Ketik disini

Headline Metropolis

Diinjak, Didigit hingga Pernah Dikira Tewas

Bagikan

Usianya masih terlalu belia, saat dia menekuni olah raga ekstrem ini. Tetapi bocah tujuh tahun itu selalu saja tersenyum. Lugu. Baginya, tidak diajak main, lebih sakit dari pada digigit, diinjak hingga dibanting kuda gagah perkasa! Ini kisahnya.

***

JIKA bicara tentang Joki (pebalap, Red) Kuda cilik apa yang terlintas dalam benak Anda? Dekil, kumal, hitam legam karena kulit terbakar matahari. Plus sedikit nakal. Atau lebih tepatnya bandel!

Sama. Tentu itu juga yang ada dalam benak kebanyakan orang. Mungkin. Sampai akhirnya, bertemu dengan bocah satu ini. Namanya, Habibi.

Sempat tidak percaya jika bocah itu yang di maksud. Tapi, bocah yang hiperakif itu mengangguk tanpa ragu. a�?Iya,a�? katanya dengan malu-malu.

Benar. Ia sepertinya masih sangat malu. Hingga tak sadar kepalanya berulang kali ia telusupkan di leher kuda sumba yang tengah dicukur oleh rekan Ayahnya. Anehnya, kuda itu diam saja. Seperti paham, itu anak majikannya.

Habibi, baru saja masuk kelas 1 Sekolah Dasar di BTN Kekalik. Tapi, jadi Joki Kuda, ia lakoni sejak ia duduk di Taman Kanak-kanak. Jika anak lain sibuk bermain dan bernyanyi, Habibi malah sibuk bagaimana cara memegang tali kekang kuda, tanpa pelana. Tanpa pengaman apapun!

a�?Ndak (takut),a�? jawabnya lagi.

Anak itu benar-benar manis. Kulitnya putih. Bersih. Bening. Tak ada bekas-bekas kulitnya terbakar matahari. Kecuali codetan besar di dada sebelah kanan. Itu bukan bekas ia jatuh. Tapi diterkam kuda yang tengah lapar!

Saat itu Ayahnya sudah mengingatkan agar ia jangan terlalu dekat. Tapi dasar anak-anak. Rasa penasarannya lebih kuat dari takut dengan ancaman ayah. Dan benar saja, belum lagi ia asyik, mengusap, mengurut hingga a�?menggodaa�� kuda itu, tiba-tiba saja kuda itu mengamuk, lalu menerkam dadanya dengan kuat. Hingga (maaf) gigi kuda itu, menancap dalam, lalu membanting-banting tubuhnya dengan brutal.

a�?Ndak, (sakit dan tidak menangis),a�? jawabnya singkat lagi.

Wajahnya masih tersipu. Ia membenarkan cerita orang-orang jika ia tak pernah menangis jika berurusan dengan peristiwa fatal dengan kuda. Baik itu digigit, dibanting, hingga pernah suatu waktu dalam event pacuan kuda, Habibi yang tengah mempimpin balapan, tiba-tiba, kudanya oleng dan terperosok jatuh. Tak pelak, tubuh mungil bocah itu, terlempar ke depan.

Dalam, sekejap, puluhan kuda di belakang menginjak-injak tubuh belianya. Apalagi ia tanpa pengaman apapun. Tak ada helm. Apalagi baju khusus.

a�?Egh, mati sudah anak saya,a�? kata Ahmad mengenang kejadian itu.

Ayah Habibi, meniru ucapannya sendiri beberapa waktu lalu, di festival pacuan Kuda yang digelar di arena pacuan Praya, Lombok Tengah, jelang Ramadan (1437 H) kemarin (12/7).

Melihat anaknya tak berdaya, diinjak-injak oleh puluhan kuda, Ahmad hanya bisa diam membeku. Di satu sisi, sebagai seorang ayah tentu ada rasa iba dan sedih melihat nasib anaknya. Bahkan ia, pun mengira anaknya sudah tewas. Tapi, di sisi lain ia sangat memegang teguh prinsip keluarga dan leluhur.

a�?Makanya saya bilang ke anak saya, lebih baik mati daripada laki-laki menangis,a�? ujarnya.

Sebuah prinsip keras. Tapi, sangat efektif membentuk karakter Habibi meski masih belia. Habibi memang tumbuh dan besar di keluarga pecinta pacuan kuda. Menariknya, bocah ini justru kerap menangis oleh hal-hal spele, seperti dikibuli atau tak jadi diajak main.

Ayahnya pun dulu adalah joki. Bahkan, dari kakeknya. Darah Joki kuda itu mengalir deras turun-temurun hingga sampai padanya. Bahkan, dari lima bersaudara, hanya Habibi yang a�?diwarisia�� kemampuan itu.

a�?Untuk jadi seorang Joki, latihan itu nomor dua. Pertama adalah keturunan (bakat dan kemauan),a�? ulas Ahmad.

Percuma memoles anak dengan latihan sekeras dan berbagai rupa teori. Jika, ternyata si anak tidak punya bakat dan kemauan. Pada akhirnya, anak itu nanti akan jadi sangat penakut. Bahkan ujung-ujungnya jadi trauma jika mengalami pristiwa yang menguras adrenalin.

a�?Habibi punya kemampuan keturunan. Jadi meski saat itu, tubuhnya dibanting, diinjak hingga kepalanya bocor, dia tidak menangis. Bahkan, bukannya takut, ia (tumbuh) semkin berani dan inginA� lagi,a�? tutur pria berperawakan kurus itu.

Kini, Habibi adalah kebanggan Ahmad. Bagi dia, prestasi kakak-kakaknya tidak begitu menarik di banding keberanian anak bungsunya. Tapi, bukan berarti ia tak sayang.

a�?Ada kakak di atas dia lagi, itu kemarin dapat juara, ya banggalah anak saya bisa berprestasi. Tapi, Habibi satu-satunya pewaris kemampuan saya,a�? ungkapnya dalam bahasa sasak.

Bocah itu, kembali tersenyum saat ditanya apa cita-citanya kelak. Ia masih malu. Tapi tangan dan kakinya tetap tak bisa diam. Ia meloncat kesana-kemari. Seperti, sangat bangga, a�?hobia��nya ada yang menghargai.

a�?Jagal,a�? jawab ia singkat, setelah didesak berulang kali.

Kami semua pun tertawa. Profesi yang sederhana, tapi menjanjikan. Bahkan itu, jauh berbeda dengan mimpi Ayahnya tentang dia suatu ketika.

a�?Kalau saya, maunya dia sekolah baik-baik. Lalu masuk pondok pesantren, lulus dan akhirnya jadi Ustadz,a�? ujarnya.

Pipinya melengkuk ke dalam, saat menghisap rokok.

Bagi, bocah itu, profesi Guru, Polisi, Tentara hingga Presiden sekalipun, tak lebih sexy dari pada jadi tukang jagal. Alasannya sederhana. Bisa makan enak dan setiap hari ada daging. Selain itu, perputaran uang di tangan juga cepat. Lagi pula, anak yang selalu tertarik melihat ternak dipotong itu, ingin cepat-cepat membahagiakan ayahnya dengan makanan-makanan enak.

a�?Mungkin ia sudah bosan jadi anak miskin dan makan seadanya, jadi ia ingin bahagiakan kami dengan jadi jagal yang selalu dekat dengan daging,a�? ujar Ayahnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Matarambersambung/r6)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka