Ketik disini

Metropolis

Sehari Mampu Sembelih 20 Sapi

Bagikan

Bagi sebagian orang, sosok jagal selalu identik dengan keberingasan. Tapi kenyataanya, mereka adalah orang-orang ramah dan humoris. Seperti Pastipal Rohyadi, salah seorang jagal di RPH Majeluk.

***

SUBUH Hari masih gelap. Bau anyir darah bercampur kotoran sapi menusuk penciuman saat memasuki Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk. Beberapa ekor sapi bersimbah darah setelah disembelih. Para jagal menguliti dan memotong daging sapi ini. Kemudian digantung dan ditimbang sebelum diserahkan ke tangan para pengecer.

Beginilah kesibukan yang dialami para jagal di RPH Majeluk setiap harinya. Mereka mulai bekerja sejak subuh. Dalam hitungan jam para jagal bisa menyembeli 19 sampai 20 ekor sapi.

Meski pekerjaan ini kasar, tapi peran mereka sangat vital. Bila sehari saja tidak menyembeli sapi, dipastikan pasar akan geger. Apalagi saat ini harga daging sedang mahal-mahalnya. Tapi berkat jasa mereka masyarakat bisa mengkonsumsi daging yang sehat dan aman.

Salah satu sosok jagal yang disegani di RPH Majeluk adalah Pastipal Rohyadi. Pria kelahiran 30 September 1972, asal Seganteng Cakranegara Selatan ini merupakan koordinator para jagal.

Sejak kecil ia sudah belajar menjadi jagal, mengikuti jejak orang tuanya. Karena sudah terbiasa dengan lingkungan jagal, Pastipal lambat laun mulai belajar. Pada usia 16 tahun, ia memberanikan diri menjadi jagal dengan modal Rp 2,5 juta. Saat itu bisa membeli dua ekor sapi.

Pastipal lantas merintis usahanya sebagai jagal. Sambil belajar di SMAN 3 Mataram, bahkan hingga kuliah di AMM Mataram ia tetap menjagal.

Usaha ini cukup menguntungkan, ia merasa bangga di usia muda sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Sehingga ia keterusan menjadi jagal sampai kini.

Tahun 1990-an, ia sempat ditawarkan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) tapi dengan syarat harus mengeluarkan uang sogokan Rp 9 juta. Ia pun dengan tegas menolak syarat itu dan memilih tetap menjadi seorang jagal.

Baginya percuma menjadi PNS kalau dengan cara nyogok. Apalagi uang Rp 9 juta saat itu bisa digunakan untuk membeli 9 ekor sapi.

a�?Saya memilih tidak jadi pegawai,a�? ujarnya.

Menurutnya menjadi jagal jauh lebih terhormat daripada jadi seorang pegawai yang lulus dengan cara nyogok. Apalagi menjadi jagal juga bisa memberi manfaat lebih besar bagi orang lain. Sebab setiap jagal bisa mempekerjakan minimal 3 orang.

Bahkan satu ekor sapi bisa menghidupi 10 keluarga. Tidak hanya mengambil daging, bagian tubuh sapi lainnya juga bisa dijual sehingga menguntungkan orang lain.

a�?Semua bagian tubuh sapi itu bermanfaat, bisa dijual mulai daging, dari kepala, kulit, tulang dan sebagainya,a�? katanya.

Rohyadi pun pernah melalang buana menjadi jagal di Sumbawa. Di sana ia terbilang sukses. Dalam sebulan keuntungan bisa mencapai Rp 100 juta.

Selain ituA� ia juga mengajarkan warga di sana cara menyembelih hewan yang benar. Tapi setelah menikah, ia pun balik ke Lombok menjadi tukang jagal.

Sang istri, Fatmawati yang merupakan seorang perawat pun kerap ikut menjagal bersama dirinya. Sempat bekerja di RS Bayangkara, istrinya memilih berhenti dan ikut menjadi jagal seperti dirinya.

Menurutnya, kunci sebuah pekerjaan harus dijalani dengan ikhlas, senang dan jujur. Menjadi seorang jagal juga harus memiliki ilmu tersendiri, aturan agama harus paham, cara menyembeli hewan yang benar harus tahu.

Jika tanpa tuntunan agama, akibatnya bisa parah. Seperti harus mengucap basmalah sebelum menyembelih. a�?Menjadi jagal juga harus sesuai aturan dan syariat agama,a�? kata bapak dua anak ini. (Sirtupillaili/Mataram /r4)
A�

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *