Ketik disini

Feature

Karena Semua Pendosa Punya Masa Depan

Bagikan

Jeruji penjara telah mendekatkan penghuni Lapas Mataram lebih dekat pada Ilahi. Itu sebabnya, Ramadan di sana seluruhnya soal kekhusyukan. Mereka menebalkan keyakinan, betapa orang suci juga punya masa lalu. Sementara para pendosa, pastilah memiliki masa depan.

***

AZAN isya bergema di Lapas Mataram akhir pekan lalu. Para tahanan dan napi penghuni Lapas bergegas. Meninggalkan segala pernik aktivitas. Meletakkan nampan dan aneka menu buka puasa yang sedari tadi dinikmati.

Petugas berbaju seragam biru membuka pintu blok tahanan wanita. Satu persatu, isi blok tahanan dengan pengawalan petugas sambil membawa senter berukuran kecil keluar.

Seluruhnya menenteng mukena. Lalu bergiliran tertib mengambil air wudhu. Bercandalah mereka satu sama lain. Menjelang salat Tarawih sepuluh hari terakhir Ramadan, roda bahagia terpancar dari mereka.

Satu-satu mereka memasuki aula. Sajadah tempat mereka bersujud dirapikan. Lalu mereka duduk bersimpuh. Larut dalam lantunan bacaan salawat bersama.

Krek! Krek! Di bagian lain,  pintu suara blok tahanan laki-laki menyusul dibuka. Kali ini, penghuni mayoritas Lapas Mataram mendapat giliran keluar blok tahanan. Mereka menuju bagian tengah Lapas yang disulap sebagai tempat beribadah selama Ramadan. Lantunan salawat dan azan juga telah memanggil mereka.

Satu per satu mereka mengambil tempat. Tak ada berisik. Tak ada canda dan cengkrama berlebihan. Semua larut dalam khusyuk. Salah satu jamaah yang duduk di saf ketiga mulai terlihat berurai air mata. Yang lain sesenggukan. Langit yang cerah dengan sinar rembulan menjadi saksi.

“Allahhu akbar, Allahhu Akbar…,” suara Iqamah berkumandang dari Muazzin. Salat Isya dimulai. Lapas Mataram mendatangkan bergiliran ustadz dari berbagai pondok pesantren untuk menjadi imam sepanjang Ramadan. Selepas Salat Isya, ada ceramah penentram kalbu. Yang kemudian dilanjutkan dengan Salat Tarawih berjamaah.

Tausiah ustadz tiada henti mengingatkan para penghuni Lapas Mataram untuk kembali ke jalan yang benar. “Tidak ada satu manusiapun yang berdosa. Kecuali nabi dan rasul,” tegas ustaz yang berdiri tegak diatas mimbar.

“Meski kita sudah berbuat salah. Kita harus tetap bertaubat. Allah maha pengampun dan penyayang,” ucapnya lagi.

“Mari kita sama-sama memperbaiki diri. Dan bertaubatlah dengan sebenar-benarnya,” ajak dia.

Sang ustadz benar. Bahwa, seluruh penghuni Lapas Mataram, tentulah memiliki masa depan.

Tarawih dimulai. Khusyuk pula para jamaah menjalaninya. Terlihat dari tangga blok lantai dua Lapas Mataram, ada sekitar 7 saf jamaah laki-laki serentak mengikuti gerakan imam.

Salat tarawih di Lapas Mataram dijalankan delapan rakaat. Kemudian dilanjutkan dengan Witir tiga rakaat. Hanya perlu waktu 27 menit untuk menjalankan semua itu.

Selepas itu, para penghuni Lapas bersalam-salaman. Maaf-memaafkan. Namun, bukan berarti mereka bubar. Mereka melanjutkan dengan mengaji. Tadarus.

Lombok Post bertemu dengan salah seorang napi. Mahrun namanya. Pria asal Gunung Sari itu baru delapan bulan masuk penjara.

“Ini pertama kali saya merasakan bulan Ramadan di penjara. Rasanya haru. Saya rindu keluarga di rumah,” ungkapnya.

Biasanya lanjutnya, sepulang Tarawih, istri dan anak menyambutnya di rumahnya. Namun kini, Mahrun malah bertemu dengan beberapa orang yang dirasa masih asing.

“Dua bulan saya masuk penjara, saya selalu sedih,” akunya.

Tak ada pilihan lain. Di dalam jeruji, dirinya hanya bisa bercerita dengan Sang Ilahi. Kalau sudah begitu. Air mata akan keluar dengan sendirinya. “Jika begitu, saya habiskan waktu untuk beribadah,” tuturnya.

Bagi Mahrun kini. Lapas bukan lagi tempat para penjahat. Melainkan tempat melakukan instrospeksi diri. “Alhamdulillah, saya merasa lebih tenang,” ungkapnya.

Mahrun telah menebalkan tekad. Akan mengubah diri, setelah keluar dari Lapas nanti. (Suharl/ Mataram/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *