Ketik disini

Metropolis

Karismatik, Dekat dengan Rakyat, Dihormati Birokrat

Bagikan

Tak banyak yang tahu kisah Sayid Ali Alkaf. Salah satu ulama dijuluki wali Qutub yang makamnya terletak di samping Masjid Qubatul Islam, Seganteng. Padahal, qaromah beliau hingga dijadikan lagu fenomenal berangkat mengaji.

***

BELEQ-beleq ujan daye, belabur kokoq babak, beleq-beleq jari dedare, maraq ambun kembang sandat! Lagu yang sangat hits, dulu. Jauh, sebelum radio dan TV, merambah kampung tempat Saya tinggal.

Dari anak-anak hingga orang dewasa, mendedangkannya. Itu, lagu religi. Karena di bait terakhir dalam lanjutan lagu, ada kalimat; Taek Ngaji, Sembahyang (pergi ngaji dan salat).

Kami, tidak pernah berfikir. Apalagi, sampai bertanya-tanya. Siapa pencipta lagu. Bagi kami, lagu ini tak kalah a�?misteriusa�� dengan pencipta lagu Kadal Nongak. Jadi untuk apa ambil pusing?

Kami hanya peduli, jika lagu didendangkan, maka itu pertanda senja telah tiba. Saatnya, Saya–bersama anak-anak–lain, ke surau terdekat: Mengaji.

Dan lagu ini, berlalu hingga puluhan tahun lamanya. Tersimpan usang dalam ingatan. Bahkan, Hippocampus yakni bagian dari sistem Limbik, yang berfungsi menyimpan kenangan dan ingatan, nyaris menghapus. Saya lupa pernah menyukai lagu itu.

a�?Iya itulah asal-muasal lagu itu,a�? tutur Ali Sahbana. Cucu dari Sayid Ali Alkaf. Cukup membuat saya tertegun beberapa saat. Benarkah?

Konon, suatu ketika Sayid Ali Alkaf hendak melintas dengan kudanya di Kokoq (sungai) Babak, Labuapi, Lombok Barat.

Karena tidak tahu kedalaman Kokoq, Alkaf pun bertanya pada seorang yang tengah asyik memancing. Namun, bukanya diberitahu dengan benar, pemancing itu malah mengerjai Alkaf.

a�?Sungainya dangkal,a�? tiru Sahbana, mengutip perkataan pemancing itu.

Karena percaya, Alkaf pun menuntun kudanya melintasi sungai. Dan betapa terkejutnya, ternyata sungai sangat dalam. Susah payah, Alkaf akhirnya berhasil meyelamatkan diri ke bibir sungai. Dan ketika, sudah aman. Alkaf lalu memanjatkan doa.

Konon, saat itu hujan besar tiba-tiba turun. Kokoq Babak yang awalnya, mengalir tenang. Berubah deras dan besar. a�?Dari sanalah lagu, Beleq-beleq Ujan Daye, Belabur kokoq Babak,a�? kisah Sahbana.

Kini, Alkaf sudah tiada. Ia meninggal pada tahun, 1953. Dari penuturan Sahbana, Alkaf adalah ulama yang sangat dihormati. Baik dikalangan rakyat biasa hingga birokrat. a�?Bahkan Jepang pun sangat hormat pada beliau,a�? ulasnya.

Alkaf adalah putra dari seorang ulama asal Hadramaut, Yaman. Nama ayahnya Abdurrahman.
Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam ke Lombok, ulama karismatik itu lalu menikahi seorang wanita asal Seganteng. Dari buah cintanya, lahirlah Alkaf. Oleh ayahnya, Alkaf diwarisi tujuh kitab.

Semuanya tentang Tasawwuf. Konon lagi, Tuan Guru Saleh Hambali, Bengkel Lombok Barat pun kepincut mendalami tujuh kitab milik Alkaf.

a�?Makanya Tuan Guru Saleh Hambali, selalu mengutus Guru Cembun, untuk meminjam kitab. Uniknya, pinjaman tidak langsung satu buku, tetapi lembar-perlembar,a�? ungkap Sahbana.

Sayangnya, ketika Lombok Post meminta melihat fisik kitab itu, Sahbana tak bisa menunjukan. Ia mengatakan, kitab tersebut kini berada di Solo, Jawa Tengah.

a�?Cara berdakwah beliau (Alkaf) juga unik,a�? beber Sahbana lagi.

Dulu, dimasa Alkaf masih berdakwah, jimat adalah senjata favorit yang digunakan orang untuk menangkal berbagai kesialan dan musibah.

Tetapi, rupanya tak hanya murid-murid Alkaf yang datang. Sekelas maling atau rampok pun, cukup percaya diri datang ke Alkaf, meminta jimat.

a�?Dan memang diberikan jimatnya oleh beliau, sesuai yang diminta orang itu,a�? Imbuhnya.

Namun yang menarik adalah, ketika kesaktian jimat teruji, saat itulah biasanya Alkaf lalu menasehati mereka agar segera bertaubat.

Dan anehnya, dakwah yang mengedepankan cara-cara pendekatan psikologis ini, ampuh. Rampok dan pencuri akhirnya bertaubat dan memilih jadi pengikut Alkaf.

Karomah, Alkaf pun konon banyak sekali. Bahkan, dia bisa meramal dengan persis, kapan akan meninggal dunia. Dari penuturan Sahbana, satu minggu sebelum meninggal, Alkaf telah berwasiat, agar jasadnya dimakamkan di samping depan masjid, Qubatul lslam, Seganteng.

a�?Bahkan beliau menyebut secara detail waktunya, yakni hari Sabtu, sekitar pukul tujuh, setelah solat Magrib,a�? kata Sahbana.

Dan benar saja, setelah satu minggu lamanya, anak-anaknya bekerja keras, menyebarkan informasi ke sanak-keluarga, jamaah hingga pejabat yang simpatik, jika pada hari dimaksud ayahnya akan meninggal dunia. Alkaf : mangkat.

Sesuai dengan permintaannya, Alkaf kemudian dimakamkan di depan sebelah utara, masjid Qubatul Islam, Seganteng. Saat ini, tempat ini bahkan dijadikan destinasi wisata, oleh dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram. Sebelumnya atas usulan dari dua tokoh masyarakat Seganteng, Lalu Abdurrahim dan H Tanwir.

a�?Banyak yang pernah berkunjung ke sana, bahkan ada yang dari luar negeri. Tetapi kebanyakan adalah para pelaku spiritual, seperti dari Malaysia, Singapura. Dari Jawa, juga ada. mereka bilang, energi yang paling kuat pancaranya datang dari situ (makam), makanya beliau juga kerap disebut Wali Qutub,a�? paparnya.

Namun, Qaromah Alkaf tak hanya semasa beliau hidup. Bahkan setelah disiarkan meninggal dunia, Alkaf menunjukan ke gaa��ibannya. Bahasa fisikanya: bersingularasi di alam paralel.

Kala itu, seorang warga Seganteng, Najmudin, hendak menunaikan rukun Islam yang ke lima. Naik Haji. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri berziarah ke makam Sayid Ali Alkaf.

Namun, betapa terkejutnya ketika sampai di tanah suci, ia ternyata bertemu dengan orang yang menyerupai dan berfisik sama persis dengan Alkaf. Bahkan tak hanya bertemu lalu berpapasan menghilang, a�?foto copya�� Alkaf itupun sempat menyapa ramah, dan memanggil namanya.

a�?Makanya, pak Haji Najmudin sampai nangis ke saya, beliau bilang, a�?masa tidak percaya, saya benar-benar bertemu dengan beliau, kakekmu, tak hanya itu, beliau juga mengenali sayaa�� katanya,a�? tandas Sahbana mengakhiri cerita. (Lalu Mohammad Zaenudin/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *