Ketik disini

Metropolis

Jadikan Festival atau Pesta Rakyat

Bagikan

Pemerintah punya dua pilihan untuk mengemas ulang tradisi Lebaran Topat di mata budayawan. Bisa menjadi festival tahunan, atau bisa menjadi Pesta Rakyat. Dua-duanya dinilai menjanjikan untuk jadi magnet bagi para turis.

***

SABAN tahun, tradisi Lebaran Topat dirayakan dengan gegap gempita. Ribuan warga tumpah ruah ke pantai setelah ziarah ke makam para ulama. Sayang memang, tradisi yang digelar tiap tahun ini hanya menjadi seremonial belaka.

Pemerhati Budaya Lalu Ari Irawan mengatakan, dari segi sosiologis, Lebaran Topat ini merupakan masa penutupan dari rangkaian Lebaran bagi masyarakat Sasak di wilayah Lombok. Setelah Idul Fitri, dilanjutkan puasa Syawal dan diakhiriA� Lebaran Topat seminggu kemudian. Warga melakukan ziarah makam dan beramai-ramai mendatangi tempat rekreasi seperti pantai.

“Mereka berpelesir, ziarah makam kemudian makan-makan, jadi sebenarnya gathering dalam bahasa modernnya,” kata Direktur Lembaga Rowot Nusantara Lombok (Rontal) ini.

Dengan bahasa lain, kesan yang selama ini terbangun adalah Lebaran Topat hanya menjadi ajang pertemuan semua warga. Mereka melakukan ziarah makam, makan-makan dan piknik bersama. Tapi makna semangat Syawal belum terekspresikan secara tradisi.

Pemerintah pun belum maksimal dalam membangun branding tradisi ini sehingga tidak menjual sebagai salah satu ikon pariwisata budaya di NTB.

“Dalam ritu tradisi kalender Rowot Sasak, Lebaran Topat tidak masuk, tapi dalam tradisi kebaruan tradisi ini dicatat. Sehingga perayaanya tidak merata,” jelasnya.

Menurutnya, Lebarat Topat bisa di-branding ulang sebagai ikon wisata religius masyarakat Sasak. Dengan antusiasme warga yang begitu besar, maka pemerintah mestinya bisa mengemas menjadi semacam festival atau pesta rakyat.

Dimana dalam event ini bisa dipertunjukkan berbagai macam tradisi dan seni masyarakat Islam Sasak di Lombok.

“Sasak itu Islam, dan Islam itu Sasak. Sehingga semua tradisi di masyarakat Sasak ini bernapaskan Islam,” ujarnya.

Masyarakat Sasak adalah satu dari sekian banyak daerah yang merayakan Lebaran Topat. Artinya, perayaan ini sangat penting bagi warga. Sungguh sayang bila tradisi yang berkembanng di tengah masyarakat ini disia-siakan.

“Ini menjadi pembuktian (Lebaran) tidak hanya 1 Syawal tapi seminggu setelahnya juga dirayakan,” ujar Ari. (ili/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka