Ketik disini

Feature

Dilatih Disiplin di Eropa lewat Pilihan Transportasi

Bagikan

Yamko Rambe Yamko diyakini sedari awal bisa jadi andalan untuk memenangi kompetisi. Kesuksesan di Venezia dan empat ajang lainnya diraih lewat persiapan panjang enam bulan.

***

INSTING Avip Priatna terbukti benar. Ruangan megah di tengah Kota Venezia, Italia, itu seperti meledak begitu paduan suara perwakilan Indonesia selesai tampil. Penonton spontan berdiri dan memberikan aplaus panjang.

Yang paling membanggakan, sebagian di antaranya kencang berteriak a�?Indonesia, Indonesiaa�? pada Sabtu malam lalu (9/7) waktu setempat itu.

a�?Sedari awal kami yakin, melalui aransemen dan koreografi yang pas, lagu itu bisa dijadikan andalan,a�? kenang Avip, komposer yang memimpin kelompok paduan suara The Resonanz Childrena��s Choir (TRCC).

Lagu yang dimaksud adalah Yamko Rambe Yamko. Berkat kidung tradisional asal Papua itu, TRCC yang mewakili Indonesia meraup prestasi membanggakan.

Dua trofi sekaligus di ajang paduan suara Internasional bergengsi Claudio Monteverdi International Choral Festival and Competition sukses digondol: juara umum alias Grand-Prix Winner dan kampiun di kategori Childrena��s and Youth Choir.

Gelar juara umum di Venezia itu merupakan yang ketiga bagi Indonesia. Perolehan nilai TRCC pun sangat memuaskan, yakni 94,5, dan berhak memperoleh Gold Diploma Level II.

a��a��Di Italia ini, TRCC merupakan paduan suara dengan anggota yang rata-rata usianya paling muda bila dibandingkan dengan peserta lain lawan. Mereka kecil-kecil cabai rawit,a��a�� kata Avip kepada Jawa Pos melalui WhatsApp Selasa lalu (12/9).

Avip menuturkan, di tangan Agustinus Bambang Jusana yang bertugas mengaransemen ulang, Yamko Rambe Yamko yang pada dasarnya memang sangat dinamis itu menjadi semakin indah.

Seperti terlihat dalam video yang diunggah di YouTube, TRCC tampil begitu atraktif. Tangan dan kaki anak-anak anggota TRCC rancak bergoyang mengikuti irama pukulan tifa.

Mereka mengentakkan kaki, kemudian berjingkrak. Meski begitu aktif, suara mereka tetap stabil. Anggota paduan suara pun tetap dapat mengikuti perintah sang konduktor Devi Fransisca dengan tepat.

TRCC merupakan bagian dari sekolah musik bernama The Resonanz Music Studio di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sekolah musik tersebut dikomandoi oleh Avip Priatna.

Di sekolah tersebut, siswa bisa memilih belajar vokal, gitar, piano, selo, dan lain-lain. Untuk vokal, ada dua jenis yang diajarkan. Yakni, aliran pop dan klasik.

Nah, dalam The Resonanz Music Studio juga ada dua grup paduan suara. Untuk anak-anak, namanya The Resonanz Childrena��s Choir. Sedangkan buat kelompok dewasa, Batavia Madrigal Singers.

Pada final di auditorium Santa Margharita, Venezia, tersebut, ada tiga kategori yang dilombakan, yaitu Childrena��s and Youth Choir serta Sacred Music. TRCC berlomba di kategori yang pertama, bersaing dengan lima kontestan dari berbagai negara.

Dalam malam final itu, selain Yamko Rambe Yamko, TRCC menampilkan lagu Tancnota. Tembang karya komposer Hungaria Zoltan Kodaly itu ditampilkan pertama, gongnya baru Yamko Rambe Yamko.

Untuk mendukung penampilan, mereka berpakaian serbahijau. Tidak hanya serupa warna daun, kostum yang dikenakan 43 anak-anak berusia 9 sampai 12 tahun itu juga dibuat mirip dengan pakaian adat orang Papua. Makin manis dengan adanya corak yang menggunakan warna emas dalam busananya. Baik putri maupun putra.

Kesuksesan di Venezia tersebut tentu tidak jatuh dari langit begitu saja. Seluruh anggota tim seperti mempraktikkan pepatah lama, apa yang kamu semai akan kamu petik. Avip menceritakan, persiapannya lumayan panjang.

a�?Butuh waktu sekitar enam bulan untuk mempersiapkan semuanya,a�? katanya.

Perjuangan keras itu pun tak sia-sia. Anak-anak Indonesia selalu tampil percaya diri di semua ajang yang diikuti. Sebelum sukses di Venezia, TRCC menggondol gelar juara pertama di ajang paduan suara internasional di Bali, Hongkong, Hungaria, dan Amerika Serikat.

Menurut Project Manager TRCC Dani Dumadi, partisipasi TRCC merupakan bagian dari kegiatan tour concerts and competition bertajuk Musical Journey 2016.

Prosesnya panjang. Diawali dengan konser di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, pada 2 dan 3 April lalu. Kemudian, konser di dua kota Jerman: Hanover dan Berlin.

Di Hanover, TRCC menggelar konser di Richard Jacoby Saal, Hochschule fA?r Musik, Theater und Medien (HMTM) pada 29 Juni. Sedangkan di Berlin, TRCC tampil atas undangan konser bersama dari MA�dchenchor der Sing-Akademie zu Berlin pada 2 Juli lalu.

Untuk bisa menembus final, di fase sebelumnya, TRCCA� mengandalkan empat lagu. Yaitu, Der Wassermann karya Robert Schumann, Salve Regina karya Javier Busto, dan dua lagu yang diaransemen Fero Aldiansya, yakni 137 Hip Street dan Bungong Jeumpa, lagu tradisional dari Aceh.

Luciana Oendoen, salah seorang pengajar yang mengawal TRCC sejak awal tahun lalu, menuturkan, bukan perkara mudah menangani 43 anak sekaligus.

a�?Apalagi untuk masalah transportasinya,a��a�� kata Luci.

Sejak berada di Eropa pada akhir Juni, TRCC memang harus berpindah-pindah tempat. Tapi, mereka memilih tidak menyewa bus atau kendaraan lain. Mereka menaiki kendaraan umum.

Merepotkan memang. Tapi, pilihan itu bukan tanpa maksud. Luci dan pengajar lain ingin mengasah rasa kepemimpinan dan tanggung jawab dalam diri anak didik mereka. Apakah anak-anak itu sanggup untuk melindungi satu sama lain dan tetap utuh.

Tidak hanya belajar mengenai segala seluk-beluk nyanyian. Luci menerangkan, para pendidik memang juga melatih jiwa kepemimpinan dan kemandirian. Disadari anak-anak atau tidak, hal tersebut menjadi salah satu penilaian dalam kenaikan level mereka.

Jika dianggap mampu melindungi teman atau juniornya, dia dapat dianggap sebagai senior. a�?Dan diberi kepercayaan menjaga dan melatih juniornya untuk di perlombaan selanjutnya,a�? katanya.

Di situ barangkali salah satu kunci kekompakan TRCC hingga bisa tampil sangat prima di Venezia. Juga, membanggakan Indonesia dengan membawa pulang dua piala. (Gloria Setyvani, Jakarta/c10/ttg/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka