Ketik disini

Headline Metropolis

Tanpa Pak De, Lombok Post Mungkin Tidak Akan Pernah Ada

Bagikan

PUKULA�15.00 sore kemarin (13/6), ponsel saya berdering, telepon dari salah seorang petinggi Jawa Pos di Surabaya. Biasanya kalau beliau menghubungi saya, pasti ada instruksi mulai dari permintaan pengiriman berita atau penugasan untuk mengawal suatu peristiwa besar di NTB. Tapi kali ini beda dan mengejutkan.

”Mas Alfian, Ibrahim Husni itu om Anda ya?” tanya dia. ”Lebih tepatnya Pak De saya, mas,” jawab saya.

Kemudian dia melanjutkan dengan perkataan yang agak berat untuk dia sampaikan ke saya. ”Mas, yang sabar ya. Ini saya dapat kabar dari teman Jawa Pos di Jakarta, beliau ditemukan menginggal di kamarnya. Tapi coba mas cari informasinya apakah benar atau tidak,” ucapnya.

Setelah menutup telepon dari orang tersebut, saya sempat seperti tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bengong memandang keluar jendela ruang kerja saya. Saya harus bertanya ke siapa untuk memastikan. Sambil membuka daftar kontak personal di ponsel, akhirnya saya menemukan nama Helmi. Dia adalah putra kedua Pak De Ibrahim. Tinggalnya di Bengkulu. Tanpa menjawab salam, saya langsung bertanya. ”Betul mas?”

Sambil terisak nangis Helmi mengiyakan pertanyaan saya.

*****

Tulisan ini saya bikin saat berada di dalam pesawat menuju Jakarta. Tujuannya untuk membawa jenazah almarhum ke kampung halamannya, di Dusun Kondok, Desa Sepit, Kecamatan Keruak, Lombok Timur.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk almarhum. Mungkin teman-teman di Lombok Post, terlebih yang muda-muda tidak banyak yang tahu sosok almarhum.

Beliaulah sosok paling berjasa bagi Lombok Post. Meskipun tidak pernah terlibat langsung membesarkan koran ini.

*****

Bersama mahaguru kami Dahlan Iskan, Ibrahim Husni muda adalah perintis Jawa Pos. Saat itu Eric Samola baru saja membeli Jawa Pos dari pemiliknya. Jawa Pos tahun 80-an adalah koran kecil yang nyaris pailit. Setelah mengakuisisi Jawa Pos, Eric Samola yang waktu itu juga sebagai pemilik majalah Tempo, menunjuk Dahlan Iskan yang saat itu cuma sebagai wartawan Tempo biro Samarinda untuk membesarkan Jawa Pos. Eric Samola mempercayakan nasib Jawa Pos sepenuhnya kepada Dahlan.

Ibrahim Husni muda yang saat itu sudah lebih dulu di Surabaya dan sebagai wartawan Tempo biro Jawa Timur diajaknya bergabung untuk membesarkan Jawa Pos.

Singkat cerita, agar Jawa Pos bisa berkembang di tangan mereka berdua dan beberapa orang di tim perintis, mereka memutuskan untuk merekrut beberapa tenaga yang kelak akan ditugaskan sebagai wartawan.

Lantas Ibrahim meminta Ismail Husni muda, yang saat itu baru duduk di bangku kuliah semester awal, untuk mengikuti tes menjadi wartawan Jawa Pos. Di depan Dahlan, Ibrahim berani bertaruh kalau adiknya ini bisa diandalkan.

*****

Ibrahim memang telah membuktikan itu. Seiring Jawa Pos yang semakin berkembang, karir Ismail juga moncer.

Sedang asyik-asyinya menjabat sebagai koordinator liputan di Jawa Pos, Dahlan lantas memerintahkan Ismail untuk pulang kampung membesarkan koran yang baru diakuisisi oleh Jawa Pos, Suara Nusa namanya sebelum berganti nama Lombok Post. Koran ini, A�kini juga berkembang sangat baik dan semakin besar.

*****

Ibrahim seperti memberi jalan kepada adiknya ke tangga kesuksesan. Sementara karir jurnalisnya sendiri cukup singkat. Berbagai bidang usaha ia geluti. Bertarung di dunia politik hingga mengurus sepak bola di PSSI pusat juga sudah dicicipi. Pengalaman hidupnya segudang.

*****

Di suatu perjalanan mengendarai mobil hendak ke Kota Malang, hanya berdua dengan ayah saya. Entah, saya lupa kami sedang berdiskusi soal apa. Tentang almarhum juga menjadi salah satu topiknya. Ucapan dari ayah saya yang masih terus akan saya ingat soal almarhum begini, ”Nak, bagaimanapun juga itu Pak De mu jasanya besar bagi ayah. Mungkin tidak ada Lombok Post kalau tidak ada dia.” Selamat jalan Pak De… (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *