Ketik disini

Metropolis

Pandai Bahasa Inggris, Kerap Otot-Ototan Lawan Preman

Bagikan

Terminal Mandalika tak seperti dahulu lagi. Kini, terminal kebanggaan Kota Mataram itu, lebih sering lengang dari pada ramai. Para Biro Tiket dan Pedagang pun mulai resah. Apa sebabnya?

***

TUA sih memang. Tapi, jangan anggap remeh. Suaranya bisa lebih nyaring dari preman-preman a�?karbitana�? di Terminal Mandalika. Tubuhnya kurus. Kulitnya kisut. Tapi, dia salah satu diantara pria yang berani mengusir orang-orang bengal itu.

a�?Saya tidak suka orang-orang itu, jual tiket dengan harga tak wajar. Masa satu tiket dihargai Rp 20o ribu sampai Rp 300 ribu, padahal harganya cuma Rp 120 ribu,a�? ujarnya geram.

Ia memang tengah kesal saat itu. Tapi, tentu tidak pada semua yang menghampiri. Termasuk saat Lombok Post menyapa pria kelahiran 1957. Ketika media ini mengajaknya berbincang ringan, wajahnya berubah ramah.

a�?Saya awalnya seorang Touris Guide,a�? kata dia mengawali kisah.

Wajahnya yang tua semakin ditegaskan pakaian yang dikenakan. Lusuh. Ia sepertinya sudah matang di jalanan. Tapi, dia bukan Biro Tiket biasa. Pengalamannya sebagai Touris Guide, menambah skillnya sebagai Biro Tiket yang berbeda dengan kebanyakan. Ia punya kemampuan berbahasa Inggris yang sangat baik.

Sebenarnya, Edi lahir dari keluarga cukup berada. Ayahnya pensiunan TNI. Tapi ketika menginjak pendidikan di bangku SMA, Edi malah memilih kabur ke Bali. Kecintaanya pada dunia pariwisata, membuat ia memilih buru-buru terjun ke dunia jasa itu.

a�?Saya masuk ke dunia Pariwisata dengan melamar di hotel, saat itu akhirnya diterima di bagian Boga (memasak),a�? tuturnya.

Enam tahun ia mendalami dunia pariwisata, sampai akhirnya, usia tak lagi mengizinkan dia mengabdi di bisnis hotel. Tapi karena jiwa traveler yang masih tinggi, meski usia sudah menginjak kepala enam, ia bulat bergabung dan menjadi penjual tiket di Terminal Mandalika.

a�?Iya kemampuan ini sangat membantu saya, terutama dalam melayani touris mancanegara yang mau mau jalan-jalan dengan bus,a�? ulasnya.

Suatu ketika, dua Touris asal Australia datang ke Terminal. Mereka hendak berwisata ke sejumlah tempat, dengan menumpang Bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Berkat kemampuannya berbahasa Inggris, Edi sampai di a�?kontraka�� menemani kedua touris itu keliling ke berbagai tempat di Lombok.

a�?Sejak itu, saya kerap dicari touris luar negeri. Saya tidak tahu dari mana mereka kenal saya. Namun saya duga, dua touris sebelumnya bercerita pada rekan-rekannya,a�? tuturnya.

Tapi, kebahagiaan Edi tak berlangsung lama. Berangsur-angsur touris mancanegara mulai segan dan sepi datang ke Terminal. Ia memperkirakan itu tak lepas dari citra Terminal yang dinilai rawan aksi kriminal.

Beberapa waktu lalu, dua bule asal Australia juga pernah tertipu. Uang mereka melayang, sementara preman yang menyamar jadi Biro tiket, kabur entah kemana.

a�?Rusak citra Terminal dengan orang-orang seperti itu,a�? ketusnya.

Pengakuan jujur tentang keadaan terminal ini tak hanya diceritakan Edi. Jafar juga yang bekerja sebagai biro tiket, kerap otot-ototan dan saling ancam dengan preman karbit yang ada di sana.

a�?Saya kenal dengan mereka semua,a�? ketusnya.

Bahkan dari penuturan Jafar, tak hanya touris mancanegara yang kerap dikerjai. Tetapi sesama warga daerah pun, tak luput dari aksi kriminal para perusuh tak tahu malu itu.

a�?Dulu pernah ada warga Lombok Tengah, di paksa beli tiket. Tapi orangnya tidak mau, eh malah dimaki oleh si preman. Akhirnya keduanya pun terlibat perkelahian. Coba bayangkan, masa seperti ini terminal tipe A?a�? sindir Jafar.

Bagi Edi dan Jafar, mereka sebenarnya nyaris putus asa dengan keadaan terminal kebanggan NTB ini. Meski sudah berupaya meminta pemerintah turun tangan a�?membersihkana�� dari manusia liar itu, kenyataanya tidak berdampak apapun. Terminal tetap rawan bagi penumpang.

a�?Saya selalu berupaya, agar penumpang yakin bahwa terminal ini nyaman dan aman, termasuk pada para touris, (harus) optimis (bisa baik suatu ketika),a�? harapnya.

Sebenarnya, lanjut Edi jumlah preman takl terlalu banyak. Hanya beberapa orang. Dia yakin, orang baik yang menginginkan terminal itu aman, jauh lebih banyak. Sayang selama ini mereka memilih diam dan tak mau ribut.

a�?Mereka masih bisa dihitung jari, tapi karena senang bikin ribut, jadi kesannya seolah-olah banyak. Padahal masih jauh lebih banyak orang baik di sini,a�? ketusnya.

Usaha Edi dan Jafar, menciterakan terminal Mandalika aman dan nyaman, masih terus berlanjut hingga kini. Meski, mereka kadang ragu, entah kapan semuanya kembali seperti dulu. Terminal ramai, penumpang pun bisa hilir mudik dengan tenang. Tanpa memasang wajah resah, dengan memegang erat dompet dan tas.

a�?Bagaimanapun ini adalah tempat kami cari makan, kami mau tempat ini kelak lebih baik, aman, nyaman dan kembali ramai pada penumpang seperti dulu,a�? tandas Edi.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram*/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka