Ketik disini

Metropolis

Tak Takut Makhluk Halus, Sudah Biasa Ketemu Mayat

Bagikan

Selama ini tempat pemakaman umum selalu identik dengan kesan mistis dan angker. Namun itu tak berlaku bagi Lalu Alimudin. Ia sudah 27 tahun menggali dan menjaga kuburan.

***

PAGI buta selepas waktu subuh, suasana di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karang Medain cukup terang benderang. Penerangan yang memadai seolah membuat kesan mistis yang biasa tersirat di kuburan, hilang seketika.

Aura mistis kubur yang selama ini digambarkan dalam film maupun sinetron tidaklah seperti keadaan aslinya. Tempat Pemakaman Umum di Karang Medain jauh lebih tenang, bersih dan lebih asri penuh dengan pepohonan kamboja yang rindang.

Lalu Alimudin, penjaga di tempat pemakaman ini mengaku tidak pernah merasa takut. Maklum, pria berusia 53 tahun ini menghabiskan setengah usianya untuk menjaga pemakaman.

“Saya sudah tinggal di sini sejak sebelum menikah. Hingga berkeluarga sampai sekarang saya punya cucu saya tetap tinggal di sini. Mungkin sekitar 27 tahun,” aku pria ini kepada Lombok Post.

Udin sapaan akrabnya, selain bekerja sebagai penjaga makam ia merupakan tukang gali kubur. Tentunya, selaku penggali kubur ia terbiasa berurusan dengan bungkusan mayat yang sudah lama tertanam. Namun, baginya berurusan dengan mayat adalah sesuatu hal yang biasa. Karena, sejak kecil ia memang sudah terbiasa.

“Saya dari kecil dulu sering di ajak ikut bapak gali kubur juga,” ungkapnya.

Sehingga keberanian tersebut, tanpa disadari sudah terdapat dalam dirinya. Awal mula ia mulai menjaga di TPU Karang Medain, kala itu ia diminta oleh almarhum Wali Kota Mataram saat itu H Mohammad Ruslan. Karena ia mengaku saat itu tidak punya pekerjaan tetap dan masih kebingungan menentukan arah hidupnya.

“Beliau (almarhum H Mohammad Ruslan, Red) yang meminta saya jaga makam di sini,” kenangnya.

Dijelaskannya, awal mulanya, TPU Karang Medain ini merupakan tempat dikuburnya mayat para pelaku tindak kejahatan atau mayat orang yang tidak dikenal. Beberapa orang yang mati tidak diketahui identitasnya dikuburkan di sini.

“Iya benar, dulu ini merupakan tempat dikuburnya para tahanan penjara, orang yang mati di rumah sakit tidak diketahui keluarganya dan yang lainnya,” timpal H Munaim, Ketua Pemakam Umum Karang Medain.

Namun, seiring waktu pemakaman umum ini pun menjadi pemakaman bagi seluruh masyarakat muslim. Mengingat, tanah di Mataram semakin terbatas sehingga orag kebingungan mencari tempat untuk memakamkan keluarganya. Akhirnya, pemakaman yang semula hanya untuk mayat yang tidak diketahui asal usulnya ini ditangani dengan baik.

Kondisinya dibersihkan. Penataannya lebih baik dan beberapa ruas yang semula gelap kini dipasangi lampu. “Kalau nggak gitu dulu di sini sering dijadikan tempat mesum sama orang,” beber Udin.

Ia kerap menemukan pasangan mesum yang berada di dalam area pemakaman tengah malam. Mereka berdua mengaku datang ke makam untuk nyekar ke makam keluarganya. Sayangnya, hal tersebut dinilainya sangat tidak masuk akal karena pasangan tersebut sengaja mencari area gelap.

“Bahkan ada perempuan yang saya temukan tidak menggunakan celana. Hanya menggunakan baju kaos saja. Ia ditinggal kabur sama pacarnya,” tutur Udin.

Untuk itulah, kini penerangan semakin diperbanyak di area Pemakaman Umum. Untuk mencegah terjadinya aksi mesum yang tidak terpuji oleh remaja. Selain pengalaman seperti itu, sebagai penjaga makam dan penggali kubur, pegalaman mistis tentu tak jauh dialami oleh Alimudin.

Misalnya bertemu dengan mahluk halus hingga menemukan kondisi berbagai mayat saat menggali kubur. “Alhamdulillah 27 tahun menjaga kubur saya tidak pernah diganggu mahluk halus. Saya juga tidak takut pada yang seperti itu. Kalau kita takut sama mahluk halus nanti kita malah syirik lagi,” jelasnya.

Ia membantah kondisi pemakaman seperti yang selama ini banyak digambarkan orang. Misalnya banyak penampakan pocong, kuntilanak ataupun hantu yang selama ini digambarkan dalam film. Baginya semua itu adalah kebohongan belaka dan pembodohan masyarakat.

“Mati itu hanya sekali. Mana ada orang yang sudah mati bisa hidup lagi. Kalau ada saya mau tanya gimana kondisi akhirat sama dia,” candanya.

Hal itu yang membuatnya tak merasa sedikitpun tinggal dan hidup di area pemakaman. Meski demikian, ia mengaku percaya akan keberadaan mahluk halus. Misalnya seperti jin, tuyul atau semacamnya.

“Kalau mahluk seperti itu saya percaya. Itu ada yang merupakan peliharaan manusia juga. Tapi kita nggak boleh takut sama yang seperti itu (mahluk halus, Red), karena mereka yang harusnya takut sama manusia,” tegasnya.

Alimudin mengaku sering keliling menajaga makam dari satu makam ke makam lain. Mulai dari yang ada di Jeranjang, Lembar, Sekotong, Lombok Timur, hingga Lombok Utara. Namun, tak satu pun ia pernah menemui hantu makam seperti yang diceritakan atau digambarkan di film dan sinetron.

“Bohong itu ada pocong loncat-loncat. Itu mengada-ada,” ujarnya.

Hal itu, berani ia katakan karena pernah mengalami sendiri kejadian melihat mahluk halus yang menyerupai pocong. Alimudin mengaku saat itu pulang ke rumahnya yang ada di area pemakaman sekitar tengah malam. Ia melihat sosok mayat yang dibungkus kain putih persis seperti yang biasa dikuburkan.

“Persis seperti mayat. Berjalan melayang tidak loncat-loncat. Saya kejar dia menghilang ke sekitar area pohon yang besar,” katanya.

Dari sana ia tahu bahwa itu hanya sekedar mahluk halus yang ingin menunjukkan dirinya. Namun demikian ia merasa itu sebagai sesuatu hal yang wajar.

“Karena mahluk itu memang ada. Tapi kita nggak boleh takut. Buat apa takut?,” katanya.(Hamdani Wathoni/Mataram/Bersambung/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *