Ketik disini

Perspektif

Pak Presiden, Kolak Kami Tak Manis Lagi

Bagikan

APAKAH Anda termasuk yang heboh menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke daerah ini pada Jumat, 10 Juni lalu? Atau apakah Anda termasuk salah seorang yang melaksanakan salat Tarawih bersama Kepala Negara di Masjid Raya Attaqwa Mataram, berjabat tangan sembari swafoto?

Saya menikmati banyak kabar mengenai presiden melalui media sosial, media massa cetak dan elektronik. Dan kebetulan hari itu saya sedang memasak kolak ubi dicampur pisang, sebagai menu berbuka puasa.

Jika Anda bertanya apa hubungan kedatangan presiden dengan menu berbuka puasa itu? Maka saya katakan itu kebetulan saja. Sangat kebetulan pula, kolak ubi buatan saya rasanya hambar. Sehambar harapan demi harapan yang tak kunjung ada penyelesaian.

Namun, di sela rasa hambar rasa kolak itu, toh tak menjadikan saya batal menjadikannya santapan berbuka. Faktanya manis atau hambar rasa kolak, atau bahkan ada tak ada menu kolak, tak membuat kita menunda dan gagal membatalkan puasa hari itu.

Jelas kedatangan presiden adalah kejutan minggu pertama Ramadan. Bagi NTB, sejak presiden RI ketujuh tersebut resmi dilantik Oktober 2014, terbilang a�?cukupa�? sering mengunjungi daerah ini. Sudah empat kali.

April 2015 datang pada event Tambora Menyapa Dunia. Februari tahun ini hadir pada puncak Hari Pers Nasional (HPN). Dan yang hampir dikatakan a�?mendadaka�� yaitu peresmian pasar tradisional di Bima April lalu.

Dari setiap rangkaian moment tersebut, mungkin saya dan Anda termasuk yang turut akan berusaha a�?membandingkana�? kuantias kunjungan presiden RI dalam beberapa periode, kaitannya dengan kunjungan mereka ke daerah ini. Atau, apakah kita pun akan turut mengatakan mengapa presiden a�?yang inia�� terlalu sering datang ke NTB? Ada misi apakah?

Dari beberapa peristiwa kunjungan tersebut dalam perspektif saya, pertama mungkin saja akan banyak muncul pertanyaan, apakah hal tersebut memberi dampak atau pengaruh positif pada geliat perekonomian daerah? Ataukah kecendrungan kita untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang tak penting bagi kita.

Kedua, faktanya dari sekian banyak kunjungan beliau, tak terdengar adanya demonstrasi dari berbagai elemen organisasi (mahasiswa) atau masyarakat. Biasanya, pada era sebelumnya, ketika ada kunjungan presiden dan wakil presiden ke daerah, akan ramai terdengar kabar aksi demonstrasi sebagai respon kedatangan pejabat negara. Dengan ragam tulisan baliho dan spanduk serta tuntutan-tuntutan kepada pemerintah.

Tulisan ini tidak akan mebahas panjang lebar mengenai perbandingan kunjungan presiden RI ketujuh tersebut dengan pemimpin masa sebelumnya. Begitupun dengan pidato sambutan pada pembukaan HPN 2016. Kita akan fokus pada dua kunjungan terakhir, yaitu agenda peresmian pasar Amahami di Kabupaten Bima pada April lalu, dan apa yang terjadi minggu ini.

Di tengah ragam pandangan miring mengenai maraknya pemberitaan media menyangkut kejadian penangkapan teroris di Poso, dan frame media nasional yang seolah menyematkan kata teroris dengan Kota Bima. Hal ini membuat kita gerah.

Seolah banyak mata yang berupaya mengadili salah satu daerah yang menjadi ikon penghasil bawang merah tersebut sebagai sarang teroris. Hal ini menyedihkan sekaligus sangat tidak adil. Berlebihan.

Melihat kondisi tersebut, sepertinya kedatangan Presiden Jokowi, seolah berusaha menangkis isu tersebut. Dia datang ke Bima, menyempatkan untuk salat Jumat di salah satu masjid, setelahnya meresmikan pasar.

Apa yang ada dibenak kita melihat rangkaian fakta agenda tersebut? Presiden yang dikenal dengan strategi a�?blusukana�? ini, nampaknya berupaya membenahi citra NTB pada umumnya, dan Bima pada khususnya dari sematan kata negatif, dan isu teroris.

Sekaligus, peresmian pasar tersebut menjadi satu tarikan napas dari a�?pesana�? bahwa bersegera bangkit dari keterpurukan, dengan membangun perekonomian melalui pasar tradisional, dari desa, dari warga.

Apakah kondisi berubah setelah itu? Mungkin secara perasaan pribadi, tak ada yang berubah. Bahkan, kedatangan presiden beberapa hari lalu oleh sebagian orang justru dinyatakan a�?apika�? jika dijadikan agenda rakyat untuk menagih beberapa janji pembangunan.

Termasuk, maraknya sindiran beberapa teman melalui media sosial soal janji harga daging yang meroket menjelang Ramadan, dan pernyataan presiden bahwa harga daging di pasar harus dapat ditekan di bawah harga 80 ribu per kilogram.A� Lagi-lagi itu hanya sebatas keluh kesah pencinta medsos. Tak pernah sampai ada yang turun ke jalan.

Meski rasanya memang segala hal ingin kita ungkap dan tumpahkan saja segala keluhan itu kepada beliau, atas kebijakan, atas janji dan pernyataannya. Rasa-rasanya, kita justru memilih diam, atau bahkan cendrung berterimakasih, bukan lantaran kita menerima kegalauan atas harga daging yang meroket, tapi semacam menerima a�?hiburana�? berupa pengganti kegalauan, bahwa presiden hadir justru untuk agenda yang lebih besar. Meresmikan mega proyek PLTU Jeranjang.

Banyak soal dalam kehidupan kita sebagai bagian dari warga negara ini, ingin kita sampaikan, keluhkan dan sepertinya mendesak menjadi kebutuhan yang memerlukan kehadiran negara untuk menyelesaikannya.

Tak hanya soal daging, yang mungkin saja justru kita jarang menikmatinya. Boleh dikata hampir dalam sebulan, belum tentu kelas menengah ke bawah membeli daging sekilo karena harga tak terjangkau. Atau para penganut mazhab vegetarian yang tak mengkonsumsi daging, justru tak pernah ribut soal harganya.

Selain daging, ada juga harga gula yang meroket tajam. Mencapai harga 16 ribu per kilogram. Meski begitu, contoh kecilnya para penikmat kopi pun tak serta merta menghentikan campuran kopi dan gula sebagai konsekuensi harga mahal. Pun pada kasus tersebut, rasanya kita membutuhkan kehadiran negara untuk menjawab soal itu.

Banyak, beragam, persoalan, yang membutuhkan jawaban a�?Dimana negara?a�? saat harga-harga meningkat tajam, persoalan korupsi, pembenahan kualitas pelayanan, penyelesaian kasus ini dan itu.

Di samping semua itu, pada periode hampir dua tahun kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kala, telah banyak pula hal-hal yang secara progresif, ataupun pelan-pelan telah dan terus berusaha diselesaikan.

Melihat kondisi-kondisi tersebut, mungkin sementara ini memang pilihan yang lebih baik sebagai warga adalah sikap optimisme kita untuk pembenahan kemajuan. Sembari kita terus berionovasi, memodifikasi, beradaptasi, menyesuaikan kondisi.

Sebagaimana harapan dapat menjadi hiburan di tengah kegalauan. Hal-hal kecil seperti pertanyaan a�?Mengapa kolak pisang menu berbuka kali ini tak manis lagi?a�? Selain karena mensiasati harga gula yang mahal, mungkin saja menjadi alternatif untuk diet gula darah.

Sebab rasanya memang tak nyambung jika saya tulis status ataupun kicauan dan tagar #SaveSugar diiringi kalimat a�?Pak Presiden, kolak saya tak manis lagi.a�? (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *