Ketik disini

Oase

Amuk dan Koruptor

Bagikan

PAGIA� di pesisir Ampenan sekitar bulan Juni 1856. Kengerian meneror warga ketika seorang priaA� berlari ke penjuru kota dan menebas siapapun yang ditemuinya.

A�Di lorong-lorong kampung darah tertumpah, sejumlah korban berjatuhan. Namun, lelaki putus asa itu terus mengamuk sebelum akhirnya tumbang dalam kepungan warga sekitar.

Naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace yang ada di lokasi tersebut mencatat peristiwa a�?amok/amuka�? seperti ini lazim terjadi. Bukan hanya di Lombok tapi di sejumlah tempat terutama di Sulawesi.A� Banyak dari mereka yang terkungkungA� persoalan pelikA� memilih jalan a�?amuka�? untuk mengakhiri hidup.

Hari itu seorang budak yang menolak dijual mengamuk dan melampiaskan emosi kepada siapapun yang ditemui. Dendam pada kebuntuan sosial mereka anggap lunas dengan jatuhnya korban. Di Makassar zaman itu dilaporkan, sehari belasan korban tewas gara-gara amukan seperti ini.

Padahal tradisi a�?amuka�? awalnya tak sesederhana itu. Kamus Bahasa Inonesia mengasosiasikan amuk dengan perang. Melibatkan banyak orang berhadap-hadapan. Bukan sekadar mengamuk cari maut. Ada nilai dan keyakinan yang dipertahankan sehingga orang rela mati dalam hunusan pedang lawan.

Tapi keberanian di luar nalar itu memang sering muncul dalam detik-detik kebuntuan, cul-de-sac. Claude de ForbinA� utusan Raja Louis XIV merekam perlawanan mengerikan sekelompok warga Bugis yang terkepung ribuan personel gabungan kerajaan Siam dan Prancis di pedalaman Thailand, 23 September 1686.

Daeng Mangalle bangsawan Gowa-TalloA� itu tahu betulA� ia dan kerabatnnya pastiA� kalah. Namun, ia telah bersumpah akan memberi perlawanan setimpal. Baginya lebih baik tumbang daripada menjadi budak di negeri orang.

Forbin yang memimpin pasukan Prancis, bergidikA� merasakan kenganasan itu. Hasilnya, ribuan tentaraA� bersenjata lengkap meregang nyawa melawan a�?kenekatana�? sejumlah pria Bugis yang terdesak.

Bahkan Daeng Mangalle yang telah jatuh tertembak dan tertusuk tombak masih mampu bangkit dan membunuh dua serdadu Prancis lainnya sebelum akhirnya mati perlahan.A� Rasanya ini bukan soal kenekatan semata, adaA� siria�� (harga diri) yang ditegakkan.

Di Nusantara, hingga awal abadA� 20, heroisme seperti ini masih bisa dilihat. Misalnya dalam kegagahan orang-orang Aceh bertahun-tahun menahan serangan Belanda.

Lewat tokoh jurnalis Ter Haar, Pramoedya Ananta Toer dalam roman Jejak Langkah menggambarkan bagaimana perwiranya orang-orang Bali mempertahankan negerinya. Laki perempuan dalamA� pakaian serba putih menggelar puputan. Seperti halnya Aceh, Rakyat BaliA� akhirnya kalah dalam perang yang tak seimbang itu. Tapi lihatlah bagaimana keteguhan hati mereka menghalau meriam Belanda dengan penuh keyakinan.

Dalam sebuah komunitas dengan leadership besar perlawanan-perlawanan kolosal seperti ini lebih jelas terlihat. Seperti Pangeran Diponegoro yang memimpin rakyatnya dalam Perang Jawa yang melelahkan. Ada kesadaran kolektif untuk melawan, meskipun akhirnya kalah dan diasingkan.

Tapi jelas kemampuan ataupun daya khayal seseorang menentukan bagaimana cara dia melawan.A� Perang bisa juga lewat kelompok-kelompok kecil dalam relasi petani (buruh) dan tuan tanah. Bait lagu Sasak, Tegining-teganang misalnya merekam kisah perlawanan para petani LombokA� pada raja-raja yang lalim. a�?Ongkat dengan Tegining-teganang loeq cerite, ngalahing datu sak beleq-beleq ongkatne.a�?

Sampai kini orang-orang kecil juga tetap melawan dengan caranya sendiri. Para pedagang kaki lima yang menduduki trotoar hingga taman-taman kota tentu juga sedang melawan. Itu tempat sudah diharamkan penguasa buat berdagang.

Tapi demi hidup apalagi yang bisa dilakukan? Karena itu mereka nekat menantang Perda, paraA� pejalan kaki hingga Polisi Pamong Praja yang sewaktu-waktu bisa datang menggusur.

Dari balik jeruji penjara perlawanan para pesakitan juga bisa dimulai. Bahkan para A�koruptorA� bisa tiba-tiba merasa dizolimi setelah digelandang polisi. Laku mereka yang mendadak religius boleh jadi juga sebentuk perlawanan pada opini korupsi yang disematkan penegak hukum.

Tapi kenapa mereka tak melakukan a�?amuka�? atau bunuh diri ala kesatria Jepang begitu terbukti mencuri kas negara. Bukankah itu juga aib. Mungkin mental merekaA� belum sehebat itu. Paling a�?jagoa�? sekadar gertak sambal mau loncat dari puncak monas jika terbukti korupsi. Itupun belum terbukti sampai kini. Entahlah! (r10)

Penulis : Zulhakim, jurnalis, co founder Semeton Ampenan

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *