Ketik disini

Headline Metropolis

Tadarus dan Bedurus

Bagikan

Ramadan malam hari menjelma menjadi milik muda-mudi. Mereka tadarus hingga larut di masjid sekaligus menikmati sensasi curi-curi pandang. Inilah sisi lain perwujudan cinta pada Sang Pencipta, sekaligus cinta pada belahan jiwa. Hablumminalloh dapat, hablumminannas pun rapat.

***

TANGAN Lalu Darminto cekatan mengoles gel di rambut. Meski berambut kelewat pendek, pemuda Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah itu tetap ngoyo. Sebisa mungkin rambut seupritnya harus dibentuk.

“Biar keren,” celetuknya disusul tertawa lebar.

Setelah rambut beres, Ami, begitu Lalu Darminto karib disapa, meraih parfum kesayangannya. Ia semprotkan ke sekujur tubuh. Wusssh…! Aromanya menyengat memenuhi kamar. Tak puas di badan, parfum juga disemprotkan di baju. Percayalah, harumnya menggoda.

“Sak niki bagus nggih? (ini bagus ya),” tanya pemuda itu menunjuk setelan batik, meminta komentar Lombok Post yang menjadi tamu utama di kamar tempatnya tidur di rumah orang tuanya, Sabtu (11/6).

Tarawih Ramadan baru bubar di Masjid Ganti, kala Ami melesat pulang untuk berhias.
Sebenarnya yang dikenakannya bukan baju baru. Tapi baju kerjanya. Cuma Ami enggan menanggalkannya. Pertama, sudah terlanjur melekat di badan. Kedua, ia ingin menunjukkan bahwa ia sudah berhasil bekerja.

Di rumahnya, Ami memang tengah berdandan pol. Dia tak hendak menghadiri kondangan. Tradisi suku Sasak, populasi utama Pulau Lombok, pantang kalau kondangan dihelat waktu Ramadan.

Lalu dandan untuk apa Ami? Dia hendak tadarus di masjid. Itu sebabnya, sebelum dandan, Ami mengambil air wudu terlebih dulu. Dan yang akan disambanginya bukan satu atau dua masjid saja. Tapi banyak. Tidak dekat pula.

Inilah tradisi yang hingga kini masih terawat baik di sedikit tempat di Pulau Lombok. Suku Sasak menamakannya Bedurus. Sebuah aktivitas yang dilakoni para pemuda secara berkelompok untuk berkeliling tadarus dari masjid satu ke masjid lain pada bulan Ramadan. Mereka akan menyatu dan berbaur dengan remaja putri yang biasanya juga sudah menanti tadarusan di masjid.

Kelak, tradisi ini akan berujung dengan takbir keliling menyambut Hari Raya Idul Fitri. Juga dari masjid satu ke masjid yang lain. Tentu saja dengan dandanan yang tak kalah pol, penuh suka cita selazimnya mereka yang merayakan kemenangan.

Tadarus dan Bedurus Ramadan kali ini, buat Ami amat istimewa. Ramadan ini memang datang begitu tepat waktu. Dengan berkah berlipat pula.
Baru-baru ini Ami berhasil menyelesaikan studi diplomanya di STIKES Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah. Dan tak lama berselang, ia pun merintis karir dengan bekerja di bagian farmasi Puskesmas Desa Ganti. Manisnya gaji pertama pun telah dinikmatinya.

Itu sebabnya, baju batik seragam kerja tak hendak dilepasnya. “Biar mereka yang tadarus tahu, saya bukan pengangguran,” katanya terkekeh.
Ketika Lombok Post menawarkan diri turut serta dalam tradisi Tadarus dan Bedurus itu, Ami terlihat antusias.

“Seperti biasa kita kumpul di rumah Jack,” ujarnya.

Jack, adalah teman sebaya karibnya. Rumah yang berada di pinggir jalan utama desa milik orang tua Jack, adalah markas tak resmi anak-anak muda di sana. Malam keenam Ramadan lalu, di tempat itu tujuh pemuda telah berkumpul menanti Ami.

Seperti malam-malam Ramadan sebelumnya. Mereka akan membentuk kelompok. Biasanya, dibentuk dari teman sepermainan. Atau teman gubug (sepemukiman).
Lalu, jelang waktu Tadarusan, mereka akan Bedurus dari masjid satu ke masjid lain. Baik yang terletak satu desa, atau desa lain.

Uniknya, menentukan kelompok dan anggota tak bisa sembarang. Meski tak selalu, komposisinya harus komplet. Dari yang gaul, sampai kategori ustadz mesti ada. Nanti di lapangan, dua karakter ini akan punya tugas maha penting.

Yang gaul biasanya bertugas melakukan pedekate. Targetnya biasanya mendapatkan nomor telepon genggam para remaja putri yang berada di masjid untuk Tadarus bareng.
Sementara yang ustadz biasanya menjadi tameng, kalau-kalau masjid yang didatangi ternyata diisi remaja putri yang padai membaca Alquran, dengan tajwid yang fasih.
Kalau sudah begitu, yang ustadz inilah menjadi penyelamat bagi tim Bedurus.

Dan kelompok Ami adalah paket yang komplet itu. Di sana ada Jack, Notan, Ogi, dan Panji, sederet nama yang biasanya punya percaya diri lebih. Mereka selalu punya cara jitu mendapatkan nomor kontak remaja yang ditaksir. Gagal nyaris tak pernah menghampiri mereka.

Di kelompok ini, bergabung pula Lalu Angga Ustandi. Dia adalah ujung tombak Tadarus di masjid. Bacaan Alqurannya fasih. Lantunannya merdu pula. Macam qori yang biasanya muncul jelang buka puasa di radio milik pemerintah.

“Kita berangkat jam setengah sepuluh saja,” tukas Jack, manakala seluruh anggota kelompok telah hadir semua.

Bukan tanpa alasan, mereka memilih waktu berangkat Bedurus, lebih malam. Itu biasanya satu jam setelah salat Tarawih bubaran. Biasanya pula, waktu itu dipilih bagian dari siasat menghindar dari para “golongan tua” yang biasanya akan mundur teratur dari masjid pas pukul 22.00 Wita.

“Urusan bisa jadi panjang dan repot, jika “golongan tua” masih ikut tadarusan. Macem unin te urus bareh (kita bisa diinterogasi panjang nanti),” kata Ami menjelaskan.

Saat waktu yang ditentukan tiba, rombongan mulai berangkat. Tujuan masih belum jelas. Semua ngekor, mengikuti motor yang berada di barisan paling depan. Diskusi arah dan tujuan masjid mana yang akan disambangi pertama, justru lebih seru di perjalanan.

“Kalau diskusi di markas, biasanya susah sepaham. Tapi kalau sudah jalan, mudah saja ambil keputusan,” tutur Ami pada Lombok Post yang membonceng motornya.

Benar saja, ketika akhirnya ada yang menawarkan tujuan pertama adalah Janapria, semua langsung setuju. Padahal jarak Desa Ganti dengan Janapria cukup jauh. Beda kecamatan pula.
Sudah begitu, jalanan menuju sana biasanya sepi. Sesekali ada isu begal dan rampok sepeda motor. Toh, semua itu tak membuat nyali surut. Kan, para begal itu puasa juga. Dan benar. Jalanan yang biasanya sepi pun ramai hingga pusat malam.

Sayang, seperti kehawatiran sebelumnya, orang tua masih banyak nyanggong di Masjid Janapria. Padahal, remaja putri yang lagi tadarus di sana banyak.

Belum masuk masjid, beberapa anggota kelompok sudah ‘diinterogasi’ seorang pria berjenggot dan bersurban. Para pemuda ini pun pamit. Mundur teratur.

Meski ada yang menggerutu karena tak jadi masuk, perjalanan dilanjutkan memutar arah. Menuju masjid Al Ikhlas, Bile Penanggak, Janarpria yang tadi dilewati. Di tempat itu, orang tua yang tadarus sudah tidak terlihat. Tapi, beberapa di antaranya masih memantau di Masjid.

Kali ini mulus. Ami dan rekannya langsung ambil bagian untuk turut tadarus bersama. Tentu saja setelah berbasa-basi terlebih dahulu dengan para pemuda setempat yang sedang nongkrong di depan masjid.

Satu jam Tadarus berjalan. Panji, salah seorang anggota kelompok sudah celingak-celinguk. Kentara sekali dia tak tenang. “Ndekne araq dulang (tidak ada makananya),” kata dia bergumam.

Semua tersenyum geli. Tak ada yang memungkiri. Selain menikmati sensasi ngaji bersama remaja-remaja putri, para pemuda ini juga ‘mengintai’ makanan yang biasanya disumbang penduduk sekitar masjid untuk mereka yang Tadarus.

Kebiasaan di Lombok, biasanya warga satu mukim bergiliran menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka yang Tadarus.

Di awal-awal biasanya disajikan aneka kudapan. Dan selepas tengah malam, baru diantarkan makanan berat. Nasi dan aneka lauk-pauk.

Bahkan, terkadang, makanan itu sekaligus menjadi menu makan sahur mereka yang Tadarus dan juga marbot masjid.

Makanan ini juga biasanya menjadi daya tarik masjid tetap ramai anak-anak. Mereka sih tidak Tadarus. Melainkan datang main, sampai kemudian terlelap di masjid. Lalu, mereka akan senang bukan kepalang, kala tengah malam dibangunkan untuk makan berjamaah. Begitu seterusnya sepanjang Ramadan.

Apalagi kalau sekolah sudah liburan. Karena tak ada tanda-tanda kudapan, Ami dan kelompoknya pamit. Satu juz telah mereka lewatkan di Masjid Al Ikhlas. Tentu saja, yang bertugas meminta nomor telepon genggam remaja putri yang ditaksir, telah mendapatkannya.

Perjalanan lalu dilanjutkan ke Masjid Beleka, desa tetangga Janapria. Tadarus dan Bedurus di desa ini memang yang paling ditunggu-tunggu.

Tadarus di Masjid Beleka memang dikemas berhadap-hadapan. Remaja putri biasanya berbaris berderet panjang. Lalu di hadapan mereka, remaja putra juga berbaris serupa.

“Jadi kita puas pandang-pandangannya,” kata Angga. Pria ustadz ini rupanya hafal betul, tempat-tempat yang ‘bagus’.

Seperti sudah diduga. Sesampai di Masjid Telage Mas, Desa Beleka, sekumpulan remaja putri yang tadinya membentuk lingkaran tanpa komando mengatur diri membuat satu deret panjang manakala kelompok Ami tiba. Deretannya memanjang ke timur, menyilakan Ami dan kelompoknya mengambil tempat di hadapan.

Yang dibilang jarak dekat ini sebetulnya tidak dekat-dekat amat sih. Nyaris dua meter. Tapi, sudah lebih dari cukup untuk menebar senyum terbaik, dan curi-curi pandang.

Tadarus kemudian dilakukan bergiliran satu-satu dengan pelantang suara. Yang sedang kebagian menyimak bacaan, sesekali menyelingi aktivitasnya dengan mengutak-atik telepon genggam.

Kalau sudah begini, tak butuh waktu lama. Mencuri-curi waktu, sudah banyak yang bertukar nomor kontak. Beberapa memang tak langsung dapat. Karena biasanya juga ada yang jaim (jaga image).

Yang menempuh cara konvensional melalui godaan pun tak kalah. Mereka berhasil berkenalan, saling sapa, hingga bertukar tutur canda. Begitu seterusnya, sampai menjelang tengah malam, aksi Tadarus dan Bedurus malam itu berakhir. Rombongan Ami pun pamit. Dengan janji, malam tadarus berikutnya, datang lagi.

Lalu sebenarnya, sejak kapan tradisi Tadarus dan Bedurus mulai ada? Seorang budayawan lokal Desa Ganti, Lalu Muksin kepada Lombok Post mengatakan, pada dasarnya, Tadarus dan Bedurus hanya akulturasi sosial belaka. Artinya, tidak benar-benar lahir dari rahim budaya setempat.

“Tradisi ini memang mulai ramai tahun 80-an,” kata Muksin.

Sebelumnya, cara ini memang tidak ada sama sekali. Sampai terjadi akulturasi tata cara mengaji dan pencarian bakat untuk wakil daerah di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

“Jadi awalnya, anak-anak hingga pemuda belajar ngaji. Lalu saling simaq (saling mendengarkan dan mengoreksi, red). Karena dulu, yang punya suara bagus itu masih sedikit, akhirnya mereka tertarik berkumpul dan belajar bersama,” ulasnya.

Pendapat yang sama juga disampaikan salah seorang pemerhati budaya lokal, Lalu Mustajab. Dari sanalah kemudian, penyesuaian dan perubahan-perubahan sedikit demi sedikit terjadi. Tadarus dan Bedurus kemudian menjadi ajang untuk mencari pemilik suara terbaik, lalu digurui.

“Sebenarnya, sebelum itu tradisi Tadarus sudah ada. Cuma, para wanita tidak boleh ke santren (istilah lain untuk surau). Kala itu, tidak membolehkan laki-laki dan perempuan bertemu,” ulasnya.

Karena itu, kala itu lanjut Mustajab, para perempuan hanya bisa mendengar suara pemuda idamannya, di tengah kegelapan malam.

“Iya suaranya terdengar sampai ke seantero gubug. Alat yang digunakan mengeraskan suara, disebut corong. Terbuat dari seng,” kata dia mengenang.

Corong dari seng itu dibentuk serupa terompet. Itu yang kemudian dipakai bersama dan bergiliran. “Makanya kalau dulu, corong itu kerap kita temui ada sisa sirih dan aroma tembakau di sana,” ujar Mustajab terkekeh.

Dengan alat itu, suara mengaji jadi terdengar lebih lantang. Apalagi malam hari dan ditambah saat itu tak ada suara kendaraan bermotor atau juga suara televisi.

“Nah biasanya disaat itulah para pemuda menggunakan (mantra) Senggeger, atau mantra pemikat, untuk membuat pujaan hatinya terkesima,” kata Mustajab.

Makanya, dahulu, banyak wanita hanya bisa menangis tersedu-sedu dari balik pagar rumah lantaran hanya mendengar suara mengaji pujaan hatinya dari kejauhan. Tahu-tahu, rindu sudah meriung, dan membuat tersedu-sedu.

Tokoh senior lain di Praya TImur, Niniq Apok yang saat ini berusia sekitar 90 tahun, juga mengungkapkan pada Lombok Post, di masanya, corong memang jadi alat satu-satunya untuk para pemuda menyapa kekasihnya. Karena sulitnya laki-laki bertemu wanita.

Tidak seperti saat ini, pria dan wanita begitu mudah bertemu dan janjian.
Kendati begitu, ada banyak contoh nyata sejumlah pasangan yang mengenal cinta lewat tradisi Tadarus dan Bedurus. Dari curi-curi pandang, kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Langgeng dan beranak pinak hingga kini.

Apalagi, bagi masyarakat Sasak, sudah menjadi rahasia utama, menantu yang pintar mengaji, dengan lantunan suara merdu, adalah idaman semua keluarga. Mereka adalah kebanggaan tak terkira.

Leboh Longgar

Seperti sudah menjadi aturan tak tertulis. Malam Ramadan biasanya waktu menjadi lebih longgar bagi remaja putri. Tadarus di masjid telah melunakkan hati para orang tua yang paling garang sekalipun. Sehingga melonggarkan waktu pada anaknya untuk mengaji bersama teman-temannya.

Seperti halnya di Desa Kebon Ayu, Gerung, Lombok Barat. Seperti daerah lain di sekujur Lombok, Tadarus adalah lakon wajib saban malam. “Sudah jadi tradisi. Bahkan sampai waktu sahur,” kata Sahdan, kepala Dusun Proa, Desa Kebon Ayu.

Muda-mudi biasanya sudah bersiap begitu salat Tarawih usai. Beberapa orang tua biasanya akan mendampingi. Mereka mengaji pakai pelantang suara. Terdengar hingga ke seluruh desa.

Jangan khawatir. Tak akan ada yang protes. Meski mereka mengaji dengan speaker hingga tengah malam. “Kami semua muslim. Kami semua senang. Tidak ada yang terganggu,” kata Sahdan.

Karena memang sudah tradisi, maka waktu untuk remaja putri pun diakui Sahdan jadi lebih longgar. “Alhamdulillah, anak-anak kami di sini juga bisa membayar kepercayaan orangtua mereka,” katanya menekankan.

Seperti daerah lain, diakuinya kerap ada udang di balik batu, jika muda mudi aktif Tadarus tiap malam Ramadan. Selain untuk mengaji, para remaja juga biasanya termotivasi datang ke masjid karena ingin bertemu orang yang mereka suka.

“Kami menilai itu sebagai motivasi yang positif. Karena mendorong para remaja untuk semakin rajin mengaji,” kata dia.

Bukan cuma sekarang. Sewaktu muda dulu, Sahdan juga begitu. Rajin Tadarusan di masjid lantaran termotivasi perempuan yang disuka. “Kalau awal-awal niatnya boleh aja seperti itu. Tapi nanti dengan sendirinya niatnya berubah untuk benar-benar ibadah,” kenangya.

Nisa, salah seorang remaja putri Kebun Ayu juga turut memberikan tanggapannya. Diakuinya kalau izin dari orang tua lebih longgar.

Rusnadi, seorang pelajar MAN Gerung pun begitu. Ia mengaku niat awalnya Tadarus ke masjid untuk mengaji. Niat ini pun semakin kuat dan termotivasi dengan banyaknya remaja lawan jenis yang juga ikut ambil bagian dalam Tadarus. (cr-zad/ton/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

2 Comments

  1. bodokgamang 17 Juni 2016

    maksud dr penulis apa?
    org ngaji koq di kira macem2..
    jgn prasangka buruk dulu..

    Balas
  2. bodokgamang 17 Juni 2016

    siapa yang nulis ini?

    Balas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *