Ketik disini

Metropolis

Dibuat Pada Masa Anak Agung, Kokoh Terawat Hingga Kini

Bagikan

Penyebaran agama Islam di Lombok meninggalkan jejak-jejak berupa benda bersejarah. Banyak di antara benda ini tidak terawat, tapi beruntung ada juga yang terjaga dengan baik hingga saat ini. Seperti mimbar tua di Masjid Lebai Sandar di Ampenan.A�A�

***

SIANG itu, para jamaah salat zuhur Masjid Lebai Sandar Ampenan membubarkan diri dari sapnya. Beberapa diantaranya berdiam di dalam masjid. Ada yang membaca Alquran, ada juga yang tidur-tiduran. Masjid yang didominasi warna hijau ini memberikan kesan sejuk, dengan angin sepoi-sepoi dari sela jendela.

Meski seluruh bangunan masjid ini serba permanen, namun sebuah mimbar kayu berwarna merah nampak mencolok di bagian tengah. Tidak seperti mimbar biasanya, mimbar ini memiliki ukiran khas. Dominasi warna merah dipadu arsiran bunga keemasan.

Memiliki tiga anak tangga dan enam tiang perpaduan timur tengah dan nusantara. Mimbar ini lebih mirip singgasana raja. Pada anak tangga pertama, tongkat khatib tertancap, ukurannya kecil panjang dengan ujung tajam.

Mimbar dan tombak khatib ini merupakan benda bersejarah yang hingga saat ini masih dirawat dengan baik. Keduanya dibuat bersamaan dengan dibangunnya masjid Lebai Sandar tanggal 17 Desember tahun 1904 atau 17 Ramadan 1324 Hijriah.

a�?Mimbar ini dibuat pada zaman Anak Agung,a�? kata H Muhammad Ibrahim, salah satu pengurus masjid.

Mimbar ini menjadi benda pusaka yang masih dipakai hingga saat ini. Meski sudah tua, namun benda ini masih digunakan seperti biasa, sebagai mimbar khatib saat salat jumat. Warga tetap merawatnya dengan baik, bila ada kerusakan maka segera diperbaiki lubang kayu yang keropos. Tapi tidak pernah merubah bentuk dan coraknya.

a�?Kalau ada lombang-lobang diperbaiki, begini dah kelirnya dari dulu, dari zaman genteng, seng hingga sekarang,a�? katanya.

Selain mimbar dan tombak khatib. Benda pusaka lain di Masjid Lebai Sandar adalah piring edangan. Piring ini dipakai ketika ada acara maulid.

Sementara tombak dan mimbar hanya dipakai saat jumatan. Benda-benda pusaka itu dirawat warga agar sejarah penyebaran Islam di Ampenan tidak terlupakan.

Asal Usul Masjid Lebai Sandar Masjid tua di Dayen Peken Ampenan ini berdiri tahun 1904. Hal ini tertulis jelas di tembok masjid. Masjid Lebai Sandar telah ada sejak zaman kerajaan Bali di Lombok. Dari namanya, Lebai Sandar dipastikan berasal dari Padang Sumatera Barat, karena istilah Lebai atau orang Lombok biasa menyebutnya dengan Tuan Lebe yang berasal dari Sumatera.

Lebai Sandar datang ke Lombok membawa serta saudara perempuannya, Lebai Sari. Mereka adalah dua bersaudara yang berperan penting dalam penyebaran ajaran agama Islam di Lombok. Tapi Lebai Sari memutuskan tinggal di Desa Kediri Lombok Barat yang kemudian mengembangkan ajaran Islam di sana.

Muhammad Safwan, salah seorang peneliti menuturkan, kedatangan Lebai Sandar dan Lebai Sari menjadi babak baru penyebaran Islam.

Sebagai wilayah yang heterogen, Ampenan gampang menerima kehadiran orang lain yang datang dari berbagai penjuru, termasuk kehadiran kedua Tuan Lebe tersebut.

Di tengah masyarakat yang memegang tradisi lokal yang kental dengan pengaruh Hindu Bali, Lebai Sandar secara diam-diam melakukan dialog, menyampaikan pesan dan dakwah Islam baik secara prilaku maupun penyampaian tausiyah.A� Dakwah tersebut dilakukan dengan tekun dan sabar.

Ketekunan dan kesabaran mereka, pelan-pelan membuahkan hasil. Banyak warga yang tertarik lalu bergabung menjadi pengikutnya.

Tak lama setelah itu, tantangan mulai datang. Gerakan Tuan Lebe, akhirnya terendus oleh raja yang berkuasa saat itu. Spontan kegiatan penyebaran pun dilarang.

Tapi penyebaran Islam tetap berjalan, salah satu buktinya adalah berdirinya madrasah di Dayen Peken. Berdiri di selatan masjid yang ada saat ini. Sekarang tempat itu menjadi rumah warga.

Ia mencatata beberapa Tuan guru yang pernah mengajar di Madrasah Dayen Peken antara lain Tuan Guru Haji Munir Karang Bedil dan Tuan Guru Haji Munawar. Selain itu Ismail, dan Tuan Guru Haji Musanif sebagai kepala Madrasahnya.

Keduanya asli Dayen Peken. Pada zaman perang, warga pribumi seperti warga Dayen Peken banyak mengungsi ke arah utara seperti Batu Layar dan Ireng, Lombok Barat bersama keluarganya. (Sirtupillaili/Mataram /r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *