Ketik disini

Feature

Mengajar Sukarela, Sulap Rumah Jadi Sekolah

Bagikan

Sulitnya akses pendidikan bagi anak difabel mendorong Fitri Nugrahaningrum, seorang penyandang tuna netra di Desa Kediri, Kabupaten Lombok Barat mendirikan tempat belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia secara sukarela mengajar anak-anak kurang mampu di kampungnya.

***

KALA itu, usianya baru 12 tahun. Fitri Nugrahaningrum yang menderita Sindrom StevensJohnson harus dikeluarkan dari sekolah. Gara-gara ia mengalami kebutaan secara perlahan. Pihak Sekolah Dasar Negeri (SDN) 140 Jebres, Kandangsapi Surakarta, Jawa Tengah merasa tidak mampu lagi mendidiknya.

Bak petir di siang bolong, Fitri kecil tak kuasa menahan tangis. Sedih bercampur kecewa. Sebab, ia merasa masih mampu melihat dan ingin belajar seperti temannya yang lain. Tapi apa lacur, ia harus menerima kenyataan itu.

Berbagai macam pengobatan ditempuh untuk sembuh, tapi kebutaan juga yang didapatkan. Sampai akhirnya ia harus dimasukkan ke SLB A YKAB Surakarata. Sejak saat itu, semangat belajarnya tumbuh kembali.

Setelah lulus SLB A, ia pun ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah formal umum. Sayang, lagi-lagi Fitri menerima penolakan demi penolakan. Tidak ada yang mau menerima siswa penyandang tuna netra seperti dirinya.Sang ayah terus berusaha meyakinkan pihak sekolah. Akhirnya tahun 1996, ia diterima di SMAN 5 Surakarta dengan jaminan, jika ia tidak bisa mengikuti pelajaran reguler, Fitri akan dikeluarkan lagi.

Ia pun membuktikan dengan belajar tekun. Bahkan sederet prestasi pun ditorehkannya selama belajar di SMA.

Ia menjadi pemenang lomba mengarang tingkat nasional, mengalahkan ratusan pelajar normal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tahun 1999, ia lulus dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) cukup bagus saat itu yakni 49. Sampai akhirnya, ia berhasil menyelesaikan kuliah S1 dan S2 di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Sulitnya mendapatkan akses pendidikan membuat Fitri ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Meski memiliki keterbatasan, tapi ia yakin bisa berbuat sesuatu bagi orang lain. Terutama, anak-anak tidak mampu dan penyandang disabilitas seperti dirinya. Ia tidak ingin pengalaman pahitnya terulang kembali pada kaum difabel lainnya.

a�?Meski saya ini buta, saya tidak ingin jadi tukang pijat, saya tidak mau menjadi peminta-minta,a�? kata wanita kelahiran 18 Juni 1979, Tanjung Karang, Bandar Lampung ini.

Setelah tiga tahun menikah dengan Ahmad Zaki, ia pun mengikuti jejak sang suami tinggal di Desa Kediri Lombok Barat tahun 2011.

Tinggal di Lombok, daerah yang kaya dengan alam dan pariwisatanya. Ia menemukan banyak ketimpangan. Banyak anak berkebutuhan khusus tidak bisa mengenyam pendidikan.

Mereka seperti tersisih dari lingkungan sosial, tidak bisa mengenyam pendidikan dan akhirnya hanya tinggal di rumah.

Tanpa pengetahuan, tanpa keterampilan. Tidak ingin pengalaman pahitnya terulang pada mereka. Fitri akhirnya tergerak dengan mendirikan lembaga pendidikan informal bagi anak kurang mampu, juga anak penyandang disabilitas.

a�?Awalnya saya ajarin anak-anak itu mengaji, lama kelamaan jumlah mereka bertambah,a�? tuturnya.

Tanggal 20 Mei 2011, ia akhirnya mendirikan Yayasan Satelit Masa Depan Bangsa (Samara) Lombok. Sejenis yayasan, tapi belum memiliki badan hukum. Tujuannya untuk menampung anak-anak kurang mampu dan berkebutuhan khusus.

Pada tahun pertama, jumlah anak yang mendaftar 238 anak. Mereka belajar setelah pulang dari sekolah formal, sementara ada juga anak putus sekolah yang hanya belajar di tempatnya.

Ia pun membagi kelas-kelas siswanya menjadi beberapa kelas berdasarkan usia mereka. Masing-masing kelas diberi nama unik seperti kelas Cerdas, kelas Cendikiawan, kelas pandai dan sebagainya. Tujuannya agar memotivasi para siswa belajar, tidak dibeda-bedakan berdasarkan urutan nomor.

Untuk ruang belajar saat itu, ia menggunakan kamar-kamar di rumahnya. Meski reot dan hampir rusak, namun ia tetap mengajar secara sukarela.

Seiring dengan semakin banyaknya murid, ia pun menyulap rumahnya di Desa Kediri menjadi sebuah seolah. Kini, rumah dua lantai itu tidak terlihat seperti sebuah rumah. Tapi menjadi ruang-ruang kelas belajar.

Ruang keluarga dikorbankan agar para muridnya bisa belajar dengan baik. Sementara ia dan keluarga bisa pindah ke ruangan mana saja yang tidak dipakai.

a�?Saya berharap suatu saat memiliki gedung sekolah sendiri,a�? ujarnya.

Tenaga pengajar di Samara Lombok pun tidak ada yang berpendidikan tinggi. Ia memanfaatkan ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitar untuk mengajar.

Selain itu ada juga tenaga relawan, tapi kadang-kadang saja datang. Ada yang mengajar membaca Alquran, mengajar baca tulis dan sebagainya. a�?Kalau anak-anak disabel saya sendiri yang ngajar,a�? ujarnya. (Sirtupilalili/Lombok Barat/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *