Ketik disini

Giri Menang

Dugem Dibatasi, Miras Sesuai Permintaan

Bagikan

Selama Ramadan, hiburan malam tetap diberi kesempatan. Pengusaha dunia gemerlap (dugem) hanya dipangkas jam operasinya.

***

GEMA Ramadan mulai terasa. Hari pertama masuk puasa, suasana sepi menghiasi sendi-sendi kawasan wisata ternama Senggigi. Sunyi nan sepi berlanjut dihari kedua. Hiburan malam tak satupun dibuka.

Pintu masuk kafe-kafe yang biasanya terbuka lebar telah ditutup. Para pemilik kafe hanya membiarkan ruang untuk masuk kendaraan motor.

Disamping pintu masuk, seorang satpam dengan seragam lengkap warna biru terlihat santai sambil mengisap sebatang rokok.

Malam itu benar-benar sepi. Tidak seperti hari lainnya. Gemerlap nada-nada dari bilik ruangan tak terdengar. Maklum, dua hari pertama puasa, mereka dilarang beroperasi.

Di sisi lain, beberapa perempuan berbadan seksi tampak lalu lalang. Namun, mereka tak mengenakan pakaian seksi lagi, seperti yang dikenakan kala menemani pengunjung kafe. Perempuan-perempuan itu hanya mengenakan kaos oblong biasa.

Setelah melewati hari kedua puasa, suara musik mulai terdengar. Keramaian menghiasai kafe-kafe. Kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi halaman parkir.

Suasana itu akan terlihat sejak pukul 21.00 Wita hingga pukul 01.00 Wita. Tempat hiburan malam hanya diberikan waktu beroperasi dengan durasi lima jam saja.

a�?Hari pertama dan kedua puasa, kami dilarang pemerintah untuk buka. Larangan itu kami patuhi,a�? aku Ichsan, penanggung jawab di Cristal Kafe.

Sebelum memasuki ramadan, pemda memang menyebarkan surat imbauan berisi pemangkasan jam bagi hiburan malam selama bulan puasa.

Dua lembar surat berisi imbauan ditujukan bagi pengusaha SPA, Karaoke, Diskotik, Biliard, dan Live Musik.

Untuk tempat hiburan yang menggelar karaoke diminta memperhatikan tingkat kebisingan. Aturan itu sengaja dibuat agar aktivitas mereka tidak sampai menganggu kenyaman orang yang menjalankan ibadah puasa. Apalagi, jam buka hiburan malam nyaris bertepatan dengan waktu tarawih.

Disamping itu, jam berakhir hiburan malam dipangkas. Mereka tidak diizinkan menggelar dugem sampai memasuki waktu makan sahur.

Dalam surat edaran itu, SPA diberikan izin membuka sejak pukul 21.00 Wita-23.00 Wita. Karaoke sejak pukul 22.00 Wita-24.00 Wita.

Diskotik buka dari pukul 22.00 Wita hingga pukul 01.00 Wita dan Biliard dari pukul 22.00 Wita samai pukul 24.00 Wita. Sedangkan, live musik diberikan izin buka dari pukul 22.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita.

Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Herman mendukung langkah pemda ini. Dirinya selaku pengelola hiburan malam tetap mengikuti menjalani pembatasan jam ini sesuai kebijakan pemda dan izin keramaian dari polisi.

a�?Kami tidak kaget, karena aturan ini selalu diterapkan di bulan Ramadan,a�? ujar dia.

Pembatasan ini sudah pasti membuat pengusaha hiburan malam merelakan pendapatannya menurun. Biasanya, penghasilan mereka ikut turun seiring dengan jam buka yang dibatasi.

Selain itu, ramainya kunjungan sangat berpengaruh. Tidak banyak tamu-tamu yang meluangkan waktu untuk dugem di bulan puasa. Kendati demikian, mereka tidak mempersoalkan. Terpenting, mereka tidak dilarang buka selama bulan puasa.

a�?Sudah pasti rugi. Kita tutup dua hari saja, ruginya sudah besar,a�? bebernya.

Bulan Ramadan ini menjadi beban tersendiri bagi pengusaha hiburan malam. Sebab, mereka harus membayar Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara, pendapatan di bulan Ramadan kerap turun.

Situasi ini yang membuat mereka sedikit pusing. Mereka diharuskan membayar gaji plus THR sesuai ketentuan kementerian tenaga kerja. Dimana, THR harus dibayar satu kali gaji.

a�?Tapi kami tetap bayarkan sesuai dengan kemampuan,a�? ujarnya.

Masihkah miras dijual? Herman mengaku tetap menyediakan. Suguhan miras menjadi menu andalan bagi pengunjung. Kendati demikian, pengusaha kafe tidak sembarangan menawarkannya.

a�?Pemilik kafe akan melayani permintaan minuman beralkohol jika ada pesanan,a�? aku dia.

Penjualan ini miras beberapa kafe sudah legal. Karena mereka telah mengantongi izin dari instansi terkait. Herman kembali menegaskan, pengelola kafe tidak akan dan pernah menawarkan para tamu dengan miras. Pihaknya akan melayani tergantung permintaan.

Jika mereka meminta miras, pasti pelayan akan menyuguhkan. Sebaliknya, jika tamu memesan makan, karyawannya tetap melayani.

a�?Kami tidak hanya menyediakan miras saja. Ada makanan juga. Kalau sekedar nyanyi tanpa miras, kami tetap layani,a�? pungkas dia. (Wahidi Akbar S /GiriI Menang/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *