Ketik disini

Metropolis

Jadi Anak Asuh Sekaligus Pendakwah Anak Agung

Bagikan

Makam itu sangat misterius. Kisah sosok yang terkubur di sana juga hanya sekelumit orang yang tahu. Bahkan diyakini jelmaan malaikat yang muncul dari kedalaman laut. Berikut kisahnya.

***

SAYA sudah dua kali mengunjungi makam itu. Dan akhirnya jasad siapa yang terbujur di liang lahat itu terbongkar juga kisahnya. Makam yang kerap didatangi puluhan warga Duman, Lombok Barat. Mereka kerap datang berziarah ke tempat itu.

Adalah H Asari warga kelurahan Sayang Sayang, meminta Lombok Post menemui langsung H Erun. Seorang kakek, berusia sekitar 100 tahun.

Saat Lombok Post, menemuinya di kediamannya, H Erun terlihat antusias berbagi cerita. a�?Oh, jadi mau tahu, kisah tentang makam itu,a�? sambutnya, hangat.

Beberapa anggota keluarga lain tersenyum. Sepertinya, makfum. Bahkan yang lain manggut-manggut. Seolah-olah menegaskan, H Erun adalah orang yang bisa dipercaya, a�?memprawikana�� kisah sosok di balik makam misterius itu.

Meski tidak ada bukti sejarah, baik berupa prasasti, tulisan atau peninggalan sejarah lain yang bisa dijadikan bukti memperkuatnya. a�?Nama guru yang dimakamkan di sana, Malekat (Malaikat, Red) Jero Batu,a�? kata H Erun, memulai kisah.

Alkisah, saat itu sekelompok nelayan tengah memasang kerakat (jaring, Red). Di pinggir pantai Ampenan yang saat ini menjadi cikal bakal lingkungan Pondok Prasi. Tiba-tiba, seorang nelayan berteriak histeris. Bukan ikan yang didapat, tetapi malah jabang bayi!

a�?Gemparlah, warga dengan penemuan bayi itu. Hingga sampai ke telinga raja Anak Agung saat itu,a�? imbuh kakek yang saat ini tidak bisa lagi berjalan. Lumpuh. Namun, ia mengaku ingatannya masih sangat segar. Apalagi tentang kisah-kisah terdahulu.

Keadaan bayi yang sehat bugar, meski muncul dari dalam laut, membuat Anak Agung tertarik mengasuhnya. Ia lantas meminta anak ajaib itu, lalu memberinya nama, Malekat Jero Batu!

a�?Disebut Malekat, karena ia seperti malaikat yang datang tiba-tiba. Bahkan dari laut. Sementara ia juga diberi gelar Jero yang maknanya, orang dalam kerjaan. Dan, batu merupakan simbol keteguhan bayi menghadapi laut, tetapi masih tetap hidup,a�? ulasnya.

Uniknya semakin dewasa, kisah Jero Batu, makin menyerupai cerita Nabi Musa AS. Misalnya, ketika menapaki usia remaja, Jero Batu lalu meminta Anak Agung, bertauhid pada Tuhan Yang Satu. Lalu menegakkan Salat.

a�?Jadi saat itu, setelah cukup dewasa, tiba-tiba Jero Batu meminta pada Anak Agung untuk Sembahyang (Salat, Red). Anak Agung pun geram, lalu meminta prajurit kerajaan menangkap anak asuhnya itu, sampai dapat,a�? kata H Erun dengan wajah berapi-api, khas dengan intonasi orang tua Sasak saat bertutur.

Pelarian Jero Batu pun dimulai. Konon, ia bersembunyi ke berbagai tempat. Sembari menyebarkan agama Islam pada warga-warga yang ditemuinya. Menurut kisah yang didengar H Erun dari kakeknya, pelarian Jero Batu, bahkan sampai mengantarkannya ke Desa Sekotong, Lombok Barat.

a�?Beliau terus berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Konon, jika ada prajurit yang melintas, ia cukup menggunakan satu lembar daun untuk menyembunyikan diri. Di Sekotong, Jero Batu lalu meminta izin pada Kakek saya, membuat sumur,a�? ungkapnya.

H Erun menyebut sumur itu, saat ini masih ada. Warga, menamainya, Lingkoq Keramat (Sumur Keramat). Jika ada warga yang dicurigai punya ilmu Selaq (ilmu hitam), konon akan langsung tewas jiwanya jika dibasuh air itu.

Sampai akhirnya, dalam pelarian Jero Batu, akhirnya sampai di Sayang-sayang. Di tempat itu, dia lalu menikah dengan seseorang gadis.

a�?Saya lupa nama istrinya, tapi istrinya itu punya saudara namanya amaq Sam (salah satu warga Sayang Sayang di barat jalan),a�? ujarnya.

Tapi, telik sandi Anak Agung kembali berhasil mengendus keberadaan Jero Batu. Sampai akhirnya kemudian ia berpamit pada anak dan istrinya untuk kembali ke tempat asalnya. Konon ia lalu meninggalkan kain sorban, sebagai pengobat rindu istri dan anaknya.

a�?Dalam kesaksian selanjutnya, tiba-tiba Jero Batu disiarkan meninggal dunia, dari mulut ke mulut. Saat itulah keajaiban (Qaromah, Red), kembali terlihat. Warga yang saat itu, jumlahnya masih bisa dihitung jari, tiba-tiba dikejutkan oleh penampakan lautan tangan yang ikut membawa keranda mayat,a�? ujarnya.

Bahkan dalam kesaksian Ida Kedok yang dikutip H Erun, salah satu warga Hindu yang tengah menggarap sawah tidak jauh dari kuburan Sayang Sayang saat ini, menyampaikan kesaksian yang berbeda. Jika warga saat itu tengah riuh-rendah oleh informasi meninggalnya Jero Batu, justru Ida Kedok mengaku tak percaya.

a�?Ida Kedok bilang, a�?baru saja, dia lewat di sini, sempat saya tanya katanya mau ke Langkoa��,a�? kutipnya.

Pernyataan Ida Kedok, konon senada dari pengakuan sejumlah pelayat yang hadir saat itu. Mereka juga merasa aneh dengan bungkusan mayat yang dimasukan, konturnya seperti Gedebok (batang pisang, Red).

a�?Saat itulah orang-orang semakin yakin, jika nama Malekat bukan hanya sekedar nama. Tetapi, memang perwujudan sebenarnya Jero Batu,a�? kata H Erun, mengakhiri cerita.

Namun yang menarik lainnya adalah, H Erun yang mengatakan jika Jero Batu, sempat juga memperkenalkan dirinya sebagai Sayyid Ali Alkaf (baca tulisan sebelmnya : Sekelumit kisah Sayid Ali Alkaf, Wali Qutub dengan segudang Qaromah, terbitan Kamis 9/6).

a�?Beliau juga memperkenalkan diri dengan nama Sayyid Ali Alkaf,a�? ujarnya. Sungguh misterius.(Lalu Muhammad Zaenudin/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *