Ketik disini

Metropolis

Akali Diskon, Penjual Bisa Dipidana

Bagikan

MATARAM – Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen (YPK) NTB Muhammad Saleh mengingatkan konsumen untuk tidak mudah tergiur dengan diskon.

Sebelum membeli, mereka sebaiknya menanyakan kepada penjual, berapa harga asli barang tersebut dan tahun berapa dibuat. Sehingga jelas, tidak menyesal di kemudian hari setelah membeli.

Saleh juga mengingatkan para pelaku usaha agar tidak melakukan diskon akal-akalan. Misalnya sebelum diskon, harga barang dinaikkan sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan dua kali. Cara seperti ini yang dilarang di dalam undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Larangan itu antara lain, pelaku usaha dilarang melakukan diskon kalau tidak memperlihatkan harga yang sesungguhnya.

Umpamanya harga semula Rp 200 ribu, tapi sebelum didiskon dinaikkan Rp 250 ribu, baru dikasi diskon 10 persen. Artinya penjual akan mendapat keuntungan dua kali.

a�?Itu yang tidak diperbolehkan dan sanksinya sangat tegas. Tapi selama ini konsumen tidak pernah bertanya,a�? katanya.

Kedua, harus dipastikan barang pakaian ini sudah lama atau tidak. Sebab, meski tidak memiliki masa kedaluwarsa seperti makanan, tetapi pakaian yang sudah bertahun-tahun kualitas benangnya akan berkurang. Mestinya pedagang menampilkan tahun berapa dibuat dan harga aslinya, baru diberikan diskon.

a�?Jadi harus dia menunjukkan harganya lama dan harga baru,a�? ujarnya.

Saleh menegaskan, sanksi terhadap pelanggaran itu sangat besar. Bagi yang melanggar bisa dikenakan denda Rp 2 miliar, apalagi jika ada unsur pidana terancaman kurungan 5 tahun.

a�?Cuma masalahnya, konsumen selama ini tidak tahu,a�? ujarnya.

Untuk itu, YPK menghimbau warga untuk selalu teliti sebelum membeli. Mereka berhak menanyakan informasi barang sebelum membeli. Sehingga semuanya serba terbuka dan jelas. Tidak ada yang dirugikan di kemudian hari.

Sulit Terungkap

Sementara itu pengamat hukum bisnis Fakultas Hukum Universitas Mataram H Muhammad Saleh mengatakan, dirinya telah menggelar penelitian terkait diskon yang kini marak ditawarkan. Menjelang lebaran ada dua jenis barang diskon yang menjadi incaran konsumen. Yakni pangan dan pakaian.

Khusus untuk pangan kata Saleh, biasanya di diskon berdasarkan atas jangka waktu kedaluwarsa. a�?Biasanya, pelaku usaha mendiskon pangan yang hampir kedaluwarsa hingga dua bulan ke depan,a�? ungkapnya.

Diskon yang diberikan itu hingga mencapai 70 persen. Namun, jika dalam jangka waktu satu bulan tidak juga laku. Maka, biasanya harga dibanting hingga turun 85 persen.

Strategi bisnis seperti itu, memang tidak dilarang oleh undang-undang. Karena itu sudah sesuai dengan aturan yang diatur dalam Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

a�?Selama itu tidak merugikan konsumen tidak ada masalah,a�? jelas Saleh.

Sementara itu, untuk diskon baju sulit diungkap persaingan tidak sehatnya. Karena, berdasarkan penelitian, standarisasi harga yang diperlihatkan pada label harga berdasarkan penetapan perusahaan.

a�?Sekarang yang menjadi kendala, kita itu sudah tahu tidak harga sebenarnya barang tersebut sebelum didiskon,a�? tanyanya.

Belum ada yang mengetahui ketetapan harga tersebut menjadi celah bagi para penjual. Untuk itu, dia mengingatkan perlu kejelian konsumen memeriksa barang diskon yang akan dibeli. Biasanya, pakaian yang didiskon sudah sesuai dengan perkiraan harga atau tidak.

Saleh menjelaskan, unsur pidana yang diatur dalam perlindungan konsumen itu tak sepenuhnya bisa terwujud dalam permainan diskon. Karena, hal itu butuh saksi dan temuan barang bukti.

a�?Meskipun, di lapangan ditemukan diskon hingga menjulang 90 persen, itu pun sulit,a�? ungkapnya. (ili/arl/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys