Ketik disini

Sudut Pandang

Kuat setelah Lemah

Bagikan

KUAT dan lemah adalah dua di antara sekian banyak kondisi yang pernah dialami setiap orang. Kondisi-kondisi tersebut seringkali berlangsung secara alami, tetapi tidak jarang hadir akibat rekayasa internal atau eksternal diri penderitanya.

Kuat dan lemah merupakan kondisi yang biasa hadir dalam beragam konteks, sehingga pemaknaannya lebih fleksibel.Dalam konteks akademik misalnya, kuat dan lemah diasosiasikan dengan pintar dan bodoh.

Ketika dua kata tersebut diangkut ke arena politik, maka maknanya bisa disamakan dengan kata menang dan kalah. Pun dalam dunia bisnis, kedua kata yang kontras tersebut dapat disejajarkan maknanya dengan untung dan rugi.

Kalau dipaksakan untuk hadir dalam wilayah pemerintahan atau instansi yang mengenal hirarki jabatan, kata kuat bisa ditempelkan maknanya dengan mendapat posisi atau jabatan strategis.

Sementara kata lemah diidentikkan dengan pejabat yang dinonjobkan atau posisi yang kurang strategis.

Masih banyak lagi asosiasi makna kata kuat dan lemah bila terus kita kaitkan dengan realitas dan aktivitas kehidupan yang ada lainnya.

A�Kekuatan sering kali berawal dari kelemahan. Kesadaran akan kelemahan memotivasi setiap orang untuk membenahi diri atau bekerja keras untuk meraih sukses yang membuatnya lebih kuat atau memiliki kekuatan.

Hampir semua sejarah hidup orang-orang sukses selalu berawal dari kondisi atau posisi yang tidak ideal (lemah). Dalam sejarah perjuangan para Nabi misalnya, selalu diawali (diuji) dengan posisi yang lemah akibat perlakuan tidak terpuji dari musuh-musuhnya.

Tetapi berkat kesungguhan dan keteguhan ikhtiarnya, para Nabi menjadi pemenang dan sukses mengajarkan ajarannya.

Dalam dunia bisnis, kondisi kuat (sukses) dan lemah (gagal) telah menjadi ritual yang a�?wajiba�? ada. Hampir bisa dipastikan dua keadaan tersebut dialami semua pengusaha.

Sebut misalnya Soichiro Honda, sang pendiri a�?kerajaana�? otomotif Honda. Melihat kesuksesan perusahaan otomotif terbesar tersebut saat ini, mungkin sulit kita percaya bila diceritakan sejarah kegagalan dan jatuh bangunnya sang pendiri dalam membangun usaha bisnisnya.

Sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, bangkrut dan gagal dalam usaha karena perang atau bencana alam dan akibat faktor lainnya telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidup dan bisnisnya.

A�Pada dunia birokrasi juga acap kali hadir kondisi kuat dan lemah dalam Aparatur Sipil Negara (ASN).

Kuat dalam konteks birokrasi terkait dengan prestasi dan etos kerja baik, sementara a�?lemaha�? terkait dengan etos kerja yang rendah, dan kontribusi tidak maksimal yang diberikan.

Dua bentuk kinerja yang kontras ini berakibat bagi nasib dan posisi mereka. Yang mendapat jabatan strategis dianggap kuat dan berprestasi, dan bila belum diberi jabatan atau mendapat posisi yang tidak terlalu strategis diklaim lemah dan tidak berprestasi.

Kelemahan seorang ASN dapat dijadikan sebagai spirit untuk meraih kekuatan sehingga posisi di birokrasi dapat bergeser dari yang kurang strategis ke posisi yang sangat strategis.

Fenomena ini tidak jarang ditemukan dalam dunia birokrasi. Pejabat yang awalnya berada pada posisi kurang strategis kemudian dimutasi untuk memegang posisi penting dan strategis di pemerintahan akaibat keseriusan dan kerja keras yang ditunjukkannya.

Politisi juga dikenal sebagai profesi yang sarat dengan a�?matia�? dan a�?hidupa�?, sehingga tidak heran bila ada ungkapan yang mengatakan bahwa a�?mati berkali-kali, dan hidup kembali terulang adalah hal yang lumrah dalam politik.

Paling tidak ungkapan tersebut hendak mempertegas betapa beratnya perjuangan dalam meniti karier dalam politik.

Namun, acap kali implementasi kondisi kuat dan lemah dalam ranah politik berlangsung terbalik dari profesi lainnya.

Bila lemah (rugi) adalah kondisi yang dihindari para pengusaha, atau nonjob (lemah) yang menjadi momok bagi pejabat ASN, tetapi bagi politisi justru menjadikan pendzoliman terhadap dirinya (pelemahan) sebagai momentum untuk menaikkan citra politiknya.

Beberapa pengalaman sukses politisi dalam memenangkan kontestasi politik terkadang berawal dari publikasi yang massif atas a�?pendzolimana�? yang dilakukan oleh lawan politiknya.

Inilah yang dialami Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika disindir a�?cenggenga�? oleh orang dekat Presiden Megawati saat itu.

Tapi dengan sindiran yang identik dengan kondisi a�?lemaha�? itulah yang justru mengundang simpati publik terhadap sosok SBY, sehingga purnawiran Angkatan Darat tersebut berhasil mengalahkan calon presiden incumbent pada pemilu presiden 2004 silam.

Kelemahan tidak hanya dikontribusi secara eksternal oleh pihak lain, dan bukan saja bersumber dari dalam diri. Tetapi kelemahan juga dimungkinkan bersumber dari lingkungan dan kondisi alam dimana kita hidup.

Sumber kelemahan yang disebut terakhir sering kali menjadi spirit untuk lebih kuat (maju). Inilah yang dialami Le Peres (sebagaimana dikisahkan Kasali dalam bukunya Re-Code, 2007), putra seorang tetua adat suku Masai di Kenya yang berusaha bangkit dengan meninggalkan daerahnya yang tandus dan dipenuhi hewan-hewan buas, untuk pergi belajar dengan semangat ingin merubah tanah kelahirannya.

Kisah Le Peres juga tidak jauh berbeda dengan yang dialami beberapa tokoh di tanah air yang menjadi orang sukses karena a�?melarikan diria�? dari daerah kelahirannya yang kering dan tandus.

Keberhasilan para tokoh-tokoh sukses (yang antara lain dijelaskan di atas) tidak terlepas dari kesungguhan mereka memanfaatkan atau mengubah kondisi lemah mereka (baik yang bersumber dari internal maupun eksternal) menjadi starting point untuk meraih sukses.

Maka tidak heran bila Soichiro Honda secara tegas mengingatkan kepada setiap orang dengan mengatakan a�?orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen.

Tapi mereka tidak melihat 99% kegagalan saya.a�? Oleh karena itu, Honda berpetuah a�?ketika Anda mengalami kegagalan, mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk mengubah mimpi itu menjadi kenyataan.a�?

Ibadah puasa yang dijalankan umat Islam saat ini juga mengkondisikan pengamalnya untuk a�?lemaha�? secara fisik karena tidak mendapat asupan makanan sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Namun, kelemahan tersebut ditukar dengan kekuatan saat berbuka, kala merayakan kemenangan pada hari raya Idul Fitri, dan ketika menerima imbalan surga dari Allah swt. Inilah kemenangan dan kekuatan sejati. Semogaa�� (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *