Ketik disini

Oase

Kita Mengusir Ramadan

Bagikan

RAMADAN sebentar lagi pergi. Seperti biasa hari-hari terakhir di bulan istimewa ini tumpah dengan ragam kesibukan yang tak melulu berkait dengan esensi puasa.

Semisal kecemasan soal Tunjangan Hari Raya (THR), antrean parsel, diskon baju lebaran, kue nastar hingga letupan keriangan yang ditingkahi beduk dan petasan. Serupa dendam lama yang terlampiaskan. Orang ramai larut dalam hiruk pikuk seremoni menyambut hari kemenangan.

Tapi apakahA� sebulan ini kita benar-benar menang? A�Padahal Ramadan adalah ibadah yang sulit dimenangkan. Nabi yang mulia, Muhammad bin Abdullah sendiri menyebut perang-perang besar yang pernah beliau lalui tak ada apa-apanya jika dibandingkan puasa Ramadan. Bahkan perang Badar sekalipun.

Jika hanya sekadar tak makan dan minum hingga magrib mungkin semua bisa. Tapi bayangkanlah seluruh indra diminta tertuju pada Nya sepanjang hari dengan tak meninggalkan ragam aktivitas dunia.

Bukan sebatas bercengkrama dengan yang kuasa dalam semadi di gua-gua yang sepi. Ini lebih mirip konsep bertapa di keramaian dalam filosofi Semar.

Sementara keseharian kita adalah kota dengan segudang godaan, penuh berhala dan mungkin kita juga adalah setannya. Itulah mengapa para pemenang puasa itu istimewa.

Puasa memang ujian besar. Musuhnya adalah diri sendiri, Tuhan langsung sebagai jurinya. Rumi menyebut, ini adalah ibadah yang intim.Hanya kau dan Dia. Jadi, tak ada urusan dengan warung Bu Saeni, razia FPI atau mereka yang tidak berpuasa sepanjang siang.

Lagipula di akhir bulan Tuhan tak pernah mengumumkan apakah menerima puasa kita atau tidak. Hanya Dia yang tau juaranya.

Di Nusantara akhir Ramadan juga menampilkan potret kita, kaum urban yang setengah hatinya masih tertinggal di pedalaman masa lalu di balik-balik gunung, di pelosok kampung. Gemerlap kota rupaya tak begitu saja menghapus kerinduan untuk kembali ke udik.

Masih ada kenangan yang tersisa. Mungkin pada suasana kampung, kuburan leluhur, busuk terasi atau sekadar memamerkan segala hal yang telah didapat selama di kota.

Lalu dalam siluet senja kecoklatan, jutaan orang berdesakan di terminal, gerbong-gerbong kereta api, kemacetan Pantura hingga jung-jung kecil yang mengantar mereka menuju pedalaman.

Lebaran mengirim jutaan manusia bergerak serentak ke udik. Hari-hari itu pasar sepi, gedung-gedung kosong, kota-kota beristirahat dengan tenang.

Adapaun di jalanan semua beradu cepat. Ingin lekas sampai kampung halaman. Bahkan tak jarang jarak ribuan mil ke pedalaman itu dibayar dengan mahal.

Harga tiket yang tak ramah, kecelakaan lalu lintas, copet, penat, keringat dan lainnya. Tapi apapun itu semua patuh dan tetap menjalaninya. Demi berkumpul di hari raya, demi hari kemengan.

Dalam gambar seperti ini agama nampak menjadi ritual budaya yang melahirkan ragam seremonial belaka. Di sana ada aneka tetabuhan, sorak karnaval, kembang api, warna-warni populer yang justru jauh dari Ramadan.

Semisal kesederhanaan berbuka dengan air putih dan dua butir kurma yang dianjurkan Nabi. Alih-alih demikian, berbuka kerap menjadi a�?ajang pembalasana�? selepas lapar sepanjang hari. Di sana seluruh makanan ditumpahkan meski tak semua dihabiskan.

Lalu para kapitalis tahu betul kebiasaan ini. Dengan cepat mereka membanjiri pasar-pasar modern dengan ragam produk makanan, minuman dan lainnya tanpa perlu khawatir ditutup paksa oleh Pol PP. A�Sementara di televisi mereka sibuk menjadi setan dengan menebar rayuan lewat iklan-iklan sepanjang siang.

Hasilnya hampir pasti dapat dilihat di akhir-akhir Ramadan seperti ini. Mereka mampu menggoda dan memindahkan kita dari keheningan tempat-tempat ibadah ke pusat-pusat perbelanjaan. Letih sepanjang bulan dibelanjakan di sana. Tumpah, berebut seperti semuanya harus serba baru.

Lalu dari balik ruang kerjanya, para pemodal tersenyum puas menyaksikan kegilaan belanja kita atas nama merayakan hari raya. Jadi siapakah pemenang Ramadan? Pantaskah Kita? Entahlaha��.!A�

Penulis : Zulhakim, Jurnalis, Co Founder Semeton Ampenan

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka