Ketik disini

Metropolis

Buka Bersama Setiap Hari, Menunya Enak-Enak

Bagikan

Bagi penghuni PSKW Budi Rini, bulan Ramadan benar-benar terasa berbeda dengan bulan lain. Bukan semata-mata karena di bulan suci ini mereka berpuasa. Tapi ada perbedaan lain yang lebih menyentuh hati. Apa itu? Berikut laporannya.

***

KIKUK rasanya. Saat dua wanita berambut pirang itu, memandang dengan tajam. Sapaan, lembut tak cukup, mencairkan suasana. Wajah, mereka masih flat.

Tapi, itu hanya untuk dua orang itu saja. selebihnya, adalah gadis-gadis riang. Bahkan, mereka lebih cerewet dari anak TK. Minta di foto, kenalan, sampai bercerita blak-blakan.

a�?(Maaf) mereka bisu dan tuli, kak,a�? kata Baiq Risdiana.

Ris, begitu biasa dia dipanggil. Gadis sweet seventeen yang tak bisa jauh dari tas kecilnya itu, berasal dari Kopang, Lombok Tengah.

Matanya, melirik ke luar. Di situ ada berugaq yang diduduki dua wanita. Dua wanita itu memang tidak berisik. Tapi tangan mereka sibuk turun-naik. Sebuah kata isyarat yang hanya beberapa orang saja yang paham.

a�?Kalau duduk bareng dan main, ya sering. Tapi, kalau pas waktu berbuka (puasa), mereka lebih suka berdua,a�? kata Ris.

Anak itu memang terlalu belia untuk paham perasaan dua wanita tuna wicara dan tuna rungu itu.

Risdiana lalu terdiam. Sambil terus memperhatikan dua wanita yang juga tengah memperhatikanmnya yang kebetulan bersama Lombok Post. Memang, sulit juga a�?mengulitia�� kisah mereka. Terbatas oleh kemampuan berkomunikasi.

Bahkan, anak-anak yang tinggal di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) a�?Budi Rinia�? itu, hanya beberapa saja yang menguasai bahasa Isyarat. Itupun, a�?ala kadarnyaa�� saja.

Dulu, panti sosial ini, sudah dimakfumi sebagai tempat menampung para Wanita Tuna Susila. Bila aparat kepolisian turun menertibkan berbagai tempat hiburan di wilayah NTB, lalu berhasil menjaring Pekerja Seks Komersil (PSK), PSKW inilah tempat untuk menampung mereka.

Lalu, diberi pelatihan selama enam bulan. Tujuannya, agar mereka punya keterampilan dan tidak menggeluti dunia esek-esek.

a�?Tapi sekarang, hanya tinggal mereka berdua saja. Selebihnya adalah anak-anak kurang mampu dari berbagai kabupaten di NTB. Bahkan ada yang dari luar,a�? kata Satpam Panti Sosial Budi Rini, Lukmanul Hakim.

Tidak seperti yang lain, kedua wanita itu enggan ke luar dari PSKW Budi Rini. Meski sudah mendapat pelatihan dan pekerjaan layak. Dua wanita itu, tetap memilih mengabdi di sana. Alasannya, mereka terlanjur nyaman, tinggal di panti.

Lis dan Ati. Itu, nama keduanya. Di PSKW Budi Rini, mereka telah melakukan banyak hal bermanfaat. Jadi juru masak, tukang sapu, mencuci dan banyak pekerjaan lain.

a�?Maaf, saya kurang tahu lebih detail cerita mereka. Dari mana dan apakah mereka masih punya keluarga atau tidak,a�? kata Lukman.

Sebelumnya, saat Lombok Post coba bicara dengan bahasa isyarat a�?ala kadarnyaa�� dua wanita itu hanya merespon dengan anggukan kepala.

Saat ditanya, apakah mereka puasa? Keduanya mengangguk. Begitu juga apakah menjalankan ibadah salat? sekali lagi mereka mengangguk. Selebihnya, komunikasi benar-benar sulit. Bahkan keduanya, lebih sering berpandangan, karena tidak paham beberapa pertanyaan.

Selain Lis dan Ati, masih ada sekitar 33 anak. Semuanya wanita. Usia mereka di kisaran belasan tahun. Rata-rata mereka adalah anak dari keluarga kurang berutung. Pendidikan, tak sampai lulus SMA. Bahkan ada yang mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah sama sekali.

Salah satunya, Murniati. Sahabat karib, Ris. Asalnya pun sama. Dari Kopang. Gadis, berwajah lugu, itu lebih banyak mengangguk saat ditanya. Sepertinya, dia gadis pemalu.

Menjelang waktu bukan puasa tinggal 10 menit lagi, anak-anak PSKW Budi Rini ramai kumpul di sebuah ruangan. Makanan dan lauk sudah tersedia di meja makan. Menu mereka seragam. Hari itu, ada Es Campur sebagai menu pembuka. Lalu ada Daging Ayam dan Telur.

Hidup anak-anak itu, memang cukup enak. Mereka hanya a�?bertugasa�� belajar. Dari pukul 08.00 wita sampai 11.oo wita. Setelah itu, mereka bisa istirahat. Atau melakukan hal-hal produktif, seperti belajar hingga mengurusi kebersihan diri, ruangan dan arena PSKW Budi Rini.

Sementara soal biaya makan, minum hingga biaya pelatihan, semua ditanggung pemerintah. Gratis total. Mereka hanya perlu belajar baik-baik dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, enam bulan kemudian, mereka harus sudah keluar dan mulai mencari pekerjaan, sesuai kompetensinya.

a�?Kalau saya, ambil (jurusan) tata boga,a�? kata Ris.

Meski mengaku senang tinggal di sana, anak-anak itu juga kerap tak bisa menahan rindu kampung halaman. Kalau sudah begitu, mereka akan saling menguatkan satu sama lain. Memotivasi agar tegar, melewati masa-masa pelatihan.

a�?Iya kami senang tinggal di sini, tapi kalau sudah kayak bulan puasa sekarang, jadi rindu pulang. Tapi, nggak boleh. Harus di sini sampai akhir waktu pelatihan,a�? ungkapnya.

Ayah dan Ibu, Ris sudah tiada. Ibunya meniggalkan ia ketika masih bayi. Sementara ayahnya, ketika ia baru saja mau masuk di MA Assolihin, Lopan.

Tinggal bersama kakak-kakanya yang telah berkeluarga membuatnya tak nyaman. Pergulatan batinnya cukup panjang, sampai akhirnya ia memutuskan menerima tawaran ikut pelatihan di PSKW Budi Rini.

a�?Alhamdulillah di sini, kita tetap bisa beribadah puasa dengan tenang dan nyaman. Meski, kadang rindu dengan suasana di kampung halaman. Tarawih, juga di musalla (PSKW Budi Rini),a�? tandasnya.

Ia berharap, ilmu yang diserap di sana dapat berguna, untuk masa depannya yang lebih baik.(Lalu Mohammad Zaenudin/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *