Ketik disini

Feature

Satu Buku 1 Juz, Satu Paket Seharga 1,7 Juta

Bagikan

Prinsip kerja pencetakan Alquran braille sama dengan printer biasa. Untuk mempelajari Alquran braille, dua kali dalam sepekan peserta didik wajib menyetor bacaan.

***
BEGITU pintu kamar dibuka, suara bising langsung menusuk telinga. Hawanya sedikit pengap karena tidak banyak jendela yang terbuka. Diperlukan tenaga ekstra untuk bisa mengobrol di dalam kamar dengan tumpukan kertas di setiap sudutnya itu.

Kamar berukuran 3×3 meter tersebut adalah dapur utama kegiatan pencetakan Alquran braille milik Yayasan Raudlatul Mukfifin di Gang Rais, Kampung Jati, Jalan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan. Percetakan tersebut satu di antara dua saja percetakan Alquran braille yang ada di Indonesia.

a�?Prinsip kerjanya sama dengan printer biasa,a�? jelas Ahmad Wahyudi, operator mesin cetak Alquran braille di Yayasan Raudlatul Mukfifin. Yakni, tulisan Alquran dibaca dulu di sebuah unit komputer.

Berbekal aplikasi khusus, tulisan Alquran itu langsung dikonversi ke tulisan Arab dalam wujud braille.Setelah itu, unit komputer mengirim pesan ke mesin cetak.

Percetakan milik yayasan yang juga dikenal dengan nama Taman Tunanetra tersebut memang sudah digital. Itulah yang membedakannya dengan percetakan serupa di Bandung. Dulu di Jogjakarta juga ada, tapi kabar terakhir sudah tak beroperasi lagi.

Ketua Harian Yayasan Raudlatul Mukfifin Ade Ismail menambahkan, Alquran braille itu terdiri atas huruf Arab yang disalin ke dalam huruf braille. Jadi, bukan tulisan Arab yang disalin ke huruf Latin, kemudian diwujudkan dalam huruf braille. Sebab, huruf braille untuk huruf Arab berbeda dengan huruf Latin.

a�?Alquran braille itu satu buku hanya untuk satu juz. Jadi, untuk satu set Alquran braille, terdiri atas 30 buku yang masing-masing tebalnya seperti Alquran ukuran standar,a��a�� jelas Ade.

Ahmad, yang mengoperasikan mesin cetak itu sejak 2004, mengatakan bahwa selama ini tidak ada hambatan yang besar. Setelah proses cetak berjalan, dia tinggal menunggu sampai selesai. Kemudian, kertas yang masih gandeng memanjang dipotong menjadi kecil-kecil per halaman.

Lebih lanjut Ade menjelaskan, dalam sehari pihaknya hanya bisa menyelesaikan tiga sampai lima paket Alquran braille. Dia menuturkan, kapasitas mesin cetaknya yang bernilai Rp 1,5 miliar itu tidak bisa ditingkatkan lagi.

a�?Kemenag pernah memesan sampai seribu lebih mushaf Alquran, kami tidak sanggup,a�? jelasnya.

Sebab, dalam sebulan, pihaknya hanya mentok mencetak Alquran braille sekitar seratus paket. Daripada menanggung masalah di kemudian hari, yayasan pun akhirnya menolak tawaran dari Kemenag itu.

Lajang kelahiran Samarinda, 6 Maret 1983, tersebut menjelaskan, rata-rata harga satu paket Alquran braille Rp 1,7 juta. Dia mengatakan, pada umumnya Alquran braille pesanan dari berbagai perusahaan nantinya didonasikan.

Contohnya, Alquran braille yang sedang digarap kini adalah pesanan Sinar Mas. Pihaknya juga pernah mendapatkan order dari Bank Mandiri.

Sarjana pendidikan sejarah dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengatakan, yayasannya sama sekali tidak berbisnis atau berjualan Alquran braille.

Mereka tidak mencetak Alquran braille untuk dijual. Order dari perusahaan-perusahaan juga nanti dibagikan secara cuma-cuma.

Menurut pria yang menyandang tunanetra sejak lahir itu, sampai sekarang sebenarnya kebutuhan Alquran braille masih tinggi.

a�?Sebab, yang penglihatannya utuh maupun yang tunanetra kan tetap memiliki kewajiban ibadah yang sama di mata Allah,a�? katanya.

Ade menceritakan, Yayasan Taman Tunanetra itu berdiri pada 1983. Pendirinya adalah almarhum Halim Saleh, seorang tunanetra sekaligus guru para tunanetra di kawasan Lebak Bulus, Jakarta.

a�?Beliau meninggalkan pesan-pesan yang sangat berharga buat saya,a�? katanya. Di antaranya, orang tunanetra juga memiliki kewajiban belajar. Sebab, tanpa belajar, penyandang tunanetra tidak bisa beribadah kepada Allah.

Bagi dia, dalam memberikan hukuman di neraka nanti Allah tidak akan membedakan orang normal atau tunanetra. a�?Pertimbangan Allah hanya kadar ibadah hambanya,a��a�� tuturnya.

Bungsu di antara enam bersaudara itu mengatakan, yayasannya sejak awal berdiri bergelut di bidang pendidikan untuk orang tunanetra. Baru pada 2000 yayasan itu mulai mendirikan percetakan Alquran braille.

Pertimbangannya adalah keinginan membantu bangsa ini untuk menyediakan Alquran braille bagi kalangan tunanetra. (M Hilmi Setiawan/Tangerang Selatan/c11/ttg/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *