� Seperti diketahui, sebagian umat muslim biasa melaksanakan tarawih delapan rakaat dan lainnya biasa melaksanakan tarawih 20 rakaat.

a�?Saya dengar, biasanya jamaah yang sudah selesai melaksanakan tarawih delapan rakaat akan mundur ke belakang dan membuat jamaah tersendiri untuk melakukan shalat witir,a�? kata Gubernur TGB HM Zainul Majdi dalam sambutannya, sesaat sebelum salat tarawih dimulai.

Orang nomor satu di NTB itu pun menyarankan agar kebiasaan itu tidak lagi dilanjutkan. Menurutnya, itu hanya akan menunjukkan kesan perpecahan. a�?Tidak baik ada dua jamaah dalam satu masjid. Sebaiknya, jamaah yang hanya delapan rakaat bisa menunggu di belakang untuk kemudian melaksanakan witir bersama-sama nanti. Atau bisa memilih kembali ke rumah masing-masing dan melaksanakan witir di rumah,a�? pesan TGB.

Dengan demikian, lanjutnya, bisa menumbuhkan persatuan dan nilai toleransi yang lebih tinggi di dalam masjid. Gubernur menekankan bahwa Islam sendiri sangat kuat mendorong umat untuk kompak dan bersatu.

a�?Jadi, kekompakan, persatuan dan toleransi itu juga harus muncul di ibadah-ibadah kita,a�? pesannya.

Gubernur juga menggarisbawahi bahwa jumlah rakaat dalam tarawih, baik delapan maupun 20 sama-sama memiliki dalil atau alasan yang kokoh. Sehingga, tidak perlu ada yang merasa paling benar.

a�?Rawatlah hati. Jangan anggap lebih baik dan paling benar. Jangan sampai ibadah tarawih kita syah secara fiqih tapi pahalanya gugur karna takabur,a�? pesan gubernur yang malam itu rapi mengenakan stelah baju kokoh berwarna putih.

Pencerahan oleh orang nomor satu di NTB itu pun dapat dipraktikkan dengan baik dan khidmat selama tarawih di hari pertama, semalam.

Masih dalam sambutannya , gubernur juga mengapresiasi antusias masyarakat untuk berjamaah di masjid raya pada hari pertama tarawih. Tentu diharapkan, semangat untuk berjamaah itu bisa terpelihara hingga akhir ramadan tahun ini selesai. Bahkan berlanjut sampai bulan-bulan selanjutnya.

a�?Semoga hari-hari berikutnya, jamaah lebih ramai lagi,a�? harap gubernur.

Jamaah yang melaksanakan tarawih di masjid raya kemarin juga mendapat sekilas pencerahan rohani dari gubernur. TGB mengajak semua umat muslim untuk bersyukur karena kembali dipertemukan dengan bulan suci yang pernuh berkah.

a�?Ini karunia yang besar, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ramadan itu istimewa. Allah siapkan banyak pintu kebaikan,a�? kata TGB.

Untuk itu, ia mengajak umat muslim agar berlomba-lomba mendekatkan diri dengan bertaqwa kepada Allah. Taqwa sendiri, lanjut gubernur, bukan berarti meringankan atau menganggap cukup apa yang dikerjakan.

a�?Taqwa itu menampakkan kesunguhan kita, ikhtiar maksimal demi mendapat ridhanya,a�? lanjut gubernur.

Ramadan juga adalah tempat untuk bercermin. TGB menekankan, ramadan hendaknya dijadikan kesempatan untuk mendekatkan diri, memaksimalkan amal. a�?Berhenti mencari-cari alasan untuk pembenaran atas rasa malas kita untuk bertaqwa. Ingat, Allah itu tidak bisa ditipu karena Dia maha mengetahui,a�? pesan TGB.

Terakhir, ia mengucapkan selamat kepada seluruh jamaah karena mendapat karunia besar dari Allah untuk dapat dipertemukan kembali dengan bulan penuh kemuliaan ini.

a�?Bagus kalau selama Ramadan ini kita lebih sering Istiqomah di masjid,a�? harapnya. (Rahmatul furqan/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *