Ketik disini

Politika

Sebenarnya Mau, tapi Masih Malu-malu

Bagikan

Sejumlah tokoh di NTB masih malu-malu menyampaikan idenya untuk membangun NTB. Terutama mereka yang berniat maju sebagai bakal calon Gubernur NTB menggantikan TGB H M Zainul Majdi.

***

SIAPAPUN layak angkat topi atas kepemimpinan TGB HM Zainul Majdi dan H Muhammad Amin. Selama kepemimpinannya,A� beragaram prestasi baik nasional maupun internasional diraih. Tidak heran jika TGB disebut sebagai salah seorang tokoh berpengaruh selama tujuh tahun terakhir.

Secara politik, Ketua DPD Partai Demokrat NTB itu masih diperhitungkan. Terlebih dia memiliki masa fanatik berbasis Nahdlatul Wathan (NW).

Hanya saja, pada pilkada serentak 2018 di NTB, politisi muda itu tidak dapat mencalonkan kembali. Artinya, akan banyak tokoh yang mengantre untuk menggantikan posisinya.

Restu TGB pun cukup menentukan terhadap suksesi bakal calon kepala daerah terutama untuk NTB 1. Namun, hingga saat ini, TGB dengan Demokratnya belum menentukan sikap. Apalagi harus menyebut-nyebut tokoh idolanya.

Terlepas dari itu, sejumlah tokoh masyarakat dan politisi mulai bermanuver meski terkesan malu-malu. Ada yang mulai berani menyebar gambar dirinya melalui spanduk dan pamflet dengan memanfaatkan momentum tertentu.

Ada juga yang sudah terjun ke masyarakat dengan membawa program sosial kemasyarakatan.

Pengamat politik IAIN Mataram Dr Kadri mengatakan, memang seyogyanya para tokoh yang berniat maju di pilkada serentak harus mulai tampil.

Pertarungan politik menurut dia bukan seperti atlet yang harus menyembunyikan strategi sebelum berlaga.

“Memang saat ini tepat untuk beradu ide dan menampilkan diri kepada masyarakat,” kata Kadri kepada Lombok Post, kemarin (12/7).

Keterlibatan masyarakat menurut dia sangat penting agar para pemilih leluasa menilai dan mempelajari calon pemimpinnya.

Artinya, pemilih tidak lagi diposisikan sebagai objek kepentingan menjelang injury time pelaksanaan pilkada.

Tampilnya para tokoh dan politisi itu justru berdampak signifikan salah satunya memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat. Para bakal calon juga harus menentukan sikap apakah akan menggunakan partai politik, atau maju melalui mekanisme perseorangan.

Bagi Kadri, dinamika politik jelang pilkada serentak 2018 belum begitu ramai. Masing-masing pihak bahkan partai politik sekalipun seolah ogah memikirkan pilkada serentak 2018.

“Memang sih pelaksanaan pilkada serentak masih dua tahun lagi, politik itu dinamis. Tapi harus dimulai sejak dini untuk mendidik rakyat,” paparnya.

Tidak sekadar partai politik, para kandidat bakal calon kepala daerah juga harus memperhitungkan kekuatan organisasi masyarakat dan keagamaan di NTB. Berbeda dengan provinsi lainnya, politik NTB punya kekhasan dengan keberadaan organisasi masyarakat dan keagamaan.

Kadri menilai pemilih dari basis organisasi kemasyarakatan ini lebih mudah terpengaruh. Apalagi jika bakal calon yang tampil berasal dari organisasi tersebut.

Terkait dengan itu, dia memprediksi TGB sebagai central politik yang masih berkuasa akan menyiapkan kader terbaiknya sebagai penggantinya.

Banyak cara untuk menyosialisasikan diri di samping memasang pamflet atau memanfaatkan media masa. Para bakal calon kepala daerah juga dapat memanfaatkan lembaga survei yang kredibel untuk mengetahui tingkat elektabilitasnya. Termasuk mendekatkan diri dengan awak media atau konsetuennya guna menyerap informasi tentang perkembangan politik.

Sejumlah nama beredar di masyarakat yakni mantan Danrem 162/WB Lalu Rudi Irham Srigede, Ketua DPD Golkar NTB H Suhaili FT, H. Sunardi Ayub, H. Ahyar Abduh, Lalu Ranggalawe, Hj Robiatul Adawiyah, KH Zulkifli Muhadli dan H Muhammad Amin.

Selain mereka, belakangan muncul nama lain seperti H Ahmad Rusni, H Jamaluddin Malik, dan H Suhaimi Ismy.

Tidak menutup kemungkinan akan muncul nama-nama tokoh lainnya seiring KPU memulai tahapan pilkada pada 2017 mendatang.

Termasuk partai politik yang mendorong kader terbaiknya untuk bertarung di pilkada serentak 2018. (EDY GUSTAN, MATARAM*/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka