Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Subsidi Listrik Dicabut Picu Inflasi

Bagikan

MATARAM – Tekanan inflasi diprediksi akan terus terjadi di tahun ini. Inflasi tidak hanya dari kelompokA�volatile food tapi ada juga resiko tersebut dari kelompok administered price.

a�?Risiko inflasi kelompok administered price yaitu akan adanya pencabutan subsidi tarif listrik dengan daya 900 VA. Lainnya ada rencana kenaikan tarif cukai rokok,a�? kata Kepala BI NTB Prijono.

Pencabutan subsidi listrik akan berdampak bagi masyarakat yang selama ini mendapatkan subsidi. Untuk dapat kembali stabil, dibutuhkan waktu yang cukup lama.

Selain itu, tahun ini inflasi juga dipicu kondisi alam. Apalagi tahun ini, kemungkinan terjadi fenomena la nina. a�?La nina akan meningkatkan curah hujan, sehingga berisiko mengganggu produksi tanaman hortikultura,a�? terangnya.

Karena itu Prijono berharap, semua pihak berperan mengendalikan inflasi daerah. Koordinasi antara Bank Indonesia dengan pemerintah daerah disebutkannya terus ditingkatkan dalam upaya pengendalian inflasi daerah.

a�?Koordinasi antarlembaga juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan komoditas-komoditas strategis yang dapat menyumbang inflasi,a�? sebutnya.

Untuk menekan inflasi, pada awal Juni 2016, TPID Provinsi NTB bersama TPID Kota Mataram, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Provinsi NTB telah melaksanakan pasar murah. Kegiatan ini terintegrasi pada beberapa titik pemukiman padat penduduk di Kota Mataram. Komoditas yang dijual pada pasar murah tersebut antara lain beras, bawang merah, gula pasir, daging ayam, daging sapi, daging ikan, serta paket sembako.

Sehingga pada bulan Juni 2016 Indeks Harga Konsumen (IHK)A� di Provinsi NTB mencatat Inflasi sebesar 1,08 persen (mtm1), setelah pada bulan sebelumnya mencatat deflasi sebesar 0,29 persen (mtm). Inflasi NTB lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,66 persen (mtm).A�Inflasi NTB tersebut bersumber dari kenaikan harga kelompokA�volatile foodA�seperti apel, daging ayam ras, dan ikan bandeng.

Secara tahunan, NTB mencatat inflasi pada bulan Juni 2016 sebesar 4,38 prsen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei 2016 sebesar 3,24 perse (yoy). Secara spasial, Kota Mataram dan Kota Bima mengalami inflasi pada bulan Juni 2016 masing-masing sebesar 0,87 persen (mtm) dan 1,86 persen (mtm). Kota Bima menjadi kota yang mengalami inflasi kedua tertinggi dari 82 kota sampel perhitungan inflasi di Indonesia pada bulan Juni 2016, setelah Kota Pangkal Pinang sebesar 2,14 persen (mtm).

a�?Sementara itu, Inflasi tahun kalender NTB bulan Juni 2016 sebesar 1,42 persen (ytd),a�? tambahnya.

Berdasarkan kelompok komoditas, kelompokA�volatile food tercatat mengalami Inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 2,88 persen (mtm) atau 8,8 persen (yoy).A�Buah apel, daging ayam ras, dan ikan bandeng merupakan komoditas terbesar penyumbang di kelompok ini.A� Tingginya permintaan masyarakat saat bulan puasa dan menjelang Idul Fitri 1437 H menjadi faktor utama yang mendorong tekanan inflasi kelompokA�volatile food. Demikian pula dengan kelompok inti pada bulan Juni 2016 mengalami Inflasi sebesar 0,61 persen (mtm) atau inflasi 3,91 persen (yoy), yang didorong peningkatan harga makanan jadi seperti sate, ayam bakar, dan gula pasir. Kelompok inflasiA�administered priceA�mencatat inflasi sebesar 0,19 persen (mtm) atau 1,12 persen (yoy), yang didorong oleh kenaikan tarif angkutan dan tarif listrik. (nur/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka