Ketik disini

PELESIR

Lingsar, Toleransi Ratusan Tahun

Bagikan

Lupakan sejenak wisata air dan pantai di Lombok Barat. Saatnya menoleh ke Taman Lingsar di bagian utara Bumi Patut Patuh Patju. Inilah tempat dimana toleransi ditempa dan dijaga. Toleransi yang turun-temurun berusia 257 tahun. Dan karenanya, ke sanalah para wisatawan berduyun-duyun.

***

TAK sulit mengunjungi Taman Lingsar. Bila memulai dari Kota Mataram dengan menggunakan kendaraan, jarak tempuhnya hanya sekitar 12 km saja. Cukup dekat, untuk memulai berpetualang dan belajar sejarah tentang kerukunan umat beragama di Lombok, Pulau Seribu Masjid.

Tiba di Taman Lingsar, Pelesir Mania akan langsung disambut sebuah pintu masuk berbentuk dua bangunan serupa yang letaknya berdampingan atau biasa disebut Candi Bentar. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit, menjadi pemisah antara bagian luar dengan bagian dalam taman.

Masuk ke dalamnya, dua buah kolam kembar akan menyambut, di sisi kanan dan kiri. Tempat ini menjadi pintu masuk utama sebelum masuk ke dalam Taman Lingsar.

Bagian dalam Taman Lingsar terdiri dari tiga bagian. Yakni Pura Gaduh, Kemaliq, dan Pesiraman. Di mana ketiga tempat ini dihubungkan dengan dua buah Kori Agung atau pintu masuk.

Di halaman luar Pura Gaduh dan Kemaliq, berdiri tiga bale-bale atau bangunan tempat peristirahatan. Ketiga Bale ini berbentuk segi empat panjang dengan ditopang enam tiang kayu. Atapnya terbuat dari seng dengan berbentuk limasan.

Di Taman Lingsar ini, terkenal dengan prinsip bersatu tapi tidak menyatu, berpisah tapi tidak terpisah. Prinsip tersebut bukan saja sekedar kata-kata, melainkan diimplementasikan dalam bentuk kerukunan hidup beragama yang telah terjali selama ratusan tahun.

Pemangku Adat Taman Lingsar Suparman Taufik menuturkan, keharmonisan dan kerukunan umat memang terlihat dari dua buah bangunan utama di Taman Lingsar. Di antaranya Pura Gaduh dan Kemaliq.

Kemaliq sendiri merupakan sebuah tempat yang disakralkan umat Islam Sasak. Merupakan bangunan pertama yang berdiri di Taman Lingsar.

Di dalam area Kemaliq terdapat tiga buah bangunan, yang pertama adalah sebuah kolam kecil, terdapat arca garuda wisnu di dalamnya. Ke dua, bangunan segi empat beratap seng. Di dalam bangunan ini terdapat sejumlah batu yang diselimuti dengan kain-kain putih. Terakhir adalah Sembilan buah pancuran.

Terbentuknya Kemaliq sendiri, konon diawali dengan kedatangan Wali Raden Mas Kertajagat atau KH Abdul Malik dari Demak. Kedatangannya untuk menyebarkan syiar Islam di wilayah Lombok.

Lingsar sendiri saat itu masih merupakan daerah yang tandus. Kekurangan air. Suatu hari, KH Abdul Malik lantas melakukan meditasi untuk meminta petunjuk. Usai meditasi, ia berjalan menuju sebuah bukit kecil yang terdapat pohon waru. Sesuai dengan ilham yang ia peroleh, sebuah tongkat ditancapkan ke tanah hingga keluar air yang sangat besar.

a�?Dari sana akhirnya ada Kemaliq,a�? kata Taufik.

Sebagai tempat ritual umat Islam Sasak, Kemaliq tak pernah sepi. Pelesir Mania mungkin sesekali bisa mendatangi Kemaliq saat malam Jumat. Umat Islam Sasak biasanya mengadakan yasinan di tempat ini.

Di sisi lain, meski disakralkan umat Islam Sasak, namun petualang harus tahu bahwa Kemaliq tidak saja di eksklusifkan untuk umat Islam Sasak seorang. Tak jarang umat Hindu dan agama lain melakukan ritualnya di sini.

Seperti yang dituturkan Taufik, selang berpuluh-puluh tahun setelah Kemaliq berdiri, seorang raja dari Karangasem datang ke Pulau Lombok. Di sinilah menjadi asal muasal berdirinya Pura Gaduh yang menjadi tempat sembahyang bagi umat Hindu.

Raja beserta rombongannya mendarat di pantai yang dekat dengan Gunung Pengsong. Tujuan mereka hendak menginvasi wilayah Lombok Timur. Tiba di Punikan, sang raja beristirahat. Saat beristirahat inilah raja mendengar suara air yang cukup deras.

Karena penasaran, raja langsung mendatangi sumber air tersebut. Rupanya suara air berasal dari Kemaliq yang ada di Taman Lingsar. Saat itu juga, Raja Karangasem bertemu dengan Pemangku Tiga yang bernama Indrawan.

Kepada Indrawan, Raja Karangasem mengatakan bila ia menguasai Lombok, maka akan dibangun sebuah pura besar. Berdampingan dengan Kemaliq.

Indrawan selaku Pemangku Tiga bukannya menolak permintaan tersebut. Dengan sadar ia mempersilahkan Raja Karangasem untuk membangun sebuah pura. Sekitar 1759 silam, berdirilah pura besar di kawasan Lombok, bernama Pura Gaduh.

a�?Tidak ada penolakan dari Pemangku Tiga saat itu. Ini juga bisa menjadi bukti toleransi di Lombok sudah berjalan sekian ratus tahun lamanya,a�? kata pria berambut putih ini.

Pelesir Mania harus tahu, meski keseluruhan arsitektur Taman Lingsar nampak mewakili umat Hindu, namun sesungguhnya di dalamnya tersirat nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.

Seperti anak tangga yang menjadi penghubung antara Pura Gaduh dengan Kemaliq. Anak tangga ini berjumlah 17, menggambarkan jumlah rakaat salat bagi umat Islam. Tak hanya itu, posisi Kemaliq pun tidak sembarangan. Kemaliq tepat miring lima derajat ke arah barat, layaknya arah kiblat umat Islam ketika melaksanakan salat.

Salah satu tradisi yang terus bertahan hingga sekarang adalah peperangan antara dua umat beragama, yakni Islam Sasak dengan Hindu. Tapi jangan Pelesir Mania membayangkan perang yang penuh dengan peluru tajam hingga pertumpahan darah.

Perang yang dilakukan di Taman Lingsar dinamakan perang topat. Menjadi tradisi bersama antara umat Islam dan Hindu. Sebuah pertanda, toleransi yang kian terjaga dan terawat. (Wahidi Akbar Sirinawa/r10)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys