Ketik disini

Metropolis

Ada Mayat Sudah Lama, Masih Utuh dan Harum

Bagikan

Tak hanya lahan pertanian, lahan pemakaman kini juga kian sempit. Ini menjadi tantangan bagi tukang gali kubur di tengah penghasilan yang tidak menentu.

A�***

WAJAHNYAA�teduh. Perawakannya tegap dan bahasanya pelan. Walau tidak terlalu banyak bicara, ia ramah terhadap siapapun yang ditemuinya.

Wajah Lalu Alimudin atau yang biasa disapa akrab Pak Udin ini sebenarnya menunjukkan betapa istiqomahnya dirinya. Bekerja sebagai tukang gali kubur selama 27 tahun, ia tidak pernah banyak mengeluh. Meskipun dengan penghasilan yang sangat tidak menentu.

a�?Kita dapat upah dari galian kubur. Nggak ada honor atau gaji tetap,a�? akunya.

Sehingga, secara tidak langsung rezeki yang ia terima berasal dari mereka yang mati. Kalau ada yang meninggal, Udin dan rekan-rekannya langsung menggali kuburnya. Tak kenal waktu, mereka harus siap bekerja 24 jam. Baik siang maupun malam, ketika ada pesanan galian kuburan mereka harus siap.

a�?Harus siap kapan saja. Sebulan kadang empat orang yang meninggal. Tapi bisa juga sehari ada empat,a�? tuturnya.

Dengan demikian, hasil yang diterimanya otomatis tidak menentu. Tergantung dari banyak atau tidaknya orang yang mati. Meski demikian, Udin tidak terlalu khawatir dengan masalah rezeki yang ia dapatkan. Karena, menurutnya rezeki sudah diatur oleh Sang Pencipta. Tinggal, bagaimana manusia menjalankan perannya masing-masing dengan baik.

a�?Buktinya sampai saat ini Alhamdulillah saya tidak pernah kekurangan. Kita ini kan ibarat wayang. Semua sudah diatur oleh dalang, baik rezeki maupun hidup kita. Toh nanti juga bakal kembali ke tanah,a�? katanya.

Meski demikian, bukan berarti ia pasrah saja dengan kondisinya sebagai tukang gali kubur. Meskipun memiliki penghasilan yang tak menentu, ia tak pernah membatasi impiannya. Tekadnya yang kuat membuatnya berhasil menyekolahkan anak-anaknya.

Bahkan salah seorang anaknya kini sedang bertugas di Jakarta menjadi anggota TNI. a�?Alhamdulillah satu orang jadi TNI. Namanya Lalu Sahrizal Ali. Dia bertugas di Jakarta, menjadi pasukan pengawal presiden (paspampres) lapis kedua,a�? tuturnya.

Bagi Udin, apapun pekerjaan yang dilakoni seseorang, semua sudah diatur. Ia percaya Tuhan memberikan peran yang berbeda-beda kepada setiap umatnya. Oleh karena itu, ia kini tinggal menjalani peran itu dengan baik.

Namun, seiring waktu tantangan yang dihadapi tukang gali kubur menurutnya juga semakin berat. Mengingat keterbatasan lahan yang ada. Sementara jumlah warga yang meninggal terus bertambah.

Akibatnya, para penggali kubur harus pandai mengatur celah untuk memberikan ruang bagi mayat yang mau masuk kubur. a�?Kita pikirkan bagaimana mayat itu bisa beristirahat dengan tenang. Jadi harus diatur sedemikian rupa,a�? jelasnya.

Luas Pemakaman Umum Karang Medain yang kian terbatas membuatnya harus jeli mencari lokasi. Bahkan, saat ini ada beberapa kubur yang satu makam terdiri dari tiga hingga empat mayat yang berbaring di dalamnya.

a�?Kami tanya keluarganya, mereka mengiyakan, jadi kadang satu kubur itu bisa diisi satu keluarga,a�? ujar dia.

Untuk menyiasati lahan pemakaman yang kian sempit, Udin bersama pengurus Pemakaman juga membuat sebuah kebijakan. Makam yang tidak pernah dikunjungi selama tiga tahun nantinya akan diperuntukkan bagi mayat baru. Sehingga, tak jarang juga, ketika menggali kubur ia juga menemukan sisa mayat yang telah dikubur.

a�?Normalnya mayat maupun kain kafan kalau sudah lama dikubur bakal hancur. Tapi saya pernah menemukan mayat lengkap dengan kain kafannya masih utuh ketika menggali kubur. Bahkan ada yang mengeluarkan bau harum,a�? bebernya.

Hal ini tentu saja di luar logika. Namun, demikian, peristiwa seperti ini dianggapnya sebagai sesuatu yang lazim ditemui para penggali kubur. Mereka tetap mencoba menjalankan tugas dengan baik. Mengembalikan mayat yang ditemukan dan membuat liang kubur yang nyaman bagi warga yang meninggal.

a�?Karena ini kan tempat peristirahatan terakhir warga yang meninggal. Jadi kami berusaha bagaimana agar mayat bisa beristirahat dengan tenang,a�? tandasnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *