Ketik disini

Selong

Terus Berkarya Ditengah Keterbatasan

Bagikan

Tak ingin terjebak pada stigma guru yang hanya pandai memberi arahan dan mengajar di depan kelas saja, M Khairul Ihwan memutuskan menerapkan langsung ilmunya. Itulah yang membuat kiprahnya kini diakui secara nasional.

***

a�?BUAT pelabuhanpun saya bisa,a�? katanya penuh percaya diri. M Khairul Ihwan tak sekadar bicara. Dibalik gaya bertuturnya yang seolah terlalu percaya diri ia sudah memberi bukti.

Mendapat pemasukan hingga dua miliar rupiah merupakan bukti tak terbantahkan. Dari bengkel di pelosok desa, ia kini menghidupi banyak pekerjanya.

Dengan keterbatasan alat dan mesin, ia mampu menghasilkan 100 mesin Teknologi Tepat Guna (TTG) yang A�laris dipasaran.

Terkesan sepele memang, mesin yang dibuat hanya semisal penggiling gabah hingga pemipil jagung. Namun jika diberi kesempatan, ia siap membuat yang jauh lebih besar dan hebat.

Hal itu sudah dikatakan langsung dihadapat orang-orang pusat di Jakarta yang langsung terkesima dengan pemaparannya.

Hasilnya, ia mendapat sejumlah bantuan mesin-mesin untuk menunjang pekerjannya. Kini ia bisa menghasilkan lebih banyak karya dengan mesin-mesin bantuan itu.

a�?Kemampuan saya dengan mesin-mesin ini meningkat sampai empat kali lipat,a�? katanya.

Atas sejumlah karyanya, ia juga berhasil mengharumkan nama tanah kelahirannya. Oleh XL Axiata, salah satu provider telekomunikasi terbesar di negeri ini, pria berkumis tipis itu mendapat penghargaan.

Dia menjadi satu dari delapan inovator di seluruh Indonesia yang diakui kehebatannya. Mengalahkan puluhan ribu kepala lainnya yang kala itu ikut bersaing.

Sejak masih mengenyam pendidikan S2 di UGM, ia memang sudah berfikir tentang TTG. Alasannya sederhana, tak ingin menciptakan karya yang tak bisa dimanfaatkan.

Jadilah Ihwan muda berbicara langsung pada dosennya. Dengan tegas ia mengatakan tak butuh ilmu di atas kertas.

Yang diinginkannya dari beasiswanya itu adalah mendapat praktek langsung yang bisa diterapkan di tengah masyarakat.

a�?Kalau hanya di atas kertas, sudah banyak tesis yang sampai bulan, saya maunya diajarkan yang bisa bermanfaat,a�? katanya mengulangi ucapan pada salah satu profesornya kala itu.

Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Ia mulai memberanikan diri 2009 lalu. Kala itu karya pertamanya adalah mesin penangkap asap.

Ya, menangkap asap adalah tujuannya. Bermula dari kekhawatiran melihat kondisi desa sendiri. Pringgajurang yang dikenal sebagai salah satu penghasil bata ternyata banyak menghasilkan limbah.

Bayangkan dari satu kali pembakaran bata, diperlukan berton-ton sekam dan jerami untuk membakarnya. Dari situ ia menghitung begitu banyak limbah yang dibuang ke udara.

a�?Ini tidak sehat,a�? katanya mengambil kesimpulan.

Jadilah teknologi penangkap asap. Kini warga bisa terus membuat bata tanpa khawatir berbagai penyakit akibat polusi. Sayangnya teknologi yang sudah terbukti berhasil itu tak dilanjutkan pihak lainnya.

Berhenti begitu saja, tak ada penerusnya. Sebagai penemu, ia sudah menjalankan tugasnya. Memberi manfaat lebih dari ilmu yang dimiliki.

a�?Coba saja pemerintah membuat banyak, bantu tawarkan ke swasta, kita bisa cegah banyak polusi,a�? katanya menyayangkan.

Berbagai temuan besar menurutnya bisa dihasilkan. Mulai membantu mengatasi masalah sampah hingga membuatkan kendaraan taktis untuk Satpol PP. a�?Kita mampu, tapi pertanyaannya apakah kita mau,a�? pungkasnya.

Sebagai ilmuan, ia sudah menjalankan tugasnya. Ia juga sudah menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi lebih.

Tinggal tanggapan positif dari pemerintah untuk melihat keseriusan putra daerah yang sudah diakui nasional itu. (Wahyu Prihadi/ Selong/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka