Ketik disini

Metropolis

Dikenal Paling Ramah, tapi Tetap Tegas

Bagikan

Gapailah cita-citamu setinggi langit. Lettu Inf M Guntur, pemuda asal Desa Bugis, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima benar-benar menjalani pribahasa tersebut. Ia kini menjadi satu-satunya putra Bima yang diamanahi tugas besar sebagai anggota Pasukan Pengamanan Presiden. Seperti apa kisahnya?

***

 SUARANYA lantang, memberi arahan sebelum dimulainya acara peresmian Mobile Power Plant di PLTU Jeranjang, Lombok Barat, pada Sabtu (11/6). Dengan tegas, ia menginstruksikan tamu undangan yang hadir agar tertib.

“Di sebelah sini, tidak boleh ada yang berdiri. Silakan ambil posisi di belakang,” Guntur mengarahkan melalui pengeras suara.

Adalah tugasnya untuk memastikan kenyamanan dan keamanan acara. Pasalnya, kegiatan tersebut akan dihadiri langsung oleh orang nomor satu negeri ini, Presiden RI Joko Widodo.

Pria bertubuh jangkung dengan kulit sawo matang itu pun menebar pandangan ke seluruh penjuru, memastikan tak ada hal yang mengganggu ketika Presiden tiba di lokasi.

Betugas sebagai anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Guntur memang dituntut untuk mendayagunakan seluruh kemampuan demi meminimalisir resiko ancaman yang bisa datang setiap saat. Bahkan, sebelum Presiden tiba di lokasi pun, ia harus memastikan tempat beserta segala fasilitas dan instalasi yang akan dituju atau dimanfaatkan kepala negara telah steril dari resiko ancaman.

“Kami baru mendapat informasi, Bapak Presiden sudah di jalan menuju ke lokasi acara,” ujarnya.

Meski dituntut untuk tegas, Guntur tetaplah pribadi yang supel. Awak media maupun tamu undangan yang hadir di lokasi acara pun banyak memuji sifatnya yang ramah. Bahkan, sembari menunggu Presiden tiba di lokasi, ia berinisiatif mencairkan suasana dengan meminta pembawa acara melantunkan lagu daerah.

“Sambil menunggu kedatangan Pak Presiden, kita bisa mendengarkan lagu-lagu daerah. Saya putra NTB dan rindu sekali lagu daerah,” kata Guntur.

 Alunan lagu “Pasapu Moca” pun dilantunkan, mengobati kerinduan ayah dari tiga orang anak itu akan kampung halamannya di Bima.

 Guntur sendiri sudah mengabdi sebagai anggota Paspampres sejak masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Begitu Pak SBY terpilih lagi untuk kedua kalinya, itulah awal saya menjalani karir sebagai Paspampres sampai sekarang,” ceritanya kepada Lombok Post usai acara.

 Terpilih sebagai anggota Paspampres jelas bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Pria yang kini berusia 40 tahun itu melalui perjalanan panjang yang menuntut dedikasi dan kerja keras.

Semua berawal sejak ia bergabung sebagai anggota TNI selepas lulus dari SMA Pelita Sape tahun 1993.  “Memang dari kecil saya cita-cita jadi tentara,” kenangnya.

 Setelahnya, Guntur sempat melalang buana, melaksanakan tugas di Papua. Selepas itu, ia lulus tes sebagai anggota Kopasus. “Saya sempat juga sekolah perwira dan bertugas di Perwira Inteljen I Sumba Kodam 9 Udayana,” kenangnya.

Berkat kompetensinya, nama Guntur pun terangkat dan diberi kepercayaan yang lebih besar lagi untuk mengikuti seleksi sebagai anggota Paspampres. Seleksi itu pun jelas super ketat. Ia harus bersaing dengan ribuan anggota satuan lain hingga akhirnya hanya terpilih segelintir orang saja.

“Kebetulan hanya saya sendiri orang Bima yang lulus dan sampai saat ini Alhamdulillah masih dipercaya untuk mengawal presiden,” tutupnya. (Rahmatul Furqan/Mataram/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *