Ketik disini

Perspektif

Ketupat

Bagikan

SUASANA hangat Lebaran. Menikmati sajian makanan aneka rupa.

Lebaran seolah labirin waktu. Mempertemukan handai tolan, keluarga yang jauh menjadi dekat dengan momen mudik. Berkumpul bersuka cita, dan yang terpenting saling bermaafan.

Lebaran identik dengan makan-makan. Pun Lebaran Topat. Hampir di setiap rumah yang kita kunjungi untuk bersilaturahmi, panganan, kue-kue dan beraneka suguan khas lebaran tersedia.

Nampaknya perayaan Lebaran Topat yang menjadi tradisi masyarakat Sasak telah menjelma serupa pesta kuliner. Lebaran pada 8 Syawal atau tujuh hari setelah Idul Fitri ini tak kalah ramai dengan hari Idul Fitri. Menjadi ajang silaturahmi keluarga, tetangga, sahabat dan kenalan pula.

Tak cukup sampai di sana. Rangkaian acara, biasanya berlanjut dengan melakukan ziarah makam ke berbagai lokasi. Makam Para Wali, yang tersebar di beberapa lokasi di Pulau Lombok menjadi salah satu pusat kunjungan ziarah.A� Dilanjutkan dengan berwisata seharian bersama sanak famili.

Ketupat atau topat dalam bahasa Sasak, identik dengan perayaan Lebaran. Penganan yang dibungkus anyaman daun kelapa, diisi beras dan digarami secukupnya.

Tak perlu bersekolah tinggi-tinggi untuk belajar cara menganyam ketupat. Karena hampir berpuluh tahun duduk di bangku sekolah sampai perguruan tinggi, tak pernah ada pelajaran khusus untuk menganyam kulit ketupat.A� Ada pelajaran keterampilan di pendidikan dasar, itupun lebih banyak pada keterampilan menggambar, mewarnai.

Ilmu menganyam ketupat ini saya sendiri pelajari dari Almarhumah Papuq (nenek) Ibu dari Bapak. Saat saya berusia 10 tahun. Baru pada usia 15 tahun saya terampil membuatnya.

Nyaris 5 tahun prosesnya adalah bimbingan. Papuq membimbing mulai dari menjelaskan banyak fungsi daun kelapa. Selain ketupat beliau menganyam kulit penganan seperti cerorot dan tekel (bantal).

Lima tahun waktu yang dihabiskan hanya untuk belajar bagaimana merangkai kulit ketupat, sebenarnya terbilang cukup singkat.

Bagaimana tidak, tak setiap hari aktivitas menganyam kulit ketupat dilakukan. Papuk hanya sesekali menganyam kulit ketupat.

Hanya menjelang Lebaran Topat, menjadi tradisi pula dalam keluarga kami menikmatinya. Dihidangkan satu paket dengan opor ayam, opor telur berserta urapan sayur mayur.

Dengan telaten beliau akan menjelaskan dan mempraktikkan rangkaian proses menganyam sampai menghasilkan ketupat yang siap saji.

Pelajaran pertama adalah memilih jenis daun kelapa, bahan baku utama anyaman kulit ketupat. Memisahkan daun dengan lidi. daun-daun yang siap di anyam selajutnya di lap bersih, sementara lidi-lidi dikumpulkan untuk dirangkai menjadi sapu.

Panjang lebar beliau menjelaskan mengenai pola dasar membuat ketupat. Berkali kali pula beliau tekankan dalam membuat apapun hal pertama yang menjadi dasar bekerja adalah bersabar. Metode melipat dan merangkai dengan gerakan yang pelan.

Jika saya tak berhasil mengejar tahapan pola, beliau akan melanjutkan menyelesaikan anyamannya, dan meminta saya cukup dulu sampai belajar mengeratkan sembari memperhatikan detail pola anyaman ketupat.

Jika saya mulai merasaA� jenuh, dan tak sabar, beliau akan cepat berkata a�?mungkin saat memulai belajar tadi, kamu lupa berdoa dan mengucap Basmallah.a�?

Dengan begitu saya pun mengikuti anjurannya dan kami pun memulai lagi untuk menganyam dari awal. Begitu seterusnya, sampai anyaman pertama berhasil diciptakan.

Papuq adalah guru yang cukup sabar dan terampil. Tak serta merta ia bosan menjelaskan banyak hal tentang ketupat, selain menjadi pembungkus penganan. Ia jelaskan pula mengapa kami, khususnya anak dan cucu perempuan harus dapat merangkai anyaman ketupat.

Bagi Papuq, anak perempuan haruslah terampil mewarisi hal-hal yang meski terlihat sederhana namun sesungguhnya menjadi ilmu dan tradisi yang harus diwariskan kelak.

a�?Anak Gadis, kelak kalau menikah harus punya keterampilan, salah satunya ya menganyam ketupat.a�?

Jika sudah begitu, rasanya masa kecil kami termotivasi untuk sesegera mungkin belajar menganyam ketupat. Bukan hanya karena kami tertarik untuk memahaminya karena berkaitan dengan pesan tentang tantangan pernikahan.

Lebih dari itu, melihat tangan terampil Papuq menganyam banyak hal dengan telaten adalah bagian tersendiri yang menarik.

Bahkan sampai beliau meninggal saat saya berusia 20 tahun, sepertinya keterampilan itu tak pernah benar-benar saya warisi. Selalu ada yang terasa kurang. Selalu ada yang terasa rindu untuk dikenang.

Begitu pula pada Syawal tahun ini, maupun yang sudah-sudah. Ketika perayaan lebaran kita peringati, ada semacam lorong waktu yang mengantarkan kita dan sebagian besar orang seolah kembali ke masa lalu.

Ingin berkumpul dan kembali bersama orang orang yang dikasihi. Dan bagi mereka yang telah tak ada dan mendahului kita menghadap Tuhan yang kuasa.

Kita panjatkan doa, nyekar ke pemakaman mereka, menaburkan bunga, membasahi makam. Dan mengenang masa hidup serta belajar memaknai hidup dari kematian.

Kemeriahan, kebersamaan, perayaan pada akhirnya akan mengantarkan kita pada banyak hal untuk memaknai setiap hal memiliki masa dan waktu.

Harapannya pasca-Ramadan dan Idul Fitri tahun ini kita dapat menemukan sisi lain yang lebih positif dari diri kita untuk dikembangkan.

Pun sebagaimana kita berdoa dan berharap dapat dipertemukan dengan Ramadan dan Lebaran serta berkumpul dengan keluarga pada tahun berikutnya. Sembari menikmati ketupat sayur, dan banyak harapan untuk kebaikan-kebaikan ke depan kami juga ucapkan mohon maaf lahir dan batin. (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka