Ketik disini

Oase

Tuan Presiden dan KFC

Bagikan

a�?AMAQ, itu gambar Jokowi, Amaq!a�? teriak Kaylila antusias menunjuk sebuah papan reklame besar di selatan Bandara Selaparang, Lombok. Saya tersenyum, sambil mengoreksi, Nak, itu bukan Presiden Jokowi, itu gambar Kolonel Sanders, maskot franchise ayam goreng Amerika, KFC.

a�?OOO begitu keee!,a�? balasnya lugu menirukan tokoh serial animasi Malaysia, Upin-Ipin yang diidolakannya.

Dialog itu sudah kesekian kali. Terakhir pekan lalu saat saya membawanya ke sawah. Tapi, bocah bawel jelang empat tahun ini masih ngotot itu adalah gambar Pak Presiden.

Otak mungilnya mungkin belum bisa tepat memindai. Dikiranya kakek beruban simbol kapitalisme barat itu adalah Presiden Jokowi yang kerap disebut-sebut di televisi.

Dulu saat media belum seramai kini, rasanya sosok presiden lebih mudah diingat. Berita TVRI malam hampir pasti memuatA� presiden sedang meresmikan ini dan itu. Ada saluran tunggal yang mengabarkan terus menerus tentang simbol-simbol republik.

Tapi zaman berubah dan memberi lebih banyak pilihan mengonsumsi informasi. TV, radio, koran dan internet tentunya. Tapi para pemodal memenuhi ruang siar dengan tayangan semaunya.A� Mungkin ini juga yang bikin Kaylila,A� hampir hafal mars Partai Perindo yang seolah tak kenal waktu muncul di televisi.

Tapi omong-omong soal Presiden, dulu tak jauh dari papan reklame ini, ribuan kami murid SDA� diajak guru berbaris sepanjang jalan. Dengan bendera dari kertas minyak, kami menyambut Presiden Soeharto datang dari Jakarta. Sekolah diliburkan, jalanan lengang, semuanya tertib dan teratur.

Sebentuk penghormatan atau kepatuhan yang tak kita temukan saat ini. Atau mungkin kini warga punya cara berbedaA� menghormati pemimpinnya. Boleh jadi dengan unjukrasa, menegur langsung di Twitter atau lewat rangkaian meme-meme kocak di Facebook dan Instagram.

Tapi demikianlah konsekuensi sebuah transisi demokrasi. Arus bebas informasi yang menjejali lini massa membuat kita mudah lupa. Tak hanya soal presiden, zaman kini seolah menenggelamkan apa yang dulu demikian disakralkan. Pancasila.

Soal seberapa ampuh lima sila itu sebagai sebuah falsafah bernegara rasanya tak perlu diragukan. Orang-orang tua kita telah mendebat dan mengujinya.A� Tapi selepas reformasi sepertinya Burung Garuda itu seolah ditinggalkan, kesepian, terpakuA� di dinding-dindingA� kantor kelurahan.

Bahkan dalam hitam-putihnya, Orde Baru punya ramuan sendiri untuk merawat Pancasila. Semenjak dini, dasar negara itu didoktrinkan dalam setiap jenjang pendidikan melaui Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Lewat ragam cerdas cermat atau mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Bahkan di setiap upacara bendera, lima butirnya wajib dibacakan bersama Pembukaan UUD 1945.

Tapi setelah orde itu tumbang, program ini seperti hilang. Menyusul kemudianA� penghapusan ketentuan asas tunggal Pancasila. Ini membuka lebar pembiakan asas-asas ideologi di luar Pancasila tumbuh.

Lima sila itu tak lagi mutlak, dia punya banyak tandingan.A� Tentu ini belum termasuk genderang otonomi daerah yang menguatkan semangat berbau nasionalisme sempit kedaerahan. Perda-perda yang tak ramah pada konsep ke-Bhinekaan tumbuh. Sekali lagi Pancasila yang menua dibiarkan sendirian.

Tapi zaman juga punya cara sendiri untuk mengingatkan apa yang terlupa. Semisal banyolan tak lucu pedangdut Zaskia Gotik yang menyamakan simbol garuda dengan Bebek Nungging.

Tiba-tiba banyak yang marah. Merasa lambang negara dilecehkan. Protes sana-sini bahkan sampai ke Senayan. Selepas itu kita tahu sendiri ujungnya, kembali lupa seperti biasa. Dan Si Pedangdut Goyang Itik jadi Duta Pancasila.

Ibarat pernikahan Pancasila adalah akad yang diucapkan para pendiri bangsa. Ketika kesepakatan itu mulai dilupakan, merupakan lampu kuning bagi NKRI itu sendiri. Dalam kondisi itu wajar jika ramalan Francis Fukuyama tentang negara gagal itu kembali terngiang.

Karena itu, konsep Azyumardi Azra tentang meremajakan kembali (rejuvenasi dan revitalisasi) Pancasila patut segera diwujudkan. Pancasila semestinya tak dijadikan monumen semata. Harus ada upaya mendiskursuskan, memaknai kembali Pancasila ke ruang publik. Sehingga menghasilkan pemikiran baru dalam semangat kekinian, yang lebih muda.A� Yang lebih gaul, kata anak sekarang.

Jika tidak tunggu saja waktunya. Ideologi-ideologi lain sudah tumbuh lebih segar dan siap memunculkan diri sebagai alternatif. Semisal ideologi-ideologi berbasis agama tertentu yang tumbuh subur. Bahkan bukan tak mungkin almarhum Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir kembali dalam konsep dan format yang lebih segar, lebih menarik sesuai kebutuhan publik saat ini. Mungkin saja.

Tapi mengubah ideologi tak semudah mengganti cat rumah. Pancasila adalah titik tengah dimana semua kepentingan bersepakat menjadi Indonesia. Untuk mencapai itu ongkosnya tak murah, banyak darah yang tumpah.

Lalu bagaimana jika kekhawatiran Fukuyama di atas terbukti? Pecahnya NKRI memang bukan akhir dunia. Tapi kisah perceraian negara-negara di Uni Soviet atau Yugoslavia patut dibuka sebelum kita coba-coba mengganti Pancasila. (r10)

Penulis : ZULHAKIM, jurnalis, co founder Semeton Ampenan

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *