Ketik disini

Feature

Ada Satu Kata Masuk Daftar a�?XXXa�?, Separagraf Diganti Bintang

Bagikan

Tiga mahasiswa IPB menelurkan aplikasi antipornografi yang bisa melengkapi upaya pemblokiran oleh pemerintah. Mengalami perang batin selama proses pembuatan.

***

SUDAH dua alamat situs yang dibuka Yuandri Trisaputra. Yang pertama, situs web www.ayosensor.id. Satunya lagi menampilkan kartun dua anak sedang mengaji. Nah, saat membuka situs ketiga dan mulai loading, Yuandri langsung mengalihkannya ke situs kedua.

Maklum, dalam sekelebat mata muncul sederet gambar hot. Tidak hanya satu dua gambar, tapi lebih dari sepuluh. a�?Astagfirullah,a�? kata Yuandri yang tengah berpuasa.

Setelah 30 detik, dia mengecek lagi situs ketiga itu. Gambar-gambar a�?dewasaa�? tadi tidak tampak lagi. Yang muncul adalah tampilan anak yang sedang mengaji. Tapi, memang belum seluruhnya berubah secara otomatis lantaran masih ada gambar hot.

a�?Iya, ini karena servernya masih kecil. Kapasitasnya cuma 2 gigabyte. Apalagi, sekarang yang pakai sudah ribuan,a�? jelas mahasiswa Departemen Ilmu Komputer Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Minggu pekan lalu itu (5/6) Yuandri bersama Gusti Bimo Marlawanto mendemonstrasikan aplikasi bernama Integrated Porn Autocensor (IPA) tersebut di dekat Gedung Andi Hakim Nasution IPB. Khusus Bimo, tugasnya membuat sensor khusus untuk kata-kata porno. Sensor kata itu satu paket dalam IPA.

Aplikasi IPA tersebut dibuat tiga mahasiswa Departemen Ilmu Komputer IPB itu untuk pekan karya mahasiswa (PKM) yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Mulai mendaftar Februari, mereka berhasil menyelesaikannya bulan lalu.

Ide pembuatan berasal dari keresahan ketiganya terhadap maraknya pemberitaan tentang dampak pornografi. Apalagi, kemudian belakangan muncul kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun. Kekejian di Bengkulu itu seperti membuka a�?kotak pandoraa�? kasus serupa yang ternyata terjadi di berbagai tempat di tanah air.

Selama proses pembuatan, Yuandri, Bimo, dan ketua tim Ilham Setyabudi sudah pasti mengalami perang batin. Di satu sisi, mereka ingin turut memerangi pornografi. Tapi, di sisi lain, tiga mahasiswa angkatan 2012 yang semuanya aktif di Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB tersebut otomatis harus mengenali pornografi itu sendiri.

Tapi, yang menjadi pegangan mereka, untuk membuat penawar racun, harus pula mengetahui karakteristik racun atau bisanya terlebih dahulu. Jadi, untuk membuat alat sensor gambar porno, mau tidak mau mesti melihat gambar-gambar a�?XXXa�? itu.

Suka? Yuandri hanya tersenyum. a�?Kami niatin ini bagian dari dakwah. Harus korban dikit hehehe,a�? ujar dia.

Yuandri mengaku mengumpulkan sedikitnya 1.300 gambar porno dari sepuluh situs terkemuka. Gambar-gambar itu memang tidak diambil satu per satu. Tapi, dia menggunakan aplikasi crawler yang secara otomatis bisa mengunduh konten yang ada di dalam web tertentu. a�?Saat mulai mengolah datanya itu, saya tutup kamar kos saya,a�? ujar Yuandri, lantas tersenyum.

Sebagai contoh, website yang diunduh semacam pornhub.com dan redtube.com. Eits, jangan buru-buru membukanya, situs tersebut sudah diblokir. a�?Gambar itu dianalisis intensitas warna dan teksturnya. Warna kulit kan khas,a�? kata pemuda kelahiran Bogor, 24 Juni 1994, tersebut.

Diperlukan waktu hingga dua pekan untuk menyelesaikan rumus atau fungsi yang tepat. Fungsi itu dibuat dengan bahasa pemrograman Python. Dengan perhitungan khusus, bila menghasilkan angka satu dianggap porno. Kalau nilainya nol berarti tidak porno. a�?Coba berkali-kali sampai mendapatkan hasil yang paling baik,a�? kata dia.

Yuandri juga menganalisis gambar yang dianggap tidak porno. Misalnya gambar bola, gitar, dan foto orang berpakaian. Totalnya hingga 600-an foto.

Bagi Yuandri, analisis gambar itu bukan hal yang baru. Skripsi yang sedang dia buat pun berkaitan dengan analisis foto. Dia menganalisis gambar daun untuk meneliti penyakit yang diderita. Cara analisisnya pun tidak jauh berbeda. Dengan mengandalkan intensitas warna dari foto tersebut.

Bila Yuandri butuh waktu hampir dua pekan, Bimo lebih singkat. Hanya sepekan untuk membuat pemrograman sensor kata-kata berbau porno. Bukan cuma yang berbahasa Indonesia, tapi juga dari bahasa Jawa dan Inggris.

Kata-kata yang masuk daftar porno itu antara lain nama kelamin, bersanggama, penis, vagina, dan variannya dalam bahasa Jawa serta Inggris. a�?Kalau Mr P kebetulan belum masuk daftar kata yang disensor,a�? ucap dia.

Bimo juga punya pengalaman yang tidak jauh berbeda dengan Yuandri. Dia pun harus berjibaku dengan teks-teks berbau porno yang didapatkan dari beragam cerita panas di internet. Mau tidak mau, Bimo pun mesti membaca cerita yang bikin panas dingin itu. a�?Ya, mau bagaimana lagi? Agak gimana gitu saat baca,a�? ungkap pemuda kelahiran Bogor pada 10 Agustus 1994 tersebut.

Cara kerja aplikasi IPA terhadap teks itu juga tidak jauh berbeda dengan sensor gambar. Bila ditemukan kata-kata yang masuk daftar sensor tersebut, tanda bintang akan otomatis menggantikan. Bukan hanya teks itu, tapi langsung satu paragraf. a�?Kalau hanya teks, nanti bisa-bisa menebak-nebak. Kalau satu paragraf yang hilang, tentu beda lagi,a�? jelas Bimo.

Hasil kerja keras mereka itu sudah bisa diunduh di www.ayosensor.id dan Chrome Web Store serta Mozilla add-ons. Semuanya gratis. Sampai Minggu lalu (12/6) aplikasi tersebut sudah di-download hingga 4.100 kali. Perinciannya, di Chrome sebanyak 1.800, selebihnya di Mozilla.

Sementara ini aplikasi tersebut memang hanya bisa berjalan untuk dua aplikasi website Chrome dan Mozilla. Aplikasi IPA itu belum bisa berjalan di ponsel. a�?Memang masih dalam perkembangan. Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan pihak lain,a�? ujar Bimo.

Dia juga mengakui bahwa aplikasi yang mereka buat itu masih belum sempurna betul. Sensor gambar tersebut baru efektif hingga 82 persen, sedangkan sensor teks hampir bisa mendeteksi seluruhnya. Kekurangan lain, aplikasi tersebut masih belum bisa menyensor video.

Bukan hanya itu, aplikasi tersebut juga masih berjalan agak lamban. Sebab, server yang mereka sewa hanya punya kemampuan random access memory (RAM) 2 gigabyte. Idealnya, dibutuhkan RAM hingga 8 gigabyte. Sementara prosesor yang diperlukan sekelas Intel Core i7.

Meskipun begitu, mereka yakin pembuatan aplikasi tersebut akan mengurangi dampak negatif pornografi. Bahkan bisa disandingkan dengan upaya pemerintah untuk memblokir situs porno.

Selama ini perburuan pada situs porno tidak berjalan dengan mudah. Sebab, ribuan situs baru muncul saat ratusan situs diblokir. a�?Kalau blokir itu akan berkejaran terus, berbeda dengan sensor konten. Sebanyak apa pun situs, kalau konten disensor, tentu akan bisa membendung,a�? tutur Bimo.

Saat ini Bimo, Yuandri, dan Ilham menunggu penilaian lanjutan untuk aplikasi IPA buatan mereka. Aplikasi yang dibuat untuk PKM itu dalam waktu dekat dievaluasi tim dari Kemenristekdikti. a�?Semoga saja aplikasi ini dicatat sebagai bagian dari dakwah kami,a�? harap Bimo. (Juneka Subaihul Mufid/Bogor/c9/ttg/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys