Ketik disini

Feature

Kirim Sinyal ke Satelit Itu seperti Cowok Nembak Cewek

Bagikan

Hari ini satelit yang kelak bisa difungsikan untuk memantau wilayah pertanian dan perairan Indonesia, rencananya, diluncurkan. Tim yang bekerja di belakangnya baru bisa lega kalau satelit itu sudah bisa dikendalikan dari bumi.

***

LEBARAN ini M Arif Saifudin harus melupakan mudik. Harus melupakan Bangil, kampung halamannya di Pasuruan, Jawa Timur. Dia justru harus bersiap merayakan Idul Fitri nun di Jerman sana.

Sebab, di sanalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) punya kerja sama dengan Technische Universitat (TU) Berlin. Arif dan rekan-rekan setim akan memantau satelit Lapan A3/IPB dengan stasiun bumi yang berada di kampus tersebut.

a�?Kami baru bisa bernapas lega kalau satelit itu sudah bisa dikendalikan dari bumi. Jadi, ya terpaksa nggak bisa cuti Lebaran, hehehe,a�? katanya Senin pekan lalu (13/6).

Arif merupakan bagian dari tim yang beranggota 13 orang di balik pembuatan satelit Lapan A3/IPB. Satelit tersebut sudah terpasang rapi di dalam roket PSLV-C34 produksi India.

Juga, rencananya diluncurkan hari ini (22/6) dari pusat peluncuran satelit di Satish Dhawan Space Center SHAR, Sriharikota, India.

a�?Masa orientasi satelit itu setidaknya butuh tiga bulan berturut-turut. Baru setelah itu bisa difungsikan dengan normal,a�? kata Arif kepada koran ini di Pusat Teknologi Satelit Lapan, Rancabungur, Bogor.

Bila kelak bisa berfungsi dengan baik, satelit Lapan A3/IPB akan dapat digunakan untuk memantau wilayah pertanian dan perairan di Indonesia.

Itulah yang membuat satelit tersebut diberi nama tambahan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebab, ada kerja sama khusus untuk pengawasan wilayah pertanian. Data dari satelit itu akan diperoleh tim IPB.

Kepala Bidang Program dan Fasilitas Pusat Teknologi Satelit Lapan Abdul Karim menjelaskan, ada kamera digital dengan kemampuan pencitra pushbroom multispectral exp dan 4 band pushbroom imager pada satelit tersebut. Cara kerjanya mirip scanner.

Jadi, saat satelit berada di atas bumi, kamera tersebut akan merekam secara merata. Data yang terekam tersebut diproses dalam pengolahan citra gambar berbasis warna red, green, blue, dan NIR.

Dengan mekanisme semacam itu, satelit tersebut bisa berguna untuk memantau wilayah pertanian di Indonesia. Mulai lahan pertanian yang masih mulai musim tanam hingga yang menjelang panen. Strategi distribusi pupuk pun bisa lebih tertata lagi.

a�?Lebih jauh, bisa juga untuk memantau lahan ganja, misalnya,a�? terang Karim.

Yang sangat membanggakan, 100 persen satelit yang berukuran tak lebih besar dari televisi tabung 32 inci itu dibuat sendiri oleh peneliti di Pusat Teknologi Satelit Lapan. Meskipun memang komponen dalam satelit tersebut didapatkan dari luar negeri.

Dibutuhkan waktu tiga bulan untuk merangkai, mengintegrasikan sistem, dan mengetes seluruh kompenen. Para peneliti bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan satelit berbentuk kubus itu. Ukurannya 60 cm (tinggi) x 60 cm (lebar) x 60 cm (panjang). Beratnya 115 kilogram.

Akhir April lalu satelit tersebut dikirim ke India. Sebab, jadwal semula peluncuran adalah akhir Mei. Sesuai standar, sebulan sebelum jadwal peluncuran satelit harus sudah dikirim ke pusat peluncuran itu.

a�?Pembuatannya dulu mulai jam 07.30 sampai 00.30, enam hari dalam seminggu. Waktu untuk keluarga pun berkurang,a�? ujar M. Farid Huzain, peneliti Lapan yang terlibat dalam pembuatan Satelit Lapan A3/IPB, yang ditemui Senin (13/6).

Farid menuturkan, tahap demi tahap sebelum peluncuran itu harus dilalui dengan begitu cermat, hati-hati, dan ketat. Sebut saja tahap pengiriman satelit dari Indonesia ke India.

Mereka membuat kontainer khusus yang diisi dengan nitrogen untuk menjaga suhu sekitar 26 derajat Celsius dan kelembapannya tak lebih dari 50 persen.

Ada pula peranti untuk memantau kondisi satelit selama perjalanan. a�?Kami beri pegas baja. Khawatir kalau kena benturan,a�? kata pria 34 tahun itu.

Alumnus Moscow State Technical University tersebut termasuk yang ikut mengawal satelit itu dari Bandara Chennai menuju lokasi peluncuran di Sriharikota. Selama perjalanan ke lokasi peluncuran, satelit tersebut dikawal ketat tentara India bersenjata laras panjang.

Jarak bandara ke lokasi peluncuran sekitar 100 kilometer. Perjalanan terasa lambat lantaran kecepatan kendaraan pengirim itu hanya 10 kilometer per jam.

a�?Ada delapan tentara naik jip yang mengawal. Standarnya memang begitu, khawatir kalau ada pembajakan di jalan,a�? ujar Farid.

Sebelum dimasukkan ke roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV)-C34, satelit itu dicek lagi. Pengujian seluruh fungsi tersebut perlu waktu 20 hari. Salah sedikit saja, barang senilai Rp 60 miliar itu bisa tidak berguna.

a�?Pengecekannya memang lama, tapi untung tidak ada kerusakan. Kami lega,a�? kata pria kelahiran Bogor tersebut.

Farid menuturkan, satelit Lapan A3/IPB akan diluncurkan bersama 19 satelit lain dalam satu roket. Sebagian besar satelit yang diluncurkan berbobot kurang dari 100 kilogram. Satelit Lapan A3/IPB satu ruangan dengan satelit mikro lain milik Kanada, Jerman, dan Google.

Satelit M3MSat milik Kanada yang seberat 85 kilogram membawa automatic identification system (AIS) yang bisa mendeteksi pergerakan kapal di laut. Satelit BIROS milik Jerman seberat 130 kilogram secara khusus membawa kamera infrared.

Sedangkan satelit SkySat Gen2-1 milik Google membawa kamera video high-definition (HD). a�?Nah, saya pikir-pikir, tiga muatan itu kan ada di satelit Lapan A3. Jadi, tidak kalah lah kita ini,a�? ujar Farid, lantas tertawa.

Pekerjaan berat para peneliti itu belum selesai, meskipun satelit sudah terpasang dan tinggal menunggu peluncuran. Sambil menunggu peluncuran yang dijadwalkan pada Rabu pukul 10.55 itu, mereka terus mempersiapkan stasiun pengendali di bumi.

Arif menyebutkan salah satu tahapan yang krusial untuk pengoperasian satelit tersebut sesaat setelah peluncuran. Mereka mengenalkan dengan Launch and Early Orbit Phase (LEOP). Arif mengoordinatori tim LEOP tersebut.

Karena itu, dalam kondisi sekarang, tim Arif-lah yang belum lepas dari perasaan waswas dan khawatir. a�?Bila tidak segera di-maintenance, bisa saja hilang atau rusak,a�? papar Arif.

Setelah roket meluncur ke luar angkasa, satelit itu ditendang dari ruang muatan roket. Satelit tersebut akan melayang-layang dan harus segera bisa dikendalikan. Caranya, stasiun dari bumi akan mengirimkan sinyal ke satelit Lapan A3.

Sinyal bakal diterima dan perintah dari bumi itu akan dijalankan. Tapi, praktiknya tidak semudah itu. a�?Masalahnya, satelit ini tidak bisa dilihat dari bumi,a�? ungkap alumnus Ilmu Komputer IPB tersebut.

Selain itu, satelit yang keluar bersamaan dari roket peluncuran tersebut bukan hanya satu objek. Jadi, mereka harus mengirimkan sinyal ke beberapa objek. Arif mengibaratkan proses itu seperti seorang cowok yang menembak cewek.

Harus memilih-milih mana sinyal hati yang cocok antara cowok dan cewek. a�?Kalau antara perintah dengan responsnya sesuai, baru dianggap cocok. Barulah bisa difungsikan,a�? papar dia. (Jueka Subaihul Mufid/Bogor/c11/ttg)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *