Ketik disini

Headline Metropolis

Marhaban Perang Diskon

Bagikan

Jalanan utama macet parah. Pusat perbelanjaan sesak sudah. Sementara tempat ibadah kian sepi jamaah. Lebaran yang kian dekat telah mengubah peta aktivitas. Dari memburu pahala di masjid dan musala, masyarakat kini sibuk memburu fashion dan diskon. Hati-hati, jangan sampai tertipu!

***

KEMACETAN kini sudah menjadi menu harian. Kian ke sini, kian parah. Rasanya semua orang tumpah ke jalan. Berkendara roda dua, berkendara roda empat. Ekonomi Kota Mataram berdenyut kencang. Dirasakan sejak sebelum siang, hingga tengah malam.

Cakranegara adalah salah satunya. Jalan-jalan utama di sana macet total.  Mulai dari Jalan Pejanggik, lalu memutar ke Jalan AA Gde Ngurah dan berbelok lagi ke Jalan Panca Usaha. Semua penuh sesak. Sore hari dan selepas salat Tarawih adalah puncaknya.

Keramaian lain juga ada di Jalan Sriwijaya. Salah satu pusat ekonomi baru di Kota Mataram, menyusul beroperasinya pusat perbelanjaan modern terbesar di Mataram kini.

Lombok Epicentrum Mall. Jika datang sepelas salat Tarawih, mencari tempat parkir kendaraan sudah susah bukan kepalang.

Toh keramaian-keramaian ini diprediksi belum seberapa. Kian dekat Lebaran, Mataram diprediksi kian sesak. Kota ini akan diserbu orang dari berbagai penjuru. Seantero Pulau Lombok, bahkan datang khusus dari Pulau Sumbawa.

Yang dicari memang ada di sini. Nyaris menjadi kebiasaan. Berlebaran memang mestilah dengan baju baru, sarung baru, celana baru, sajadah baru, atau sendal baru.

Wajib pula menyiapkan makanan aneka rupa di rumah. Tamu-tamu yang bersilaturahmi tentulah harus dijamu. Dan Mataram, kota yang Maju dan Religius ini menyediakan semua itu.

“Saya datang mencari diskon,” kata Sulistiawati, salah seorang pengunjung Mataram Mal. Dia tengah berada di salah satu toko fashion terbesar di Mataram Mal Tiara departement Store.

Sulis mengaku, saban tahun saat jelang Lebaran, dia memang selalu berlanja fashion di Tiara.
Dia tak datang sendiri. Tapi mengajak turut serta sanak keluarganya.

“Kan kita belanja pakaiannya sekali setahun,” kata Sulis.

Semenjak tiba, mata Sulis awas. Dia memerhatikan lekat-lekat tanda-tanda yang menunjukkan barang dengan diskon paling besar.

Itulah yang diburunya. Dalam sekejap, dia pun membaur dengan pengunjung lain, yang juga memburu hal yang sama. Barang-barang diskon yang ditumpuk dibolak-balik.

Dipilih dan diteliti. Yang sudah nyantol lalu diambil. Lalu diubek-ubek lagi. Sampai menemukan yang dirasa paling baik. Pokoknya prinsipnya, barang kualitas terbaik, tapi dengan harga paling rendah.

Untuk menarik minat para pembeli, Tiara memberlakukan diskon mulai dari 20 hingga 75 persen. Ada pula belanja yang berhadiah. Setiap nilai transaksi tertentu, konsumen mendapat kupon yang kemudian akan diundi untuk memperebutkan hadiah dalam pengundian secara berkala.

“Saya cari baju sama celana buat anak saya. Mumpung suami dapat rezeki, belinya sekarang saja,” kata Rina, salah seorang pengunjung lain di bilangan Jalan Pejanggik.

Ada pula keluarga Maemunah dari Lombok Tengah. Dia datang menumpang kendaraan pikap ramai-ramai bersama tetangganya. Tujuannya adalah mencari baju di LEM.

Dia berangkat selepas berbuka puasa dari rumahnya. Langsung menuju LEM. Tidak salat Tarawih? “Salatnya nanti setelah pulang,” kata Maemunah.

“Salatnya di rumah,” kata dia. Untuk berburu fashion, dia memang memilih tidak tarawih berjamaah. Dan soal ini, Maemunah tak sendiri.

Para pembeli lain, rupanya juga memilih cara yang sama. Selain toko fashion, toko makanan pun diburu. Salah satu toko yang menjual bahan-bahan kue di Jalan Panca Usaha juga tak pernah sepi pengunjung.

Toko itu berubah menjadi tempat favorit para ibu-ibu. Silih berganti datang siang atau malam.
Tak cuma pasar modern.

Toko serupa yang menjual fashion dan makanan secara grosir di Pasar Induk Bertais, juga tak kalah ramai. Berbondong-bondong pembeli datang ke sana. Transaksi melonjak hingga di atas 100 persen, jika dibanding hari biasa. Perputaran uang meningkat pesat bukan main.

Strategi Jitu

Banyaknya pembeli, banyaknya penjual, membuat para pengelola toko meracik siasat untuk berebut simpati pembeli.

Itu sebabnya, selain fenomena denyut ekonomi yang meninggi, puasa dan Lebaran ini adalah juga ajang adu strategi. Itu sebabnya, petunjuk diskon ditebar di mana-mana. Matahari Departement Store misalnya.

Di dua outletnya di Lombok Epicentrum Mall dan Lombok City Center, diskon ditebar mencolok. Aneka rupa. Bahkan hingga 70 persen. Jargonnya jelas, Pakaian murah dan berkualitas.

”Traffic tertinggi sebelum adzan magrib dan setelah salat Tarawih,” kata Store Manager Matahari Department Store  Mataram I Putu Juniartha kepada Lombok Post, kemarin(28/6).

Lonjakan ini kata dia sudah terlihat mulai dari 10 hari sebelum lebaran. Lonjakan transaksi pun di atas 100 persen bila dibandingkan hari biasa dan normalnya.

”Biasanya sekitar tiga ribu sekarang sampai enam ribu transaksi,” ujarnya.

Pihaknya memprediksi lonjakan akan lebih meningkat lagi sekitar sepekan sebelum lebaran. Bahkan, rencananya mulai 29 Juni, Matahari akan buka lebih pagi semenjak pukul 09.00 Wita. Dan baru akan tutup pada pukul 23.00 Wita. Kondisi ini akan berlangsung sampai malam takbiran.

Juniartha mengatakan, kondisi ini sudah diperkirakan semenjak tahun lalu tatkala Matahari baru mulai membuka outlet di LEM.

”Dibandingkan tahun lalu, tahun ini lebih besar dua kali lipat baik dari transaksi maupun ketersediaan barang. Tahun ini kami sudah lengkap barangnya,” jelasnya.

Matahari Department Store yang masuk ke Mataram ini telah memantau Mataram sejak 1996. Pemantauan ini untuk mencari pasar, dan setiap tahunnya pasar terus mengalami pertumbuhan.

Matahari pun tahu persis apa yang dicari pembeli. Tentunya apalagi kalau bukan barang branded mendapatkan diskon atau potongan harga.

Beberapa jenis promo yang diberikan Matahari jelang Lebaran di antaranya diskon dan gratis dapat. Diskon yang diberikan bervariasi mulai dari 20 persen sampai dengan 70 persen. Promo gratis di antaranya beli satu gratis satu atau beli dua gratis satu.

”Biasanya promo gratis antar merk saja, atau bisa juga lintas merk,” tuturnya.
Untuk ketersediaan stok, Matahari pun sengaja menyiapkannya 10 kali lipat dari hari biasanya.

Soal adu strategi ini diakui pula Head Sales Modern Market Nasional PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) Garuda Food Group Toni Kristiantolo.

Dia mengatakan, berapapun diskon yang ditawarkan penjual, sudah pasti mereka untung. “Penjual dalam menerapkan diskon tentunya telah memperhitungkan dengan bijaksana,” kata dia.Diakuinya, diskon telah meningkatkan penjualan.

Manager Operasional Hero Supermarket Made juga mengakui hal serupa. Diskon bahkan telah menjadi agenda rutin perusahaan retail.

Dan menjadi semacam siklus yang terus berulang. Tak cuma saat Lebaran. Tapi pada perayaan hari besar umat agama lain. Atau juga pada tahun baru.

Tudingan Miring

Di tengah diskon yang diumbar, ada pula tudingan miring. Banyak yang mengatakan, langkah perusahaan yang tak mau merugi, menjadikan barang-barang diskon tersebut telah dinaikkan terlebih dahulu.

Sehingga diskon tak lebih hanya sebagai aksi mengelabui pembeli semata.Bahkan, dengan pola ini, penjual bisa meraup untung dua kali. Misalnya saja. Tadinya harga barang sebenarnya Rp 200 ribu.

Namun, karena akan diberlakukan diskon, harga barang tersebut dinaikkan dulu menjadi Rp 250 ribu. Baru setelahnya didiskon 10 persen. Sehingga penjual pun untung dua kali.

Namun, apakah benar hal ini terjadi? Made menampiknya. Kendati dia mengaku pernah pula mendengar strategi seperti itu.

Dia pun memastikan, Hero Supermarket tak pernah menerapkan metode itu. “Potongan harga di Hero tidak dinaikkan terlebih dahulu, biasanya harga tergantung produsen.

Nah, itu yang kita beri diskon,” jelas Made.
Menjual barang diskon pun kata dia ada pembelian maksimal. Sehingga pihaknya bisa menutupi kerugian harga produk.

“Kami tentu mempertaruhkan brand image kami, kalau kami menipu konsumen. Kami tak akan melakukan itu. Apalagi persaingan kini kian kompetitif,” tandasnya.

Made memaparkan, mekanisme diskon sudah ada perhitungan tersendiri antara supplier dengan peritel, sehingga bisa didapatkan potongan harga tertentu.

Tetapi memang tidak semua produk bisa diperlakukan sama. Menurutnya yang bisa didiskon adalah barang yang perputarannya cepat, baik dari sisi produksi dan perkembangan mode, seperti misalnya produk pakaian dan barang elektronik.

Mengenai profit atau keuntungan yang diperoleh, perusahaan bisa mendapatkan dari sisi produk yang lain. ”Jadi ada semacam subsidi silang. Untuk beberapa item keuntungannya tidak perlu terlalu besar, tetapi di cover dari keuntungan produk yang lainnya,” tuturnya.

Pembeli Cerdas

Apapun itu, tetap saja Kepala Biro Administrasi dan Pembangunan Ekonomi Pemprov NTB H Manggaukang Raba mengingatkan agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dan berhati-hati.

“Jangan sampai menjadi korban karena hanya tergiur potongan harga, belanja dengan hati-hati dan sesuai kebutuhan,” katanya, kemarin(28/6).

Menurutnya ada beberapa tips berbelanja cerdas yang dapat diterapkan konsumen di tengah serbuan diskon besar-besaran. Pertama memilih barang dengan hati-hati.
Saat memberikan diskon kata dia, banyak penjual bermain curang dengan mencampur barang dalam kondisi baik dengan yang sudah rusak.

Kerusakannya mungkin sangat kecil sehingga tidak bisa langsung terdeteksi mata. Misalnya sobek kecil pada pakaian. “Pedagang manfaatkan momen diskon untuk membersihkan barang-barang yang rusak dari tokonya,” katanya mengingatkan.

Saat berbelanja juga sebaiknya waktu yang cukup dan dengan budget yang ditetapkan. Ketiga, jangan membeli barang dari satu toko. Lantaran tak sedikit toko memberi diskon secara bersamaan. Ini berarti konsumen punya banyak pilihan. Jangan menghabiskan uang di satu toko karena bisa menyesal saat menemukan barang yang sama di toko lain dengan harga lebih murah.

Bisa Jadi Penyakit

Sementara itu, mencermati fenomena masyarakat yang gemar berburu diskon, psikolog Universitas Mataram Pujiarohman Rahadi mengingatkan hal itu sebagai budaya yang kurang baik. Malah, jika dibiarkan akan menjadi sebuah penyakit psikologis.

“Kalau budaya bersilaturahim saya rasa tidak masalah. Ini kan budaya konsumtif yang justru mengarah negatif,” jelas dosen muda ini.

Dikatakannya, mulai dari menjelang puasa, kebiasaan masyarakat kini sudah mulai mengkhawatirkan. Puasa yang seharusnya membuat masyarakat bisa lebih berhemat, faktanya pengeluaran malah jauh lebih meningkat. Puji sapaan akrabnya mengatakan, ada nafsu atau yang dalam istilah psikologi disebut id tidak terkontrol.

Id ini tidak terbendung ditambah stimulus dari iklan akan gaya hidup membuat kelainan psikologis masyarakat secara massal.

“Akibatnya, menjelang lebaran yang harusnya diperbanyak dengan beribadah, masyarakat ramai-ramai pindah ke mal,” katanya.

Yang lebih dinilai berlebihan, id yang tidak terkendali membuat masyarakat bertindak irasional. Mereka memiliki keinginan melampaui kemampuan.

“Banyak yang sampai rela berhutang untuk belanja lebaran. Entah itu pakaian atau perhiasan. Parahnya, hal ini sudah dianggap lumrah,” ungkapnya menyayangkan.

Dari sini dijelaskan ada sebuah masalah psikologis. Antara keinginan dan realita tidak berbanding lurus. Sehingga masyarakat tidak berlaku patologis.

Ini yang harus diantisipasi. Karena hal ini nanti akan berakibat sama seperti orang yang keranjingan media sosial. (ewi/nur/ton/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *