Ketik disini

Feature

Menanti Lalilatul Qadar, Terangi Makam dengan Dile Jojor

Bagikan

Warga Tenges-enges, Dasan Tapen, Gerung, Lombok Barat memiliki tradisi unik menyambut Nuzulul Quran dan sepuluh malam terakhir Ramadan. Dimulai dari pesta dulang kemudian berujung pada atraksi dile jojor di pemakaman. Seperti apa kemeriahannya?

***

ANTARA Magrib dan Isya, Munariah menerobos gelapnya malam. Langkahnya cepat menuju kompleks pemakaman umum di kampungnya.

Dia sendiri. Hanya berteman temaram cahaya dile jojor di tangan.A�Dile jojor itu adalah semacam obor dengan ukuran lebih kecil.

Dibuat dari buah jampung dan kapas. Seratnya dililitkan pada tusukan bambu semacam sate. A�Agar bisa menyala dile jojor dicelupkan ke dalam minyak tanah. Kata dile dalam bahasa Sasak sendiri berarti lampu.

Langkah kaki Munariah memelan. Menyisir sela-sela batu nisan. Sandal jepitnya menginjak lumut dan semak hijau yang baru tumbuh diundang hujan. Bunga-bunga kamboja berguguran di tanah, menebarkan aroma khas. Aroma pemakaman.

Sampai di salah satu makam langkahnya terhenti. Ditancapkannya di sela-sela makam sebatang demi sebatang dile jojor lain yang dibawanya. A�Lalu dinyalakannya semua dile jojor itu.

Titik-titik cahaya dari dile jojor membuat pemakaman menjadi terang. Kini nampak jelas bentuk makam yang didatangi Munariah. A�Sebuah makam dengan ukuran lebih kecil dari yang lain. Hanya dibatasi batu bata dan nisan polos tanpa ukiran.

Munariah bersimpuh. Mulutnya kemudian komat kamit melafalkan doa. Tak kuasa ia pandangi lama-lama makam itu. Di sanalah, dua buah hatinya kini berada. Terbaring setelah pergi dipanggil Sang Pencipta.

Rani dan Juaini Arramdani, dua buah hatinya, meninggal dalam usia yang masih sungguh belia. Terkenang olehnya senyum manis buah hatinya yang tidak sempat tumbuh dewasa.

Rani meninggal pada usia 8 bulan karena gangguan pencernaan. Sementara Juaini Arramdani meninggal tanpa diketahui sebabnya. A�a�?Yang besar (Juaini) tidak sakit tiba-tiba meninggal,a�? kenang wanita ini.

Untuk mengobati rasa rindunya, setiap Ramadan ia datang menengok sang anak dengan menyalakan dile jojor di atas makamnya.

Tak sekalipun Munariah absen setiap Ramadan. Hanya melalui doa-doa ia berharap anaknya bisa istirahat dengan tenang di alam barzah.

Di Dasan Tapen, tak hanya Munariah seorang yang menjalankan tradisi ini. Nyaris seluruh warga di sana melakukan hal serupa. Tradisi itu disebut sebagai maleman.

Biasanya dilakukan warga Tenges-enges, Dasan Tapen Kecamatan Gerung bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran. Dimulai pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Dan hanya pada setiap tanggal gajil bulan Ramadan mulai malam ke 21, 23, 25 atau malam ke 27.

Tradisi maleman ini diawali dengan membawa dulang berisi makanan, lengkap dengan lauk pauk untuk berbuka ke masjid.

Setelah waktu Magrib tiba, kaum pria bersama tokoh masyarakat yang telah berkumpul di masjid berdoa dan menyantap hidangan berbuka yang sudah disiapkan di dalam dulang.

Dilanjutkan dengan ceramah Nuzulul Quran dan Tarawih bersama. Sementara itu, anak-anak dan kaum perempuan mendatangi makam dan menyalakan dile jojor. Suasana kampung pun berubah meriah, terutama di pemakaman umum yang dipenuhi titik cahaya dile jojor.

Inaq Amalah, salah seorang warga Tenges-enges mengatakan, tradisi maleman ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang mereka. Sejak pagi mereka sudah menyiapkan dile jojor. a�?Biar terang,a�? kata dia.

Tradisi maleman tidak hanya sekedar untuk menyalakan dile jojor. Tetapi juga bertujuan agar warga tetap terjaga beribadah pada malam diturunkannya Alquran.

Diibaratkan iman orang yang beribadah padam malam itu semakin terang seperti malam Lailatul Qadar. (Sirtupillaili/Lombok Barat /r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka